
Matahari sudah mulai menampakan sinar indahnya..
Rahma menggeliatkan badannya dan mulai membuka mata perlahan dan duduk..
"sudah pagi sepertinya aku tidur baru sebentar"gumam Rahma kemudian berjalan menuju kekamar mandi..
setelah 10 menit Rahma keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah pintuu
"kenapa dikunci "kata Rahma kembali mencoba membuka pintu
"kak kak Alven buka pintunya kak"Kata Rahma sambil mengetuk pintu
"kak tolong buka pintu kak"teriak Rahma
bik Nur yang kebetulan sudah ada disana mendengar suara Rahma.. dan berjalan menghampiri Asal suara tersebut
"non ini nona Rahma?"tanya bik Nur dibalik pintu
"bik bik Nur "kata Rahma dengan wajah tersenyum
"iya non saya bik Nur"kata Bik Nur
"bik tolong buka pintu bikk"kata Rahma
"sebentar non saya panggilkan tuan muda dulu"kata bik Nur
"iya bik terimakasih"kata Rahma
"syukurlah sekarang disini ada bik nur"kata Rahma dalam hatinya
tok ..tok..tok..
"tuan muda "panggil bik Nur
Alven menggeliat dan bangun dari tempat tidur membuka pintu..
"bik Nur sudah datang"kata Alven
__ADS_1
"iya tuan muda..
tuan muda maaf tadi non Rahma minta dibukakan pintu sepertinya nona Raham terkunci didalam"kata Bik Nur
"hmm ..
bik Nur lanjutkan saja kerjanya dia biar aku yang urus"kata Alven
"baik tuan..saya permisi"kata bik Nur berjalan meninggalkan Alven
Alven mengambil kunci kamar Rahma kemudian berjalan kearah kamar Rahma
Alven membuka pintu kamar Rahma
"Kak Alven"kata Rahma
Alven tidak menjawab Rahma dan masuk kedalam kamar Rahma dan menutup pintu
"mulai hari ini kamu tidak akan keluar dari kamar ini.."kata Alven
"kenapa aku harus memberi tahu alasannya kepadamu ..
memangnya kamu siapa hah?"kata Alven dengan tatapan tajam
"tapi kak aku istri kak Alven..
kenapa kakak setega ini dengan Rahma"kata Rahma dengan suara bergetar menahan tangisnya
Alven tersenyum sinis
"apa istri ??
kamu tidak lebih dari pembawa sial"kata Alven
"cukup kak..
kalau memang kak Alven menganggapku pembawa sial ceraikan saja aku kak..
__ADS_1
agar aku bisa pergi jauh dari hadapan kakak"kata Rahma
"tidak semudah itu..
aku akan membuat hidupmu hancur setelah aku puas aku akan melepaskanmu"kata Alven berjalan keluar dari kamar Rahma dan kembali mengkunci pintu kamar tersebut
"tidak kak buka pintu kak Alven"kata Rahma dibalik pintu sambil mengetuk pintu dengan kencang
Alven tidak menghiraukan suara Rahma dia kembali kekamarnya dan langsung membersihkan badannya
"kenapa ada rasa sakit membiarkanya menangis"kata Alven dalam hatinya dengan menyentuh dadanya..
setelah 20 menit Alven keluar dari kamar dan menuju ke meja makan..
"bik Nur.."panggil Alven
"iya tuan"kata Bik Nur
"mulai sekarang jangan sampai Rahma keluar dari kamar itu..berikan saja dia sedikit makanan kalau perlu makanan sisa"kata Alven sambil menyuap makanannya
bik Nur menatap Alven
"tapi kenapa tuan..?"tanya Bik Nur
Alven menghentikan makannya dan menatap bik Nur
"dia itu wanita pembawa sial bik Nur..karena dia lah mama dan juga ayahku meninggal"kata Alven
bik Nur hanya bisa menarik nafas panjang
"baiklah tuan"kata bikNur
Alven kembali melahap makanannya dalam diam
"kenapa tuan muda bisa begitu tega..
kemana tuan Alven yang dulu.."kata Bik Nur dalam hatinya..
__ADS_1