
Sepanjang perjalanan anak itu terus saja mengoceh dan bercerita, sesekali ia selalu menanyakan apa saja yang ia lihat sepanjang jalan. Luna tertawa ketika mendengar cerita anak tersebut, tanpa sadar kini dirinya tengah diperhatikan oleh Bram dari bangku depan melalui kaca yang berada diatasnya.
" Ayumi suka cerita ia? Kebetulan nih, tante Luna juga hoby cerita." Ujar Wina melirik kearah Luna. Saga merasa tak suka dengan ucapan Wina, kemudian ia pun segera mengalihkan percakapan tersebut dengan sebuah cerita yang ia buat." Om Saga juga bisa cerita, Yumi mau dengar gak?" Tanya Saga kepada anak tersebut. Dengan antusias Yumi pun menganggukan kepalanya. Wina dan Luna pun saling bertatapan tak percaya. Ternyata seorang Saga bisa bercerita juga.
" Ada seorang perempuan, ia sangat cantik sekali. Selain cantik dia juga baik sama siapa saja. Sehingga suatu hari perempuan itu bertemu dengan seorang..." Luna segera menghentikan cerita Saga." Tunggu...tunggu, kamu lagi cerita apa mas? Ayumi kan masih kecil." Ujar Luna yang merasa aneh.
"Aku mau cerita seorang anak perempuan yang sangat cantik yang jatuh cinta dengan seorang pria. Kaya cerita putih salju gitu." Jawab Saga tanpa bersalah sedikit pun. Angga yang sedari fokus menyetir kini tertawa terbahak-bahak." Bos-bos, masa ia Ayumi disamakan dengan anak usia lima belas tahun sih. Atau jangan-jangan Bos mau menceritakan kisah Bos dan Luna." Perkataan Angga sontak saja membuat Saga kesal lalu memukul bahu lengan asistennya tersebut.
"Apa itu benar mas? Mas gak lagi cemburu kan?" Tanya gadis itu sambil setengah berbisik kearah Saga.
Saga hanya bisa terdiam tak bersuara sedikit pun. Kemudian Luna pun meraih tangan Saga." Hehehe, jangan diem aja dong, Ayumi kan anak kecil, masa mas cemburu sama anak-anak." Ujar Luna." Aku bukan cemburu sama anak itu, melainkan sama bapa anak itu." Ucap Saga dalam hatinya. Sekilas Saga tak sengaja menatap mata Bram yang sedang memperhatikan gerak gerik mereka.
__ADS_1
Saga segera mengecup kening Luna,"Kamu tenang aja, aku bukannya cemburu melainkan sedang membayangkan kalau kita sudah mempunyai anak." Wina pun terbatuk mendengar perkataan Saga tersebut. Sedang kan Luna dengan cepat mengalihkan wajahnya dan segera menatap Ayumi kembali.
Didalam hatinya Saga merasa puas karna ia bisa membuat Bram mengalihkan pandangan nya dari mereka berdua.
" Ante Una Yumi antuk." Kini Ayumi mulai menguap sambil mengucek kedua matanya." Yumi ngantuk ia, sini papah peluk." Bram mencoba meraih anaknya, Namun, Ayumi hanya ingin dipeluk oleh Luna seorang. Dengan sigap Luna pun mendekap anak itu dan mengelus lembut punggung serta kepala Ayumi dengan lembut." Kalau kamu cape, biar aku saja yang gendong Ayumi." Ucap Wina dari belakang. Luna hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata.
Bram sesekali melihat kearah Luna untuk memastikan keadaan anak nya,"Jika kamu cape lebih baik Luna dengan saya saja." Ujar Bram mengingatkan Luna." Gak usah, nanti malah bangun lagi." Jawab Luna yang masih mengelus pucuk kepala anak itu. Setelah menatap Luna sesaat kini Bram kembali kepada posisi duduknya. Ia tak peduli jika Saga sedari tadi terus saja menatapnya. Bagi Bram Luna adalah sosok wanita yang sempurna untuk jadi seorang ibu serta pendamping.
"Aww" Rintih Saga
" Kamu kenapa mas?" Tanya Luna yang mulai khawatir.
__ADS_1
"Mataku sepertinya kemasukan debu." Jawab Saga dengan berpura-pura mengucek kedua matanya.
"Jangan dikucek, sini aku tiup." Luna pun menyerahkan Ayumi kepada Wina, kemudian ia memajukan wajahnya untuk bersiap meniup. Wajah gadis itu semakin mendekat, membuat tubuh lelaki itu semakin kaku dan jantungnya berdetak tak beraturan. Luna memegang wajah Saka kemudian "Chup" Dengan gerakan cepat Saga segera mengecup bibir gadis itu.
Luna yang merasa terkejut langsung memukul bahu Saga. Sedangkan lelaki itu hanya terkekeh sambil meremas tangan Luna.
" I Love You sayang." Bisik Saga kepada Luna. Gadis itu terpana dengan perkataan Saga. "Ia ampun baru kali ini dia mengungkapkan perasaan nya pada ku." Ucap luna didalam hati, Wajah gadis itu semakin memerah kala Saga mengecup kening nya dihadapan Wina.
"Ehem, gak apa-apa ko lun anggap aja aku sebuah patung." Ujar Wina kepada dua insan yang sedang dimabuk cinta tersebut. Luna hanya bisa tersenyum malu." Wah ada apa nih?" Tanya Angga. Wina ingin memberi tahu kekasihnya itu namun Luna dan Saga dengan cepat mengancam Wina. Sehingga ia tak jadi memberi tahu kekasihnya itu." Gak apa-apa ko yang." Ucap Wina sambil menahan tawanya.
Berbeda dengan Bram, ia merasa kesal kala Saga mulai mencium Luna. Iya, lelaki itu melihat segalanya "Kenapa, aku merasa kesal ia." Batin Bram.
__ADS_1