
Saga sesekali menatap wajah Luna yang sedang cemberut. " Seharusnya aku yang marah,tapi kenapa dia...".
" Kenapa mas liatin aku terus?" Luna menatap tajam kearah Saga dengan melipat kedua tangan nya. " Emang masalah kalau aku menatap wajah calon istri ku sendiri? Lagian kamu kenapa pergi gak ijin aku terlebih dahulu?"
" Untuk apa aku harus minta ijin,mas kan belum jadi suami ku." Ucap Luna dengan ketus. " Ia sudah,besok kita langsung nikah." Ujar Saga dengan santainya. " A_pa?! " Luna membulatkan matanya ke arah Saga.
Saga pun tertawa melihat wajah gadis tersebut. " Mas becanda ia?" Luna. Mengerutkan kedua alisnya. " Untuk apa mas becanda." Ucap Saga yang mengecup punggung tangan gadis tersebut.
__ADS_1
DEG..!!! Luna merasa malu sekaligus bahagia. Namun ia sedikit merasa khawatir akan keadaan Saga yang sekarang. Bukan karena Saga yang berpura-pura tak bisa jalan,melainkan perseteruan nya tehadap paman nya tersebut. " Kamu kenapa diam aja? " Saga mengangkat kedua alisnya. " Ng_gak ko. Pulang yuk." Ujar Luna. Saga pun tersenyum dan memerintahkan Luna untuk mendorong kursi rodanya. " Huh, dasar manja." Gumam Luna. " Jangan kira aku gak dengar ia." Ucap Saga. Kemudian mereka pun tertawa bersama.
Bram bersama anaknya sudah berada ditempat parkir, " Pakai sabuk nya ia sayang." Ujar Bram dengan penuh kasih sayang. Sepanjang perjalanan Ayumi anak dari Bram masih saja bercerita tentang Luna. Ia pun menyuruh Bram untuk menjadikan Luna sebagai mamih nya. " Hmm, itu gak mungkin sayang." Ujar Bram menghela nafas. " Kenapa? Ante Una mau telima papah untuk jadi teman ko."
" Ia tapi cuma teman,bukan untuk jadi mama kamu sayang." Jelas Bram. Ayumi merasa tak terima,ia pun masih mengajukan beberapa pertanyaan untuk Bram. Sehingga lelaki itu merasa frustasi dibuatnya. " Ahh,kenapa tambah besar kamu jadi banyak bicara." Gumam Bram.
BRAAAK...!!!
__ADS_1
Kaca mobil dari arah lawan mulai dibuka,kemudian salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah senjata api dan mulai menembak kearah Bram. Mendengar suara tembakan Ayumi yang berada didalam pun menjerit ketakutan. Bram segera membanting stir nya. Untung saja Bram bisa menghindari tembakan tersebut.
LUNA PROV
" Astaga mas,aku lupa tadi aku janjian ketemuan di Restauran favorit kita." Ujar Luna yang sudah berada didalam mobil milik Saga. " Biar saja, Angga akan menyusul Wina setelah urusan nya selesai. " Tapi motor ku gimana?" Tanya Luna kembali. " Tenang nanti ada yang bawa pulang." Jawab Saga dengan santai.
DREET..DREET...
__ADS_1
" Siapa?" Tanya Saga . " Bram, ada apa ia." Gumam Luna penasaran. Karna tak biasanya lelaki itu menghubunginya berkali-kali. Luna menatap kearah Saga yang sedang menyetir kendaraan nya dengan wajah memohon. "Ada apa?" Tanya Saga. " Bram telephone, aku boleh angkat?" Ucap Luna. "Angkat saja." Ucap Saga yang tersenyum lembut kearah Luna. " Beneran?" Tanya Luna yang merasa tak yakin dengan sikap Saga. " Ia,angkat aja. Siapa tau penting." Ujar Saga. Kemudian Luna melihat ponsel miliknya yang mana panggilan tersebut telah berakhir. " Kenapa? Ko diam aja. " Ujar Saga. " Udah mati." Luna memperlihatkan layar ponselnya kepada Saga. " Ia sudah telephone lagi aja,siapa tau anak kecil itu merengek pada Bram." Ujar Saga. Luna pun tersenyum kearah Saga,kemudian ia mencoba kembali menghubungi Bram.
Lama panggilan itu tak diangkat,namun saat panggilan kedua dari sebrang sana pun terdengar suara tembakan kembali. Dan jeritan dan tangisan anak kecil tersebut menggema membuat Luna panik. " Kalian kenapa? Suara apa itu?" Ujar Luna yang mulai panik. Melihat Luna yang mulai panik kini Saga mengambil alih ponsel tersebut. " Tolong selamatkan Ayumi." Bram menahan rasa sakit akibat peluru yang menembus bahunya. Kemudian Bram pun memberikan lokasi keberadaan mereka berdua. Saga dengan segera menginjak pedal gas mobilnya menuju lokasi Bram dan Ayumi.