
Daniel masih terdiam, dia benar-benar di buat bungkam oleh istri nya itu, dia seakan tak dapat bergerak atau sekedar berbicara. Tidak seperti biasa nya.
" Apa wanita di hadapan kalian ini pantas jika berlutut meminta maaf atas kesalahan kakak nya ?," Yuma kembali mengulas senyum menatap orang-orang yang ada di sana satu persatu.
Yuma melihat tatapan mereka mengatakan jika mereka menyesal.
"Heukss... heukss.. heukss."
Isak Yuma akhirnya tak tertahan kan lagi, mata nya menatap Daniel yang terhalang oleh air mata.
Daniel terdiam, namun tangan nya hendak meraih pipi Yuma untuk menyeka air mata yang terus tumpah.
"Sayang." Mama Ella pun ikut terisak sampai dia tak lagi dapat menopang tubuh nya. Dia benar-benar merasa bersalah dan malu. Shen menahan tubuh mama Ella reflek.
"Yuma tap.... " Hanya sepenggal kalimat yang terlontar dari bibir Daniel namun itu pun masih terpotong oleh Yuma.
Hikss
Hikss
Hikss.
"Tidak apa, aku baik baik saja !."
"Dari awal menjalani pernikahan, aku dibuat bingung dengan sikap arogansi dari mu, sikap yang mendadak berubah 180drajat,"
"Begitu tiba-tiba sampai aku harus mencari tahu penyebab nya, namun sayang sedalam apapun aku mencari, tidak akan ketemu karena apa, karena masalah nya ada pada adik mu dan juga kakak sepupu ku dan kebenaran lain nya adalah aku hanyalah sebagai pelampiasan dan bahan untuk balas dendam."
"Yuma dengarkan aku." Tahan Daniel, entah kenapa sikap nya melunak saat sikap Yuma yang begitu tenang dan juga tegar.
Yuma pun tersenyum. "Aku lelah." Dagu nya terangkat seakan pandangan nya ingin menggapai manik mata milik Daniel.
"Terima kasih."
Kata-kata sederhana itu benar-benar membuat semua hati yang berada di sana tertikam terutama Daniel. Dia benar-benar terbungkam.
Yuma bergegas ke kamar nya melewati Daniel yang tengah mematung.
"Mama pun kecewa pada mu Daniel !." Seru mama Ella berusaha berdiri menopang pada tangan Shen.
Papa Chen pun berlalu pergi meninggalkan mereka tanpa satu patah kata pun ke luar dari mulut nya.
"Ayo ma," Shen pun memapah mama Ella untuk istirahat sesekali melirik tajam pada Daniel.
Daniel terpaku sendirian dia atas anak tangga, keadaan rumah masih mencekam dan membekas beku.
Tanpa pikir panjang lagi, dia berlari ke kamar nya menghampiri Yuma yang sudah lebih dulu menuju ke sana.
Pintu kamar sedikit terbuka, Daniel mendorong pelan pintu kamar. Gelap, ya keadaan di dalam sangat gelap.
"Yuma" Daniel terus memanggil Yuma dengan suara bulat nya. Berjalan ke sana ke mari sampai mencari ke balkon, Daniel tak menemukan Yuma di mana pun.
"Yuma !." Siara Daniel masih memenuhi ruang kamar, langkah nya tak terhenti, mencari istri nya yang mendadak hilang.
Perasaan nya mulai gelisah, dia takut Yuma benar-benar meninggalkan nya. Daniel mulai resah dengan ketidak beradaan Yuma di sisi nya.
__ADS_1
"Yuma maafkan aku ! Yuma," Pria itu mulai kalap, dia menjambak rambut nya dan menampar keras pipi nya sendiri berkali-kali.
"Yuma !." Dari lemari sampai tempat ganti baju tetap saja Yuma tak ada di sana.
Cekrek.
Lampu menyala begitu terang dan pelaku utama nya adalah Yuma. Daniel menoleh, raut sedih nya begitu terlihat jelas, dia berlari dan tanpa sabar menarik Yuma ke dalam pelukan nya.
"Maaf, maafkan aku." Racau Daniel tak melepaskan Yuma sekalipun.
Yuma tak membalas pelukan dari Daniel dan membiarkan tangan nya menjuntai sempurna.
"Tidak apa, aku mengerti." Yuma begitu cepat menerima hal menyakitkan itu tanpa protes sedikit pun.
"Maaf" Ucap Daniel kembali.
"Aku ingin mandi dan istirahat."
Singkat dan juga padat namun itu bukan gaya dari Yuma, Daniel melepas pelukan dan sedikit memberi jarak antara dirinya dan juga Yuma agar dapat melihat penuh wajah istri nya itu.
"Yuma"
Untuk kesekian kali nya, Daniel terus menyebut nama Yuma seakan rasa bersalah terus menyelimuti dirinya saat ini.
"Aku akan mandi di kamar sebelah dan kau bisa memakai kamar mandi mu ! Setelah itu kau istirahat lah."
Yuma pun kembali ke luar meninggalkan Daniel.
...**...
"Iya kak ? Tumben malam-malam menghubungi ku ? Apa besok kakak akan kembali masuk ke toko ?."
Anran di seberang sana tengah bermain bersama dengan Luna di sekitar club'.
"An, kau masih di luar di jam malam seperti ini ? Luna bersama mu ?." Yuma belum ke intinya.
"Iya, ini Luna sedang bersama ku. Kenapa kaka ?." Seru Anran.
"Oh tidak apa. Kalian bersenang-senanglah ! Dan besok kakak sepertinya ngga masuk dulu ya. Kakak titip toko kue kepada mu dan juga Luna." Ucap Yuma.
"Oke siap kak."
Tadinya Yuma ingin meminta tolong Anran memesan tiket ke Singapura untuk penerbangan besok tapi seperti nya bukan hal baik juga.
Untuk itu Yuma memutuskan untuk memesan tiket pesawat lewat online.
...**...
Langit malam di negara lain, tepatnya di Singapura. Musik berdentuman diiringi DJ bermain di depan, cahaya lampu yang berwarna terus bergantian menyala.
"Gar" Panggil Liam dengan lambaian tangan nya.
Mereka pun bertos laki satu sama lain. "Nyonya Lee, susah untuk lepas dari nya!." Keluh Gary merebut minuman dari tangan Liam.
"Hahahaha ya begitu lah!." Liam menanggapi dengan tawa karena pasti nasib Gary akan sama dengan nya jika sudah berada du dekat nyonya Lee, yang tidak lain adalah ibu kandung dari Liam.
__ADS_1
"Bagaimana pekerjaan mu ? Apa perlu bantuan ku lagi ? Ssshh dengan senang hati aku menawarkan jasa membantu pekerjaan mu !." Tukas Liam kembali mengisi wine ke dalam gelas kecil di depan nya.
Gary langsung teringat tujuan nya menemui Liam saat ini.
"Li kau masih ingat dengan orang yang kau suruh mengirim berkas ke kamar hotel ku saat itu ?." Tanya Gary serius.
Liam meletakan gelas itu dan berdehem menyelaraskan suara nya agar normal.
"Lah memang nya kalian tidak bertemu ? Bukan kah berkas nya juga sudah kau terima saat itu, Gar ?!."
"Sudah tapi tidak tahu !."
"Dih bisa ya begitu, ada-ada saja !,"
"Jadi ?." Tukas Gary semakin penasaran.
"Dia Erina, tapi sekarang dia tidak lagi bekerja bersama ku ! Entahlah, dia mengundurkan diri begitu saja dengan alasan sibuk dengan kuliah nya, "
"Memang nya kenapa ?." Liam masih belum curiga, dia sibuk dengan tegukan wine pada mulut nya.
"Kau memiliki potret nya ?."
"Ada di handphone, lihat saja." Tunjuk nya pada handphone di atas meja. Gary langsung meraih dan membuka kunci layar.
Gary terus menggulir galery photo di layar handphone sampai di mana telunjuk nya berhenti pada sosok wanita yang sangat dia kenal.
"Dia ?." Gary memperlihatkan layar itu pada Liam.
"Iya, dia orang nya ! Kenapa ? Kau tertarik pada nya kah ?." Goda Liam dengan mata yang terus di mainkan.
"Kau tahu tempat tinggal nya ? Aku ada urusan dengan nya mumpung ada di sini." Ucap Gary.
"Jalan xxxx, di sana apartemen nya."
Gary mengangguk dan kembali menatap potret Erina yang tersenyum begitu lebar. Dia benar-benar tidak menyangka dengan kebenaran ini, gadis itu benar-benar dia.
Jantung Gary berdetak tak karuan, hatinya miris mengingat wanita yang sudah dua kali bertemu dengan nya. Sialnya dia tidak tahu dan tak mengenal wajah itu, wajah yang menarik namun menyembunyikan rasa sakit yang begitu mendalam.
Gary harus segera menemui Erina, memastikan jika wanita itu benar-benar orang yang dia perkosa malam itu.
"Dia masih kuliah ?." Ucap Gary tiba-tiba di saat tak ada pembicaraan di antara diri nya dan juga Liam.
Liam menggoyangkan gelas kecil berisi wine seraya memiringkan kepala nya mencoba meraih tatapan penuh dari Gary.
"Semester akhir dan sepertinya sebentar lagi akan wisuda ! Soalnya sekarang sudah tugas terakhir, untuk itu dia sangat sibuk. Mungkin itu memang alasan Erina mengundurkan diri ! Ssshh entahlah !."
Liam masih menjawab dengan normal, masih kuat menahan rasa segak dari wine itu.
"Apa dia sudah bersuami ?." Gary terus bertanya membuat Liam pusing.
"Teman, kalau kau menyukai nya langsung saja temui dia ! Teman mu ini tidak cukup informasi mengenai gadis itu." Liam benar-benar malas menjawab semua pertanyaan dari Gary.
"Gadis ?." Seru Gary.
Liam tak lagi ingin menjawab, dia malah melanjutkan minum, menikmati wine yang terhidang.
__ADS_1