
BRAM PROV
"Papah kapan Yumi bisa ketemu ante Una lagi." Tanya Ayumi dengan tatapan penuh harap. Pertanyaan tersebut membuat Bram merasa serba salah." Hmm, papah juga gak tau. Memang Yumi suka dengan tante Luna?" Tanya Bram." Cuka banget, ante Una sayang Yumi. Dia juga gedong Yumi." Jawab anak itu dengan cepat. Bram hanya menghela nafas, tanpa banyak bicara lagi.
" Papah…papah… Yumi mau ante Una jadi mamah Yumi." Ujar anak itu,
"A apa? Gak gitu dong. Tante Luna kan sudah ada om Saga. Papah gak bisa jadikan tante Luna mamah. Ditambah kita juga baru saja kenal." Ujar Bram yang berusaha memberikan penjelasan kepada anaknya.
Ayumi terlihat marah, kedua tangan nya pun dilipat, dan bibirnya sengaja ia majukan. Bram tersenyum kala melihat anaknya. Dengan gemas ia pun mengusap lembut pucuk kepala anaknya itu." Awas, jangan pegang-pegang kepala Yumi. Yumi lagi marah sama papah." Ujar anak itu. Sehingga membuat Bram lagi-lagi tertawa dibuatnya.
Bram tak sengaja melirik kearah belakang melalui spion nya, disana ia melihat mobil jeep warna hitam yang sedari tadi mengikutinya." Hmm, ko mobil itu dari tadi ngikuti terus ia." Ucap Bram dalam hatinya. Ia kemudian segera menambah kecepatan laju mobilnya. Melihat mobil incarannya menambahkan kecepatan, orang yang berada didalam mobil jeep pun ikut menambahkan kecepatan.
Sambil menyetir ia memasangkan sabuk pengaman kepada Ayumi. Lelaki itu tidak ingin jika terjadi hal yang membahayakan anaknya. Tiba-tiba tanpa diduga dari arah belakang mobil jeep tersebut sengaja menabrakan diri kearah mobil yang dikendarai oleh Bram. Sehingga suara benturan pun terdengar sangat keras dan membuat Bram kehilangan kendali.
__ADS_1
BRAAK !!!
Kini mobil Bram terjungkal setelah ia berusaha membanting stirnya. Seorang lelaki tersenyum dari dalam mobil jeep tersebut, kemudian ia pun pergi meninggalkan kejadian tersebut. Dengan tenaga yang masih tersisa Bram melihat anaknya yang masih selamat berada didalam Booster seat. Bram segera keluar dari dalam mobil dan mengeluarkan anaknya yang sedang menangis.
Diantara kerumunan warga Bram mendengar suara seorang wanita yang memanggil anaknya. Ia wanita tersebut adalah Luna. Mendengar namanya dipanggil Ayumi yang sedang menangis pun menoleh kearah sumber suara. Ia merasa senang karna kehadiran Luna." Ante Una cakit." Tangis anakitu sambil memegangi kepalanya yang sakit." Iya ampun mas, kepala kamu berdarah." Ujar Luna yang melihat darah dikepala lelaki tersebut." Gak apa-apa, ini hanya luka ringan." Jawab Bram sambil terkekeh. Sambil tersenyum Bram terus memandangi wajah Luna." Ahh, kenapa kita harus berjumpa lagi." Batin lelaki satu anak tersebut. Kini Bram mulai merasakan kehangatan serta getaran didalam hatinya ketika melihat sikap Luna yang sangat perhatian kepada anaknya tersebut.
"Sini om obati." Ujar Saga yang sudah berada disamping Luna. Bram merasa terkejut dengan kehadiran Saga. Ia menatap kearah Saga sambil tersenyum canggung. Kemudian dengan cepat Bram pun mengambil Ayumi dari gendongan Luna.
"Shutt, Yumi dengan papah aja ia." Ucap Bram yang berusaha menenangkan anaknya didalam dekapannya.
"Sudah gak apa-apa ko mas, aku yang bawa Ayumi ke Rumah Sakit terdekat untuk periksakan dia." Ujar Luna. Kemudian gadis itu pun kembali menggambil Ayumi dari gendongan Bram.
"Iya sudah kita segera bawa Ayumi ke Rumah Sakit." Ujar Saga dihadapan Bram.
__ADS_1
"Baiklah, makasih banyak atas bantuannya. Setelah aku menyelesaikan semua ini, aku akan menyusul kalian." Ujar Bram. Luna tersenyum kearah Bram kemudian membawa Ayumi masuk kedalam mobil.
Bram terus memandangi kepergian Luna, kemudian ia tersadar ketika mendengar suara batuk yang dibuat oleh Saga." Iya sudah, kita bertemu kembali di Rumah Sakit." Ujar Saga.
" Iya, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih banyak atas bantuannya." Ucap Bram sambil membungkukan badannya. Saga pun pergi lalu menyuruh Angga agar segera membantunya memasuki mobil.
"Seandainya kamu belum memiliki dia." Ujar Bram dalam Hati. Kemudian Bram dengan cepat menyelesaikan urusannya agar ia bisa segera berjumpa dengan putrinya, walau darah yang berada dipelipisnya keningnya kini sudah mengering.
Dilan tempat tawa seorang wanita bergema didalam kamarnya. Ia merasa puas mendengar laporan dari suruhannya tersebut." Bagus, aku akan menambahkan kamu bonus jika perkataan mu itu benar. Bahwa Bram dan anaknya itu mati." Ujar wanita itu dalam sambungan selulernya.
"Tenang aja bos, aku sudah pastikan sendiri, kalau mobil yang dikendarai mereka itu terjungkal setelah menabrak pohon." Ucapnya.
"Bagus kalau begitu, aku akan mentransfer bonus untuk kalian." Kemudian wanita itupun segera menutup ponselnya.
__ADS_1