Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 34


__ADS_3

Yuma tanpa ingin memikirkan wanita bernama Xena itu, dia naik kembali ke apartemen setelah membuang sampah.


" Yang benar saja ". Yuma membaringkan tubuh nya bebas di atas kasur.


" Cinta kadang membuat seseorang menjadi jahat ! Tch tch, aku tidak peduli dengan cinta ". Gumam Yuma sembari menutup mata nya.


Setelah rekam hidup yang telah Yuma lewati, sekarang dia hanya ingin bersama keluarga nya dan menghabiskan waktu yang dulu tidak pernah dia rasakan. Dia akan mengesampingkan dahulu percintaan nya dan akan terus bersama keluarga.


Dia ingin lebih di cintai oleh ayah dan ibu nya dan dia juga ingin merasakan bagaimana di cintai serta di sayangi oleh kedua kakak nya. Dia ingin merasakan hal itu selama ini dan tentu saja karena buah dari kesabaran nya, seperti nya dia akan merasakan nya setelah apa yang Gary dan juga Xian lakukan akhir-akhir ini.


...**...


Keesokan hari nya Yuma sudah bersiap di pagi hari, bukan pergi untuk bekerja melainkan untuk pergi ke rumah nya. Entah kenapa dia sangat merindukan kedua orang tuanya dan juga adik nya.


Mobil Yuma terparkir di halaman rumah besar Zhao Wei, dia ke luar dan berjalan menuju pintu masuk. " Ma, pa ! ". Ucap Yuma saat dirinya berdiri tidak jauh dari keberadaan orang tuanya.


Zhao Wei dan juga Shuwan reflek menoleh, begitupun dengan Wusan yang juga tengah ikut sarapan pagi. Sang ayah berdiri menatap putri nya yang datang di pagi hari, tidak biasanya.


" Yuma ". Seru Sang ayah. " Ada apa ? Kau baik-baik saja bukan nak ? ". Tanya lembut Wei perlahan melangkah mendekat pada Yuma.


" Tidak ada papa, aku sangat baik-baik saja ". Sahut Yuma tersenyum hangat.


" Kau sudah sarapan ? Apa hari ini kau tidak masuk kerja sayang ? ". Tanya Shuwan yang ikut berdiri dengan kaget karena kedatangan putri nya yang tiba-tiba.


" Ayo sarapan bersama kami ". Tarik lembut Zhao Wei. Yuma mengikuti ucapan sang ayah.


Orang tua itu tidak ada bertanya atau semacam nya, mereka berdua terlalu kaget dengan keberadaan Yuma yang tiba-tiba berada di depan pintu, apalagi ini masih pagi.


" Aku akan pulang, bolehkah aku tinggal di sini lagi, ma pa ?! ". Ucap Yuma memberanikan diri. Hal itu sontak membuat kedua orang tua nya tersedak kaget.


" Jika tidak boleh maka tidak masalah ". Lanjut Yuma kembali melanjutkan makan nya.


" Yeay kakak ku pulang ". Teriak Wusan begitu senang. Shuwan dan juga Zhao Wei saling pandang sejenak tidak lupa juga mereka saling lempar senyuman.


" Yuma terimakasih ". Ucap Zhao Wei tiba-tiba. Yuma mengangkat pandangan nya dan melirik ayah nya. " Papa sangat senang ! Terimakasih sudah mau pulang ke rumah kembali ". Lembut Zhao Wei. Shuwan selaku ibu, dia hanya bisa menangis sendu tanpa terdengar isakan.


" Apa boleh ? ". Tanya Yuma dengan bodoh nya. Orang tua mana yang tidak membolehkan anak nya untuk pulang ke rumah, bukankah tidak ada yang seperti itu ?. Apa lagi jika kedua orang tua mereka yang memang bersalah dalam hal ini.

__ADS_1


" Gadis nakal ". Shuwan segera memeluk Yuma dengan erat. Air matanya mulai menyurut seiringan dengan senyum yang mengembang.


" Terimakasih sudah kembali, maafkan mama dan juga papa ! Kami berjanji tidak akan menyakiti mu lagi sayang, mohon maafkan kami ". Ucap Shuwan.


" Eum ". Yuma hanya bisa menjawab sebatas itu saja.


" Kakak ku kembali ! Malam ini aku akan tidur bersama kakak ". Senang Wusan berjingkrak ria sampai-sampai tas yang dia gendong ikut mengguncang.


" Boleh sekali ! Sekarang kau harus pergi sekolah dulu, nanti saat pulang kakak akan memasak makanan yang enak untuk mu. Bagaimana ?! ". Tutur Yuma lembut.


" Siap komandan ". Tegap Wusan memberi hormat.


" Jika begitu mama mengantar dia ke sekolah dulu, kau di sini saja jangan kemana-mana, mama akan pulang cepat setelah mengantar nya ". Ucap Shuwan begitu semangat dan antusias.


" Papa jangan putri ku dengan baik ". Tekan Shuwan.


" Papa akan pergi kerja ma, tidak apa aku akan di sini bersama bibi Eri !". Ucap Yuma lembut sembari menggandeng lengan papa nya.


" Jangan di bela, nanti papa mu kebiasaan ". Kilah mama Shuwan.


Akhirnya di rumah pun terasa sepi, mereka telah berangkat dan menyisakan Yuma yang tengah membereskan barang nya di kamar.


...**...


" Nona apa lagi yang harus saya rapihkan ?". Sopan bibi Eri. Dia mendekat setelah membersihkan kamar dan beberapa ruangan yang sudah lana tidak terpakai setelah kepergian Yuma


" Sudah bi, terimakasih ya ". Ucap Yuma.


" Nona, anda sudah lama tidak pulang. Kami di sini sangat merindukan anda ". Ucap bibi Eri.


" Kami juga merindukan suasana rumah bi, tapi bibi tahu sendiri bukan bagaimana keadaan nya saat itu ?!". Tutur Yuma.


" Bibi tahu non, untuk itu selamat datang kembali di rumah." Riang bibi Eri mengusap lembut punggung telapak tangan Yuma.


"Terimakasih bi." Ucap Yuma dengan hangat.


Bibi Eri terdiam sejenak, menarik nafas serta dia hembuskan kembali, tatapan nya mengundang orang untuk bertanya.

__ADS_1


" Ada apa bi ?." Selidik Yuma.


"Itu non, setelah nona pergi dari rumah, setiap malam saya sering sekali mendengar tangisan di sekitar rumah ! Karena penasaran, bibi mencari suara tangisan itu dan ternyata tuan Wei sedang menangis." Tutur bibi Eri dengan hati-hati dan suara nya begitu rendah


" Menangis ? Maksud bibi papa menangis, begitu ? Kenapa ?!". Kaget Yuma. Dia semakin penasaran akan apa yang di katakan bibi Eri.


" Entahlah, bibi pun tidak tahu tapi dia selalu menangis di kamar atas yang selalu di kunci dan di gembok rapat. Apa nona masih ingat ruangan yang di larang di buka oleh tuan ? ". Seru bibi Eri.


" Aku masih ingat bi ". Ucap Yuma.


" Tapi sekarang pintu itu telah di perbolehkan bibi masuki karena mungkin sudah kotor ! Nona harus tahu apa isi nya, bibi pun kaget dengan isi dari kamar itu saat masuk ". Ucap Bibi Eri.


" Ayo bi aku penasaran dengan isinya sejak dulu ". Ucap Yuma.


Mereka pun naik ke atas perlahan sembari berbincang dan sampailah mereka di depan pintu kamar.


Ceklek !


Bibi Eri membuka pelan pintu itu, pelan-pelan sampai sepenuh nya terbuka. Yuma melirik bibi Eri sejenak dan bibi Eri mengkode agar nona nya masuk terlebih dahulu.


Yuma melangkah maju. Kaki nya tiba-tiba kaku untuk di gerakkan begitupun bibir nya kelu untuk mengucapkan sesuatu. Di dalam ruangan itu terpajang semua potret dirinya, bahkan hampir semua dinding kamar di penuhi dengan hal tentang dirinya.


Di setiap sudut kamar berdiri kokoh lemari tanpa kaca dan isi nya tertata rapi barang milik nya, dari saat kecil hingga dirinya remaja.


Baju kesayangan nya pun dari sedari kecil sampai raja tergantung rapih pada stand hanger begitu rapi.


" Papa ". Air mata Yuma tidak mampu lagi membendung rasa tidak percaya nya. Dia tidak percaya papa nya akan sampai seperti ini, dia benar-benar merasa kaget namun juga sangat senang.


" Dia ternyata sangat menyayangi ku ". Racau Yuma. " Bibi, mereka ternyata sangat menyayangiku ". Yuma memeluk bibi Eri dengan erat, bibir nya bergetar dan nafas pun seakan tidak bisa lagi untuk menunggu sang papa untuk pulang.


" Percayalah, selama ini mereka memang sangat menyayangi mu nona ". Ucap bibi Eri sembari mengelus lembut kepala Yuma.


" Aku akan ke kantor papa, aku ingin memeluk nya ". Ucap Yuma.


" Pergi lah, dia pasti akan sangat senang ". Ucap bibi Eri.


...**...

__ADS_1


__ADS_2