Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 88


__ADS_3

Telpon pun terputus, pembicaraan antara anak dan ibu itu pun usai.


Yuma, dia pun ke luar kembali menapaki jalan yang mulai membasah karena gerimis mulai turun tanpa di prediksi.


Baru saja berjalan beberapa langkah, seseorang tengah membidik tas milik Yuma dengan sangat teliti dan hati-hati.


Tidak di sangka ternyata menjambret tas Yuma sampai tali tas terputus saking kuat nya tarikan, Yuma pun terhempas begitu saja.


"Copet" Teriak Yuma bergegas berdiri, berlari sekuat tenaga mengejar copet itu.


Orang-orang yang tengah hilir mudik pun kaget, mereka tidak sempat menghentikan copet itu karena berlari sangat cepat seperti seorang parkour.


"Copet"


Yuma terus berteriak sangat kencang, berlari kencang dengan sekuat tenaga, untung dia sering olah raga untuk itu lari berlari tidak aneh untuk nya.


Yuma meraih bola Voly yang tengah di pegang oleh segerombolan anak-anak sekolah.


"Kak jang.... an"


Seru salah satu anak itu namun dia dan teman nya menganga kala bola itu di lempar dan mendarat tepat di kepala copet yang lari itu.


Brughh...


Copet itu tersungkur, menabrak bot bunga besar yang berdiri tepat di depan nya.


"uaahhh hahahaha hebat"


"Iya dia hebat sekali, lemparan nya sangat tepat"


Anak-anak itu antusias dengan teknik lemparan Yuma.


Nafas Yuma sedikit normal, dia membuang nafas dan sesekali meniup rambut yang berhamburan menutupi kening nya.


Yuma pun berjalan kasar mendekati copet itu, copet itu meringis kesakitan karena kaki nya tertimpa besi yang tidak sengaja di senggol.


"Sudah cukup, kemari kan tas saya !" Yuma berdecak pinggang, masih mengatur nafas nya dan langsung merebut tas milik nya dengan paksa.


"Mau kemana ?." Yuma menahan kaki copet itu dengan injakan sedikit saat hendak kabur tanpa melepaskan tas milik Yuma.


"Aaaa lepas ! Dasar perempuan gila" Sentak nya dengan perkataan kasar.


Tangan Yuma menarik baju copet itu sehingga du berdiri perlahan.


Manik mata Yuma perlahan menajam, cengkraman nya semakin kuat dan menyempit.


"Gila ? Saya ?," Ucap Yuma dengan nada suara di tajam kan namun sedikit rendah dan bulat. Mimik wajah pun seakan menantang.

__ADS_1


"Tahu gila tapi kau berani mencuri tas saya ? Tch tch pria bodoh". Seringai tajam menghiasi wajah, pencopet itu seketika tertegun.


"Pergi" Yuma dengan kasar mendorong pria itu sampai kembali terjatuh. Tidak di sangka, berpikir pencopet itu hendak melawan namun ternyata jauh dari perkiraan. Pencopet itu lari terbirit-birit seperti tikus yang tak sengaja berpapasan dengan lawan nya.


"Kak"


Yuma menoleh dan mendapati segerombolan anak-anak tadi mendekati dirinya dan bola voly yang tadi dia lempar sudah di pungut kembali.


"Makasih ya bola nya ! Maaf tadi pinjam sebentar" Ucap Yuma dengan tawa kecil nya seraya membersihkan celana dan baju nya.


"Kak, lemparan tadi sangat hebat sekali ! Boleh ya aku belajar lemparan seperti itu" Ucap remaja laki-laki itu sangat antusias berharap keinginan nya terkabul.


"Iya kak, ajarin kami dong !,"


"Oh iya, kakak bisa main Voly ? Atau baseball atau semacam nya kah ? Tadi sangat keren sekali" Timpal remaja yang lain dan sepertinya mereka satu tim.


"Itu hanya kebetulan mungkin ! aku tidak bisa main-main seperti itu, tapi kalau bela diri masih bisa di coba" Ucap Yuma ikut ke dalam obrolan anak remaja itu agar nyambung.


"Aku ada urusan, bye bye"


Tanpa ingin berlama-lama, Yuma pun bergegas pergi meninggalkan remaja-remaja itu yang masih sangat antusias.


...**...


Sampai Yuma di hotel, tepatnya langit sudah menggelap saat dia tiba di sana.


Kebetulan, Liam pun baru saja turun ke lobi dan melihat keberadaan Yuma.


"Dari mana ? Apa kau membutuhkan sesuatu ?" Tanya Liam tanpa ragu dan terlihat melebur batasan dan kecanggungan agar lebih dekat dengan adik sepupu dari teman nya ini.


"Dari luar mencari udara segar !, Terimakasih tapi saya tidak membutuhkan apa-apa sekarang," Ucap Yuma.


Gary memperhatikan penampilan Yuma dan akhirnya mata nya terhenti pada tas kecil milik Yuma karena tali nya terputus.


"Itu kenapa ? Ada apa dengan tas nya ? Coba saya lihat"


Liam hendak meraih tas Yuma, namun sayang, wanita itu tidak membiarkan tangan Liam sampai.


"Tidak kenapa-kenapa ! Jika tidak ada hasxxbsvablsl plfbclenting maka saya pamit pergi,"


Yuma pun berjalan melewati tempat berdirinya Liam.


"Tapi sepertinya besok saya memerlukan bantuan anda, tuan ! Bisakah ?!." Ucap Yuma.


Liam membalikkan badan nya penuh. "Bantuan ? Boleh sekali ! Besok temui saya di ruangan kerja saja" Suara Liam terkesan beruntung.


"Oke ! Terimakasih sebelum nya, jika begitu saya pamit ke atas lebih dulu."

__ADS_1


"Panggil Liam saja" Tukas nya. Yuma pun mengulas senyum dan berlalu pergi.


Tatapan mata Liam masih terpaku pada punggung Yuma, membidik dan mengamati sesekali menggelengkan kepala nya pelan dan tidak luput juga senyum timbul di permukaan.


"Gar, gar, adik mu dingin sekali !" Gumam Liam sesaat setelah melangkah ke luar lobi.


...**...


Semua isi dalam tas kecil itu Yuma keluarkan dan merapihkan kartu-kartu milik nya mulai dari kartu identitas sampai kartu debit-kredit.


Black card, ya kartu itu terjatuh dan Yuma enggan untuk memungutnya namun setelah puas menatap akhirnya jari jemari Yuma meraih nya.


Ya, kartu kredit itu pemberian dari Daniel dan sejak Yuma menerima nya tidak pernah satukalipun dia gunakan.


"Aku tidak membutuhkan ini" Kartu itu Yuma masukan ke dalam laci terpisah dengan kartu debit-kredit milik nya.


...**...


Keesokan harinya, langit pun masih gelap namun sekitar satu jam lagi akan terbit mentari.


Yuma, dia pun bersiap-siap hendak pergi ke toko kue yang akan dia beli.


Jam menunjukkan pukul enam pagi, itu berarti pegawai toko masih belum datang. Sambil menunggu Yuma turun ke bawah untuk renang, sepertinya segar untuk tubuh di pagi hari.


Fasilitas elit hotel itu memang sudah menghipnotis mata semenjak kedatangan Yuma.


Suara air yang di timpa tubuh terdengar mencebur dan tumpah ke mana-mana.


Setelah puas dengan renang nya, Yuma pun membalut tubuh nya dengan kimono setelah mengeringkan dengan handuk.


Kembali ke kamar dan merapihkan diri.


"Sepertinya dia sudah tiba" Gumam Yuma.


Resepsionis yang sekarang di tuju oleh Yuma untuk bertanya di mana kantor kerja Liam.


"Ruangan pak Liam ada di lantai xx, di sana kantor staf hotel dan tidak jauh di sebelah kanan kantor pak Liam berada" Tutur resepsionis itu dengan sopan dan tertata.


Yuma pun bergegas agar tidak terlalu siang mengunjungi toko nya.


Lift berhenti di lantai sembilan dan saat pintu terbuka terlihat staf-staf bagian office berlalu lalang. Dinding terbuat dari kaca itu membuat penglihatan Yuma tembus pandang sehingga terlihat jelas aktifitas semua orang.


Terlihat kebingungan mencari ruangan Liam, salah satu staf di sana pun bertanya.


"Maaf kak, bisa saya bantu ? Sepertinya anda bukan pegawai di sini, terlihat dari kebingungan dari mata anda" Ucap salah satu staf di sana dan benar saja, Yuma bingung harus ke mana lagi mencari kantor Liam.


"Terimakasih sebelum nya,"

__ADS_1


"Saya sedang mencari ruangan pak Liam !" Ucap Yuma.


"Pak Liam ? Oh, mari saya antar !"


__ADS_2