
SAGA PROV
Ketika melihat kedekatan Luna dengan anak perempuan tersebut jujur saja aku merasa kesal. Bukan karna anak tersebut melainkan terhadap Bram. Tatapan lelaki itu sangat mencurigakan saat pertama kali menatap wajah Luna. Seperti ada perasaan suka didalam dirinya. "Mas kenapa? Ko bengong aja sih dari tadi."
"Oh gak apa-apa ko." Jawab ku singkat. Gadis itu pun tersenyum ramah kepada ku, kemudian ia melanjutkan menyuapi anak kecil itu. Sesekali ia mengusap mulut mungil anak itu dengan lembut. " Dia memang calon istri sekaligus ibu yang baik. Gak salah aku memilih dia." Ucap ku dalam hati.
"Mas kenapa sih dari tadi liatin aku terus? Ada yang salah ia dengan penampilan ku?" Ujar gadis itu. Dan aku tersenyum sambil menggelengkan kepala.
" Tau gak Bos sepertinya lagi mengagumi mu Lun." Angga yang sedari tadi sedang asik bersama kekasih nya kini ia malah sibuk mengomentari perasaan ku.
" Urus saja urusan mu." Ucap ku kesal. Luna pun tersenyum, sedangkan Wina ku lihat dia mencubit bahulengan Angga.
__ADS_1
" Bapa, eh_maksud ku mas ceburu ia dengan Ayumi?" Ucap nya sambil menertawai ku." Siapa juga yang cemburu. Aku cuma lagi membayangkan jika anak kecil yang berada dipangkuan mu adalah anak kita. Aku akan sangat bahagia." Perkataan ku membuat gadis itu tersedak, wajah nya pun menjadi merah seketika. Tanpa sadar aku tertawa terbahak-bahak." Eh, bukan nya itu Bram ia?" Perkataan Wina membuat ku langsung menoleh seketika. Benar saja lelaki itu datang lagi." Huh, bikin bad mood aja." Gumamku. Untung saja Luna tidak mendengarkan keluhan ku. Kalau tidak dia akan menertawai ku kembali.
Lekaki berjalan menghampiri kami, namun sesekali matanya menatap kearah Luna dan anaknya." Huh, suasana disini kenapa berubahjadi gerah ia?" Ujar Angga dari arah belakang ku. Aku langsung menoleh kearahnya dan ku lempar tissu yang berada ditanganku.
"Maaf lama iya?" Ucap lelaki tersebut. Aku hanya diam saja, tanpa merespon ucapannya tersebut. Lelaki itu mulai memandangi Luna, Matanya mulai berbinar kala ia melihat anaknya nyaman berada didalam dekapan Luna." Ehem…" Aku mencoba menyadarkan lelaki itu dengan berpura-pura batuk. Dan kupersilakan dia untuk memesan makanan yang ada direstauran tersebut. " Tidak ko, kami juga belum lama disini. Silakan mau mesen apa?" Ucap ku sambil menyodorkan menu yang ku pinta dari salah satu pelayan disana." Tidak makasih, aku cuma mau minum jus jeruk saja." Ujar lelaki itu tanpa melihat buku menu yang ku pegang.
Segera kuberikan kembali buku menu tersebut kepada pelayan, dan memerintahkan kepada pelayan untuk membuatkan pesanan tersebut. Saat mereka sedang asik berbincang-bincang ku lihat Bram menatap tajam Luna dan tersenyum penuh arti ketika melihat anaknya dekat dengan calon istri ku. Ia Luna mulai hari ini adalah Calon istriku, Mungkin aku Egois, tapi inilah aku. Aku tidak ingin wanita yang aku inginkan jatuh kedalam pelukan lelaki lain lagi. Aku bertekad setelah kita sampai di kota J aku akan melamar dan langsung menikahinya. Agar Bram tidak mendahului ku.
Bram masih menatap sendu pada Luna. Tak lama kemudian pesanan milik lelaki itu pun tiba." Silakan di minum." Ujar ku dengan sengaja meninggikan suara. Bram pun menoleh kearah ku dan ia langsung mengalihkan pandangan nya.entah karna gugup atau merasa bersalah karna telah berani menatap kepada gadis ku.
"Tidak, mobil ku sengaja ditabrak oleh seseorang. Entah apa motif mereka, yang pasti aku dan anak ku selamat dari kecelakaan tersebut." Jawab lelaki itu sambil mengingat kembali kejadian yang baru saja menimpanya.
__ADS_1
"Iya ampun, Mas Bram liat wajahnya gak?" Tanya Luna. Lagi-lagi gadis itu memanggil Bram dengan sebutan Mas kembali, sehingga membuat hati ini terasa sakit.
" Nggak, kaca mobil dia terlalu gelap untuk dilihat dari luar." Jawab lelaki itu kepada Luna.
"Kamu punya masalah dengan yang lain? Misalnya rekan bisnis atau yang lainnya?" Kini giliran ku yang bertanya.
" Aku rasa tidak, selama ini hubungan ku baik itu dengan rekan bisnis atau yang lain nya biasa saja." Jawab lelaki itu sambil mengernyitkan alisnya. Aku diam sejenak,"Baiklah, jika kamu butuh bantuan ku jangan sungkan." Lelaki tersebut merasa terkejut dengan perkataan ku, Kemudian dari arah depan Luna sengaja berpindah duduk tepat disamping ku dan tersenyum manis. Aku mencoba menggenggam tangan gadis itu erat-erat, tanpa adanya perlawanan dari nya.
"Makasih atas perhatian nya." Ujar lelaki itu dengan tatapan tak suka ketika melihat ku menggenggam tangan Luna." Huh, sekarang kamu bisa lihat jika Luna hanya menyukaiku." Batin ku. Namun tanpa diduga kini Luna menawarkan tumpangan untuk lelaki itu dan anaknya.
" Gimana kalau mas Bram ikut saja dengan kita. Benarkan mas?" Ujar gadis itu dengan senyuman manisnya. Tentu saja aku bingung dibuatnya. Satu sisi aku enggan satumobil dengan orang tersebut, Tapi disatu sisi lagi aku tidak bisa menolak dengan segala permintaan gadis itu.
__ADS_1
"I_ya, kamu pulang bareng kita aja. Kebetulan kita satu arah." Ucap ku ragu-ragu dan berharap lelaki tersebut menolaknya.
" Baiklah kalau begitu, maaf sudah merepotkan kalian." Jawab lelaki itu dengan cepat. Kubelalakan kedua mata ku tak percaya," Sial, kenapa dia menyetujuinya." Gumam ku kesal. Kemudian Angga menuntun Bram dan anak nya untuk segera memasuki mobil. Luna yang tersenyum membantu mendorong kursi roda milik ku menuju mobil, kemudian Angga dengan sigap membantu ku menaiki mobil.