
Setelah menempuh setengah perjalanan kini Angga mencari tempat untuk beristirahat sejenak, karna ia merasa lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan panjang." Bos, kita istirahat dulu ia." Ujar Angga yang langsung memarkirkan mobilnya disebuah mini market. " Sudah sampe mana nih." Wina terbangun dari tidurnya dan melihat sekeliling." Masih jauh yang. Ada yang mau kamu makan?nanti aku belikan." Ujar Angga sambil membenarkan rambut kekasihnya tersebut." Aku ikut aja deh." Wina kemudian membuka pintu mobil dan keluar menghampiri Angga. " Bos, mau nitip sesuatu?" Tanya Angga. " Nanti saja kita cari rumah makan." Ujar Saga.
" Oke..." Kemudian Angga serta Wina berjalan memasuki mini market untuk membeli stok makanan dan minuman buat bekal perjalanan menuju kota J yang lumayan jauh.
" Hoam...eh maaf pak." Luna langsung membenarkan duduknya, suasana pun terasa canggung saat dirinya melihat cairan saliva yang sudah membasahi bahu Saga." Kenapa ko diam saja?" Tanya Saga. Lelaki itu menahan senyumnya kala melihat gadis dihadapannya sedang tertunduk malu. " Itu, baju bapak kena..." Luna menghentikan perkataan nya, ia merasa takut untuk memberi tahunya. " Oh ini, gapapa cuma keringat ajako." Ujar Saga, ia tidak ingin gadis itu merasa malu dan bersalah. " Masa sih…" Dengan penasaran Luna ingin mencium baju milik Saga, Di sisi lain, Saga segera menundukan kepalanya untuk menghindari penciuman gadis itu, namun tanpa disengaja kini kedua bibir mereka pun bersentuhan. " Ma maaf pak." Kemudian Luna mengalihkan pandangan nya kearah jalanan.
ANGGA PROV
" Yang jawab dengan jujur deh, sebenarnya Saga itu beneran bangkrut apa nggak sih?" Kini Wina menanyakan kembali prihal Saga kepada kekasihnya tersebut. " Memang kenapa kalau Bos kita itu bangkrut? Kamu menyesal menjodohkan sahabat mu dengan dia?" Tanya Angga sambilmengerutkan dahinya.
" Bukan seperti itu, aku gak masalah mau Saga itu orang ada atau gak ada, yang penting kan Lunabahagia. Tapi masalahnya..." Wina menghentikan perkataan nya. Karna didalam benaknya ia merasa kasihan terhadap sahabatnya tersebut. " Masalahnya kenapa?" Tanya Angga penasaran. Ia juga ingin mengetahui secara mendalam sifat dari kekasihnya tersebut. " Kamu takut kalau Bos bakalan jadi beban untuk Luna?" Kini Angga mulai meninggikan sedikit suaranya. " Bukan itu...ko jadi kamu yang sewot sih." Wina mulai merasa kesal dengan Angga yang mulai membentaknya. " Lalu apa? Jika aku yang diposisis bos aku apa kamu mau nerima aku apa adanya?" Ucap Angga.
__ADS_1
" Loh ko jadi kita yang ribut, aku cumakhawatir aja kalau nanti kedepan nya Luna kenapa-kenapa. Kamu liat sendiri paman nya Saga aja berani menarik harta milik Saga tanpa belas kasian, ditambah Mira. Sekarang Wajah sahabat ku yang lecet, Nanti apa lagi." Wina merasa kesal dengan kekasihnya tersebut. Kemudian ia segera pergi meninggalkan Angga yang sedang berdiri di dekat rak minuman. " Yang tunggu, kamu mau kemana?" Angga segera menyusul Wina yang mulai marah.
"Kemobil lah terus ngapain." Ucapnya ketus.
" Katanya laper mau makanan." Ucap Angga yang berusaha meraih tangan kekasihnya itu. " Gak jadi, udah kenyang." Jawab Wina kesal.
" Yang tunggu." Sambil berlari, Angga masih berusaha membujuk kekasihnya tersebut. Namun saat melihat Wina menuju kearah mobil ia kembali kedalam untuk membayar makanan dan minuman yang sudah ada didalam keranjang tersebut.
" Siapa?" Tanya Saga dari arah belakang Luna. Hembusan nafas lelaki itu membuat leher Luna merasa geli, Sontak aja Luna langsung memiringkan kepalanya.
" Kenapa?" Tanya Saga kembali. " Ng ngak apa-apa." Jawab Luna sambil nyengir kuda. Luna segera menggeser posisi duduknya untuk menghindari hembusan nafas Saga.
__ADS_1
Dari arah Luar Wina membuka pintu mobil kemudian ia menutup pintu tersebut dengan segera. " Kamu kenapa? Kaya dikejar-kejar setan aja." Tanya Luna yang melihat wajah kusut sahabatnya itu. Bukannya menjawab justru Wina diam tanpa meloleh kearah Luna. Tak lama Angga pun memasuki mobil dengan membawa makanan dan minuman untuk bekal perjalanan. Saat Luna ingin menanyakan prihal sahabatnya tersebut kepada Angga, Saga dengan cepat memberikan isyarat agar Luna tidak banyak bicara. Gadis itu pun langsung diam dan kembali duduk di kursinya." Oh iya bos barangkali mau minum dengan makan. Kebetulan aku membeli ini untuk perjalanan kita." Angga memberikan sekantong keresek berisi makanan dan minuman yang ia beli.
Untuk mengalihkan ketegangan diantara kedua pasangan Angga dan Wina, Luna berinisiatif untuk menggantikan Angga untuk menyetir mobil." Oh iya, mending pak Angga istirahat aja. Biar saya yang nyupir." Ucap Luna, kemudian dirinya keluar serta menarik Angga dan mendorong lelaki itu sehingga ia terjatuh tepat disamping Saga.
"Hei?!" Angga ingin keluar dari mobil, namun Luna sudah lebih dulu untuk menginjak gas. Sehingga dirinya mengurungkan niatnya.
"Pegangan yang kencang ia...!!!" Teriak Luna sambil tertawa. " Argh...!!! " Teriak Saga dan Angga secara bersamaan. Sedangkan Wina sedari tadi hanya berpegangan kuat kepada sabuk pengaman yang sudah sedari tadi ia pasang. Luna melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat kedua pria yang berada dibelakangnya merasakan ketakutan.
"Sebaiknya kamu berenti sebelum mencelakai kita semua." Ucap Saga yang mulai merasa cemas.
" Tenang aja pak, aku pernah bawa mobil ko." Jawab Luna dengan santai. Kemudian ia melirik kearah Wina dan mengedipkan sebelah matanya ke arah sahabatnya tersebut. Wina hanya tersenyum dan merasa puas dengan tindakan Luna.
__ADS_1
"Pernah kata mu, Kamu pikir nyawa kita mainan apa?" Kini Angga mulaiangkat bicara. Saga tidak menyadarinya, jika kini tangan Angga menggenggam erat diatas pahanya." Tenang aja, yang penting nyawa kalian akan baik-baik aja ko dan masih berada ditempatnya." Jawab Luna sambil tertawa.