
...**...
Tiba di rumah, Mama Shuwan dan juga papa Wei sudah tidak sabar menantikan kepulangan putri sulung mereka. Tidak bisa diam walau hanya sebatas duduk.
Wusan, dia sudah pening melihat kedua orang tua nya yang mondar-mandir dan kalau di hitung mereka seperti itu sudah hampir satu jam.
"Ma, Pa!" Tegur Wusan kembali tapi mereka seolah tuli.
Sampai di mana suara knalpot mobil terdengar masuk ke pekarangan rumah. Sepasang suami istri itu berlarian menuju teras rumah.
Wusan pun ikut berlari, dia juga penasaran siapa yang datang.
"Aaaaaaa kakak"
Wusan, dia malah yang paling antusias. Dia menerjang kaki kedua orang tua nya yang masih berdiri di ambang pintu.
"Wusan" Yuma sedikit melangkah panjang dan langsung membawa Wusan ke dalam pangkuan nya.
"Kakak kemana saja ? Aku merindukan kakak !" Wusan memeluk erat leher Yuma. Senyum Yuma terlukis indah walau mata sedikit merah hendak menangis.
"Yuma" Mama Shuwan ikut memeluk Yuma.
"Ma" Suara rendah Yuma tertahan, dia menahan tangis nya. Mama Shuwan meletakan kening nya di kepala, air mata nya terus saja tumpah.
"Hiks,,, hiks,, bagaimana kabar mu nak ?!" Ucap Mama Shuwan dengan isakan nya. Papa Wei pun ikut memeluk dan menenangkan istrinya.
"Ma, biarkan putri kita masuk dulu, kasihan dia !" Tukas papa Wei.
"Wusan ayo kakak yang gendong !" Gary mendekat mengambil alih tubuh Wusan dari dekapan Yuma.
Mereka pun masuk bersama.
Kehadiran Yuma kembali membuat seisi ruang keluarga hangat, obrolan mereka nampak menyenangkan. Sama sekali tidak ada yang membahas tentang Daniel, benar-benar tidak ada yang menyinggung walau hanya sedikit.
"Ma, Pa" Ucap Yuma. Tawa mereka terhenti seketika dan beralih menatap Yuma. Yuma sejenak diam seakan mengatur nafas untuk siap berbicara kembali.
"Kau lapar ? Atau butuh sesuatu ? Biar papa yang bantu" Papa Wei lebih dulu bertanya. Yuma menggeleng, buka itu yang hendak dia katakan.
"Ada apa, Yuma?!." Gary ikut bertanya, mereka berempat pun saling lempar tatap menunggu jawaban dari Yuma.
"Kak, antar aku ke rumah sakit ! Aku akan menemui Daniel"
Ucapan Yuma tentu bukan main, dia memutuskan untuk ke sana alih-alih menyelesaikan masalah. Tentu saja keempat orang dewasa di sekitar nya menahan nafas, mereka diam sejenak.
"Kau mau menemui Daniel ? Kakak tidak salah dengar, 'kan?!." Xian memastikan.
__ADS_1
Yuma menggeleng pelan. "Tidak salah kak, aku memang benar berniat menemui nya !." Ujar Yuma. Pasang mata menyelidik, menatap tidak percaya.
"Tidak perlu jika masih tidak ingin, Yuma !." Mama Shuwan menggenggam tangan Yuma. Yuma menatap mereka terutama pada Gary, yang bagaimana pun dia tidak ingin ada yang terlibat masalah apalagi Gary akan menikahi adik dari Daniel.
"Yuma kau yakin ?." Papa Wei masih bertanya, dia yakin kalau putrinya itu belum siap.
"Hahaha kalian ini kenapa ? Aku baik-baik saja, tenang lah !," Yuma heran untuk itu dia reflek tertawa dan meyakinkan orang tua nya jika dirinya memang baik-baik saja.
"Papa akan mengantar mu !." Papa Wei beranjak berdiri hendak bersiap mengantar.
"Pah hahaha ayo lah ! Pa aku tidak apa-apa, aku bisa sendiri!" Yuma sedikit geli dengan tingkah konyol ayah nya.
Papa Wei pun duduk kembali.
"Kakak saja yang antar, ayo!." Timpal Gary.
"Kak" Tegur Yuma. "Aku bisa sendiri ! Aku bisa berangkat sendiri jadi kalian berdua pulang saja atau jika perlu kembali ke kantor, lihatlah ini sudah hampir jam berapa dan direktur perusahaan aku tidak percaya jika sesenggang ini." Seru Yuma dengan keras kepala nya.
"Tapi Yum.... "
"Aku tahu kalian khawatir, aku sangat tahu itu ! Tapi Ma, Pa, kak, percayalah pada ku, eum !." Tukas Yuma.
Tidak ada yang menyahuti, beberapa detik kemudian papa Wei angkat bicara.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan mu ! Pakai mobil papa saja, hari ini papa bekerja di rumah dan sampaikan salam papa pada Daniel jika dia sudah sadar"
"Kalau begitu aku pergi dulu" Yuma beranjak berdiri, papa Wei melarang mereka mencegah dan pada akhirnya Yuma pun pergi.
"Pa ! Kenapa papa membiarkan dia pergi seorang diri ? Pa mama sangat khawatir" Mama Shuwan melanjutkan kekesalan nya.
"Ma kita serahkan pada putri kita, Papa yakin dia masih mampu ! Jika tidak mampu dan keadaan sudah tidak terkendali bukan kah dia masih memiliki kita di sekitar nya."
Gary dan Xian nampak mengangguk, mereka berdua setuju dengan ucapan Papa Wei.
...**...
"Shen kau masih di sini ?" Selidik Daniel karena mendapati Shen masih saja muncul dari balik pintu masuk. Daniel melorotkan tubuh nya perlahan agar bisa tiduran kembali.
"Ini, aku bawakan buah untuk mu ! Dokter mengatakan tidak apa-apa makan yang penting jangan terlalu banyak karena usus mu masih belum pulih,"
"Aku tidak lama, setelah ini akan kembali ke kantor ! Tadi Mama dan Erina bilang akan ke sini setelah menemui desainer yang akan mendesain gaun pengantin Erina. Oh iya satu lagi, itu Xena sudah aku urus !."
Shen meletakan buah dengan rapih di atas nakas dengan mulut yang terus berbicara seperti seorang wanita yang sudah memiliki pengalaman mengurus orang sakit.
"Sudah ?" Seru Daniel menandakan dia ingin istirahat dan tidak mau lagi mendengar Shen mengoceh.
__ADS_1
"Iya ini juga sudah ! Istirahat yang banyak, jangan nakal dan bertindak macam-macam jika tidak aku pukul kau dengan sapu lidi !." Terus saja mengoceh, berjalan mundur dan memperingati.
"Shen" Suara Daniel yang beroktaf membuat Shen ngacir, membalikkan badan nya dan berlari ke arah pintu.
Kini hanya dirinya sendiri di dalam ruangan, setelah papa Chen pergi tadi Daniel nampak semakin tidak terbaca. Ucapan papa nya sedikit mencubit ulu hati nya, perkataan itu sangat real dengan apa yang dirinya lakukan dan dirinya rasakan.
"Daniel, pria macam apa kau ini ?." Gumam nya, mengumpat pada dirinya sendiri dan untuk dirinya sendiri.
Ternyata cermin yang berada di dalam kamar nya bukan kurang besar ataupun kurang jelas tapi cermin itu tidak menggambarkan keaslian pada objek yang berdiri di depan nya.
Cermin itu hanya memberi tahu hal yang berada di permukaan saja, tidak menembus hati apalagi jantung. Benar dan akan selalu benar walau bayangan dalam cermin mengatakan dengan gerakan bibir nya bahwa apa yang di lakukan dan diputuskan oleh sang pemilik objek adalah salah.
Yuma tiba di rumah sakit, dia bertanya dulu kepada administrator yang ada di depan. Setelah mendapat informasi, salah satu perawat memandu Yuma ke ruangan vvip yang di tempati oleh Daniel.
"Ini ruangan nya"
Setelah sekitar lima menit lamanya, Yuma pun sampai di depan pintu yang di tunjukkan oleh sang perawat.
"Baik lah terimakasih ya, 'sus !" Ucap Yuma dan perawat itu pun kembali ke pekerjaan nya.
Di tatap nya pintu itu, Yuma tarik ulur tangan nya pada pegangan pintu sesekali mengintip dari kaca yang berada di tengah pintu itu.
"Huffhhh"
Yuma tarik nafas berulang kali, dia menetralkan tatapan nya, meregangkan otot jari jemari nya agar tidak bergetar dan melunakkan rahang nya agar tak menegas. Wanita itu berusaha untuk tidak emosi kala melihat wajah Daniel dan itu sudah dia persiapkan dari awal berangkat tadi.
Klekk...
Dengan keberanian dan keteguhan yang sudah terkumpul, Yuma pun mendorong pintu itu dengan sangat pelan dan hati-hati.
Di dalam gelap, hanya diterangi oleh lampu sekitar 15watt, gorden tertutup rapat sehingga terkesan jika pasien tidak menyukai sinar mata hari, entah silau entah kenapa yang pasti di dalam ruangan itu seperti sudah malam hari.
Tap..
Tap..
Tap..
Yuma melangkah, tempat ranjang pasien belum terlihat karena di saat membuka pintu ruang kamar mandi lah yang terlihat. Yuma terus berjalan sesekali mengedarkan pandangan nya.
Suara alat medis terdengar di telinga, begitu tenang dan berirama. Yuma terpaku, dia mendapati Daniel tengah terpejam. Kondisinya memprihatinkan, wajah nya tak lagi berisi apalagi berotot, kurus kering walau masih ada tonjolan otot di sebagian tubuh nya.
Yuma menghampiri, melihat Daniel dari atas kepala sampai kaki. Air mata nya menggenang di pelupuk, perasaan baru beberapa hari tidak bertemu tapi perubahan Daniel begitu menyedihkan menurut Yuma.
Yuma duduk di kursi samping berangkar, perlahan meraih tangan Daniel dan akhirnya dia genggam. Walau masih tidak terima tapi Yuma mengesampingkan itu, niatnya setelah pernikahan Gary dan Erina, dia akan mengajukan surat cerai dan sekarang dirinya akan berusaha menjadi istri yang baik untuk beberapa hari ke depan.
__ADS_1
...***...