
Cahaya mentari mulai menyusup dicelah-celah jendela kamar Luna, Suara burung pun terdengar seperti lantunan melodi, saat gadis itu baru saja membuka matanya." Hoam..." Sambil menguap gadis itu mengambil jam yang berada diatas meja kamarnya." Ahh, Astagaa...sudah jam Tujuh." Luna segera turun dari ranjang.dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri.
TOK...TOK...TOK...
"Lun kamu udah bangun belum…" Perlahan Wina membuka pintu kamar Luna yang ternyata pintu tersebut tak terkunci.
" Luna kamu dimana?" Wina mencari Luna disekitar kamar namun ia tak melihat sosok gadis tersebut didalam sana.
" Iya, ada apa Win? Aku lagi dikamar mandi." Sahut Luna yangasih berada didalam kamar mandi.
" Ohh, aku kira kamu belum bangun. Aku tunggu dimeja makan ia." Ujar Wina kembali.
" Ok". Teriak Luna dari dalam kamar mandi. Wina segera keluar dari kamar Luna untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.
Luna buru-buru menyelesaikan mandinya dengan cepat. Kemudian mempersiapkan dirinya, agar ia tidak terlambat dihari pertama masuk kelas pelatihan tersebut.
" Lun, udah selesai belum? Lama banget sih" Teriak Wina dari lantai dasar.
" Iya…iya... Ni aku sudah selesai." Luna turun dengan tergesa-gesa lalu menghampiri Wina yang sedari tadi menunggunya diruang makan.
" Ni makan dulu sarapannya." Wina menyerahkan piring yang sudah tersaji makanan khusus untuk Luna.
" Loh, ko aku makan ini?" Tanya Luna yang melihat menu sarapan yang dibuat oleh sahabatnya.
__ADS_1
" Iya emang itu, Pak Saga memerintah kan aku untuk menjaga pola makan kamu. Biar kamu gak makan sembarangan lagi. Kalau aku tidak patuh, gaji ku dipotong dengan dia." Ucap Wina sambil mempraktekan gaya Saga.
" Tapi kan dia gak ada disini. Lagian kamu gak kasian sama aku iya." Luna memperlihatkan wajah memelasnya dihadapan Wina.
" Gak, dari pada aku potong gaji lebih baik aku nurut sama dia. Liat tuh ada camera dimana-mana." Ujar Wina yang menunjuk kearah kamera.
" Apa?! Ia ampun…sebenarnya ini rumah apa tempat karantina." Luna merasa terkejut saat melihat camera di ruangan tersebut. " Dari kapan kamera ada dirumah ini?" Tanya Luna sambil menatap kearah Wina.
" Sebelum kita pindah kemari. Angga bilang Pak Saga sengaja memasang camera untuk memantau kegiatan kita. Jadi kita gak boleh macam-macam dibelakang dia." Ujar Wina sambil berbisik.
" Emang dia naro kamera dimmana saja?" Tanya Winna kembali.
" Semua ruangan, kecuali kamar mandi dengan kamar pribadi ku.hehehe." Jawab Wina sambil memperlihatkan deretan giginya.
" Kalau kamar kamu Pak Saga masang camera khusus yang aku dengan Angga juga gak tau disimpan dimana." Jawab Wina kembali.
Luna merasa Saga telah kelewat batas, sampai kamarnya pun dipasang camera olehnya. " Tidaaaaak..." Teriak Luna. Luna menutup wajahnya dan mulai panik, seketika itu wajahnya memerah. Karna saat ini dirinya merasa malu sekaligus kesal oleh lelaki itu.
" Kenapa…? " Tanya Wina yang juga terkejut dengan teriakan tersebut.
" Tadi aku keluar kamar mandi cuma pakai pakaian dalam aja. Gimana ini?" Ujar Luna yang mulai panik. Ia mengingat ketika dirinya baru keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakankan pakaian dalam saja, karna lupa membawa handuk.
Wina tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Luna." Lagian sih kamu ceroboh." Ujar Wina.
__ADS_1
" Kan mana aku tau kalau kamar ku disadap oleh dia." Jawab Luna yang wajah nya kini mulai memerah.
" Iya sudah, sekarang kamu sarapan dulu. Liat udah jam berapa tuh." Wina menyuruh Luna untuk segera menghabisi sarapannya.
Dengan wajah lesu Luna terpaksa menyantap sarapan yang telah disediakan oleh sahabatnya tersebut. " Semangat dong, ko lesu sih." Ledek Wina yang masih senyu sambil memainkan kedua alisnya.
" Tau ah." Ucap Luna yang kesal terhadap sahabatnya tersebut.
Beep... Beep...
Dari Luar terdengar suara klakson mobil. Wina segera berlari kearah luar, disana ia melihat sebuah mobil mewah telah terparkir dihalaman rumah. " Siapa tuh..." Luna yang sudah berada dibelakang Wina merasa heran dengan kehadiran mobil tersebut. Ia berpikir jika itu adalah Saga.
" Gak tau." Jawab Wina singkat. Kaca mobil perlahan dibuka, disana terlihat seorang lelaki dengan pakaian rapih serba hitam. Lelaki tersebut pun keluar dari dalam mobil. " Saya Bayu, saya disini diperintah oleh Pak Saga untuk menjemput non Luna.
Luna diam sejenak, dirinya merasa takut jika lelaki tersebut adalah seorang mafia yang akan menculiknya seperti cerita yang sering ia baca didalam Novel." Kamu beneran suruhan Pak Saga?" Tanya Luna memastikan kembali.
"Ia bener Non, kalau non gak percaya, non bisa hubungi Pak Saga langsung". Jawab lelaki tersebut dengan sopannya. Luna menatap kearah Wina, tetapi Wina hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Kemudian Luna mengeluarkan ponsel miliknya dari dalam tas, namun saat ia mau menghubungi dilayar ponsel tersebut terdapat satu pesan dari Saga yang mengatakan bahwa ia telah memerintahkan seorang supir bernama Bayu untuk mengantar serta menjemputnya selama latihan. Dan diakhir kalimat Saga juga menuliskan pesan agar Luna tidak memperlihatkan tubuh nya kepada lelaki lain selain dia kemudian lelaki itu memberikan gambar emotion orang yang sedang mencium diakhir kalimatnya.
" Ish, Dasar mesum." Gumam nya. Dirinya merasa sangat malu sekali dengan perkataan Saga, sampai-sampai wajahnya kini menjadi merah kembali seperti kepiting rebus. Luna segera memasuki mobil tersebut kemudian ia juga menyuruh Wina untuk hati-hati dalam menjaga rumah. Dan mobil pun melaju keluar.
__ADS_1