
...***...
"Bagaimana ?" Shen dan Yuma bertemu di area taman. Yuma menggeleng tidak menemukan Daniel dan bertanya pada suster di area sana pun tidak ada yang tahu.
"Kemana dia ?" Shen Kecak pinggang sesekali pandangan nya mengedar begitupun dengan Yuma.
Drtt...
Drtt..
Drt..
Telpon genggam Shen bergetar, dia pun merogoh handphone nya di saku. "Halo Pa, bagaimana ?!." Ucap Shen, saat Papa Chen memanggil.
"Tidak perlu mencari nya ! Kakak mu baru saja meninggalkan Rumah Sakit" Ucap Papa Chen, posisi tengah berdiri di depan CCTV rumah sakit setelah mendapat persetujuan dari pihak penjaga.
Shen mendelik,
"Ada apa, Shen ?!." Tanya Yuma.
"Baik lah pa, kita juga pulang saja !" Ujar Shen. Sambungan pun terputus, Shen membuang nafas kasar.
"Ada apa?." Tanya Yuma kembali dengan penasaran.
"Daniel baru saja meninggalkan Rumah Sakit. Kita pulang saja ! Aku akan mengurus sisa pembayaran dulu di dalam. Ayo!"
Mereka pun akhirnya bertemu di lobi, Shen dia menyelesaikan administrasi dahulu. Tidak lama dia pun terlihat selesai dan kembali berjalan ke arah Yuma dan Papa Chen.
"Ayo"
Mereka pun pergi dengan hati yang kesal, walau sedikit takut juga yang akan di lakukan oleh Daniel.
"Masih saja butuh petuah dari mu, Pa ! Keras kali anak sulung mu itu" Shen benar-benar ringan bibir, dia tidak akan selesai kalau belum ada yang membanting atau pun menjitak nya dia tidak akan berhenti.
__ADS_1
"Shen mulut mu itu loh, nak ! Papa sumpal baru tahu rasa!" Papa Chen yang berada di samping tempat duduk Shen mencubit bibir nya dan sekilas memelintir. Yuma hanya bisa menyaksikan saja tanpa ingin menimpali.
...**...
Kediaman Chen nampak sepi, Taksi itu berhenti di depan gerbang.
"Pak tunggu dulu sebentar" Ucap Daniel karena dia tidak membawa uang untuk membayar taksi ataupun banking di handphone nya.
Satpam di depan mendekat, dia setengah terkejut karena kedatangan majikan nya yang sangat mengenaskan dengan pakaian pasien masih membalut tubuh.
"Tuan" Sapa nya.
"Tolong bayar biaya taksi itu, nanti saya ganti" Ucap Daniel melewati satpam dan masuk begitu saja melewati gerbang.
Satpam itu tertohok, dia membalikkan badan nya dengan keanehan. "Ah sudah lah !." Ujar nya sendiri dan mendekati taksi.
"Pak ini ongkos nya"
Taksi pun pergi setelah mendapatkan uang dari satpam itu.
...**...
"Sangat memalukan!." Umpat nya tegas menilai perubahan drastis pada tubuh nya.
Setelah puas berdiri di depan cermin dan juga mondar-mandir berbincang dengan seseorang di seberang sana, dia pun turun ke bawah dengan earphone menempel di telinga nya.
"Bagaimana ?" Ucap nya pada seseorang di seberang sana. Daniel duduk di sekitar meja makan sesekali menuangkan air pada gelas.
"Bagaimana apa nya ?."
Hampir terbatuk, Daniel langsung membalikkan badan nya sambil menyusut bibir yang basah.
Kelopak mata membulat penuh, dia terpaku dengan seseorang yang tengah berdiri di antara Papa dan juga Shen.
__ADS_1
"Aku ke kamar duluan" Ucap Shen.
"Papa juga" Timpal Papa Chen yang ikut pergi meninggalkan dua pasang suami istri yang tengah berada di ambang keputusasaan.
"Ternyata kau di sini ? Daniel, kami mencari mu kemana-mana bahkan Papa harus turun tangan ! Bisa tidak kau diam dan tidak merepotkan orang-orang untuk saat ini ?!,"
Amarah Yuma siap meledak, wajah nya merah api dan nafas nya panas membara.
Brugh...
Tidak berpikir panjang, Daniel menerjang tubuh Yuma dan memeluk nya erat. "Maaf" Suara Daniel benar-benar lirih, apakah benar sekarang dirinya tengah memeluk Yuma. Pertanyaan itu masih menjadi debu di hati nya.
"Benar, ini kau Yuma ! Yuma maaf kan aku, maaf, maaf, maaf" Tidak ragu, Daniel benar-benar memeluk Yuma erat, dia menunpahkan rasa bersalah dan juga rasa sesal nya dalan kata.
Yuma menepuk-nepuk punggung Daniel. "Its oke !." Ucap nya.
"Maaf" Ucap nya kembali saat pelukan tak lagi menjadi saksi betapa Daniel sangat menyesali semua nya. "Katakan jika kau tidak akan pergi tanpa memberitahu ku lagi, eum ?!." Lanjut nya sambil mengusap lembut wajah Yuma.
"Tentu"
Kata yang ke luar dari bibir ranum itu terlalu singkat, bahkan dari awal datang sampai sekarang. Perubahan sikap Yuma masih di abaikan yang terpenting wanita itu telah berada di depan nya.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Erina dan juga Mama Ella terlihat baru saja sampai dengan Gary ternyata bersama mereka.
"Di mana mereka ?." Tanya Mama Ella saat masuk bertemu dengan Shen dan juga Papa Chen.
"Di atas" Sahut Papa Chen sambil menunjuk ke atas. Gary yang ada di sana pun ikut menengadah.
"Bagaimana persiapan nya, sudah mencapai berapa persen ?." Mereka duduk berbincang begitupun dengan Gary.
"Sudah sempurna, kita tinggal pelaksanaan nya saja dan dari pihak saya pun sudah setuju, tidak ada kendala apapun lagi!" Sahut Gary sesekali melihat mereka bergantian.
"Baiklah berarti jika di percepat pun tidak masalah ! Yuma sudah kembali dan Daniel sepertinya tidak akan masalah dengan pernikahan ini. Pa, Mama khawatir kalau semakin di tunda kandungan putri kita akan semakin terlihat ! Bukan berarti mama malu dan takut akan gunjingan orang-orang nanti tapi Mama sudah memikirkan banyak hal untuk mereka"
__ADS_1
"Oke oke Papa mengerti," Seru Papa Chen