
...***...
Hubungan Daniel dan Yuma semakin hari semakin membaik, tapi tidak ada dari mereka yang tahu rencana dari Yuma sebenarnya. Mereka tidak tahu tangis Yuma dalam diam, mereka pun tidak tahu bagaimana kedua mata indah itu harus melihat wajah pria yang menyakiti nya dengan cara berbeda.
Besok pernikahan Erina akan di gelar, dekorasi sederhana dan tamu yang datang hanya dari kerabat dekat saja. Awal nya keluarga Gary tidak menyetujui tapi apalah daya mereka yang akan nunduk jika Gary sudah memutuskan.
Sekiranya sudah tiga hari Yuma pulang dan keadaan tenang itu yang terlihat, sikap Yuma yang baik-baik saja tidak menjadikan kecurigaan muncul di dalam benak, mereka terutama Daniel kira jika Yuma memang sudah baik-baik saja.
"Ma, aku pamit sebentar ya !" Yuma menghampiri ke dekat kolam karena ibu mertua nya tengah duduk sambil membaca majalah keluaran terbaru bersama dengan Erina sesekali tawa kecil terdengar.
Mama Ella dan Erina bergegas berdiri dan mendekat. "Mau kemana ? Mama ikut ya !" Reaksi mama Ella sangat kentara, dia takut Yuma tidak pulang lagi sepertinya, untuk itu berinisiatif.
"Uuh ? Oh mama apa-apaan, hahaha ! Aku hanya akan ke rumah Mama Shuwan dulu sebentar dan pulang nya akan ke kantor, tapi sepertinya ke toko kue dulu. Aku di antar sama supir pribadi papa kok, Ma !."
Bikin geleng kepala, Erina pun hanya tersenyum geli dengan reaksi mama nya. "Kakak Ipar tidak akan kemana-mana, Ma! Sudah biarkan pergi saja!." Erina merangkul lengan mama nya dengan manja.
"Tap,,,,, "
Suara klakson pun masuk, mobil Papa Chen sepertinya sudah sampai.
"Nah, sepertinya sudah sampai ! Ma, aku pamit ya"
Tidak sampai di situ, Mama Ella pun ikut mengantar ke depan bersama dengan Erina.
"Benar mobil papa, Ma" Ucap Erina.
"Mama hanya takut saja. Bagaimana jika nanti Yuma tidak kembali lagi ? Membayangkan nya saja sudah mengerikan apalagi jika terjadi!." Ujar nya masih memperhatikan badan mobil yang di tumpangi Yuma masih belum melewati gerbang, setelah tak terlihat mereka pun kembali masuk.
...**...
"Pa, tunggu sebentar ya !" Ucap Yuma kala dirinya telah sampai di depan rumah Orang Tua nya. Sopir itu mengangguk mengerti.
__ADS_1
Entah apa yang di lakukan Yuma di dalam yang pasti dia sekarang sudah kembali ke luar dan terlihat oleh dua mata sang supir yang di perintahkan untuk mengawasi.
Pintu mobil kembali tertutup saat Yuma sudah kembali duduk di dalam kabin mobil.
"Pak kita ke toko kue" Ucap Yuma.
Tidak memakan waktu lama, Yuma pun sampai di depan toko kue yang sudah lama tidak dia kunjungi.
"Kak Yuma" Anran berteriak dari balik dinding kaca saat nampan berisi cake di atas nya telah di letakan di atas meja pembeli.
Gadis itu berlari dengan celemek masih membalut tubuh nya.
Brughh..
Mengesampingkan jika Yuma adalah bos nya, Anran berhamburan memeluk Yuma yang sangat dia rindukan.
"Bagaimana kabar mu, An? Mana Luna ?." Ucap Yuma.
"Aku baik, kak ! Pokok nya Kakak tenang saja, semua nya baik-baik saja" Seru Anran dengan gerakan tangan juga mimik mata yang sangat antusias.
"An, bawakan teh ke kantor Kakak dan beritahu Luna kalau Kakak ingin menemui nya juga !" Tutur Yuma sebelum menutup pintu kantor pribadi nya. Anran pun kembali ke luar dan terlihat belok ke arah dapur di mana Luna tengah di sana.
Selagi Anran belum datang, Yuma bergegas menghubungi kontak yang di dapat dari buku milik Papa nya tadi. Yuma pulang, bukan untuk bertemu dengan siapapun, saat sampai di rumah orang tua nya, dia langsung masuk ke dalam ruang kerja sang papa untuk mencari kontak pengacara yang biasa menangani kasus dalan keluarga ataupun pribadi dan Yuma percaya pada nya walau tidak dekat.
Buku kecil bersampul hitam yang tertata di Rak buku khusus untuk buku-buku berukuran kecil menjadi tatapan Yuma saat ini, dia pun meraih nya dan ternyata isinya adalah daftar kontak dari berbagai macam warna tinta.
Mencari dan akhirnya di temukan, Yuma pun mengetik dan mendaftar kan nya ke dalam kontak telpon dan setelah itu berlalu pergi sebelum Mama Shuwan ke Luar dari kamar nya.
Masih beruntung, pada saat Yuma sudah ke luar dan hendak duduk di sofa, Mama Shuwan pun datang tidak lama dari itu.
"Halo selamat siang," Ucap Yuma dengan sopan.
__ADS_1
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu nona ?" Sahut pria matang di seberang sana dan tengah duduk di depan tumpukan berkas putih dan juga dua laptop sekaligus.
"Nona ?." Ucap Yuma kembali, memastikan sebutan dari tuan Ma itu.
"Nona Yuma, bukan? Apa saya salah bicara ? Tapi nama kontak di layar benar" Ujar nya memastikan.
Yuma merengut. "Yang benar saja dia tahu kontak ini?." Batin Yuna menggerut.
"Oh iya pak,"
"Ada yang bisa saya bantu, nona ? Tidak biasa nya anda menghubungi saya dan aneh saja, kalau saya tidak salah kontak ini tidak ada yang tahu ! Kita tidak ada berhubungan ataupun sekedar bertukar sapa, jadi sepertinya ada urusan darurat sampai nona menghubungi saya. Benar bukan ?!"
Pengacara Ma ini benar-benar berbelit, biasa nya pengacara itu berbicara cool dan formal tapi entahlah ada apa dengan Pengacara Ma.
"Saya ingin membuat surat gugatan cerai, tolong urus semuanya ! Nanti kalau sudah selesai tolong informasikan lagi kepada Saya,"
"Tidak perlu memberi tahu kan siapa suami saya, Pak ?!" Seru Yuma tanpa basa-basi.
Pernyataan Yuma bukan lagi membuat pengacara itu terkejut, tapi juga hampir pingsan di buat nya. Pasal nya baru kali ini dia mendapatkan klien tanpa ada basa-basi dalam perkataan nya, di tambah dia tahu siapa Yuma. Putri Dari Zhao Wei dan menantu dari pebisnis Chen Group.
"Jika tidak bisa, tidak apa!." Seru Yuma.
"Bisa bisa. Nanti saya kabari jika sudah selesai" Ucap nya
"Baik lah ! Terimakasih sebelum nya dan maaf merepotkan anda" Ucap Yuma kembali sesaat sebelum menutup sambungan nya.
Ketukan terdengar, pintu pun terbuka. Di ambang pintu Anran dan Luna berdiri dengan senyum mereka.
"Kak" Teriak Luna begitu senang nya. Yuma berdiri, keluar dari tempat duduk nya.
"Aaaa aku merindukan mu, kak!" Senang nya bukan main.
__ADS_1
"Kakak juga sama"
Mereka duduk di sofa panjang dan berbincang sebentar. Yuma menceritakan kalau toko kue nya sudah ada cabang di Singapore dan apa yang terjadi ? Mereka pun ikut senang dan antusias.