Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 39


__ADS_3

...**...


Di lain tempat, Xena tengah menikmati anggur merah yang dia tuangkan dalam gelas tinggi namun kecil, sesekali menghisap nya pelan.


" Daniel ! Ssh apa yang harus aku lakukan untuk mendapat kan mu kembali ? ". Batin Xena. Dia terus berpikir mencari ide untuk mendekati Daniel.


" Aku yakin kau masih mencintai ku ". Lanjutnya seraya menikmati anggur merah di tangan nya.


...**...


Keesokan hari nya, pagi-pagi sekali, Yuma sudah minta untuk pulang, dia tidak nyaman terlalu lama di rumah sakit. Xian, dia sudah berada di samping adik sepupunya itu mungkin cairan inpus nya sudah habis.


" Sebentar tunggu ayah mu dulu, dia tengah mengurus administrasi dulu." Xian membantu Yuma turun dari brangkar sesaat setelah perawat itu melepas jarum inpus yang menusuk pada punggung telapak tangan Yuma.


Derap langkah terdengar masuk, di sana terlihat papa Wei datang dengan dokter yang mengurus perawatan Yuma dan juga Xian.


"Shen ?." Di belakang Papa Wei Shen berdiri dan bergeser menjadikan mereka berdiri berdampingan.


"Selamat pagi Yuma." Cengir Shen canggung. Yuma menghembuskan nafas nya, dia langsung berpikir pasti mereka sudah tahu.


"Ayo." Papa Wei mengambil alih menuntun Yuma dari Xian.


Rumah sakit, mereka berlalu pergi dari sana meninggalkan Shen sendiri karena dia harus berangkat ke kantor kembali untuk melakukan pekerjaan nya.


...**...


Sampai di rumah, Yuma bukan nya langsung istirahat namun dia kembali bersiap untuk pergi ke kantor. Tidak ada yang melarang karena penghuni rumah tidak ada, papa Wei langsung pergi ke kantor dan mama Shuwan mengantar Wusan ke sekolah, tinggal lah bibi Eri saja. Xian pun sudah pergi ke kantor juga.


" Bi, Yuma ke kantor dulu ! Tidak lama kok."


" Tapi nona masih sakit, nanti bagaimana kalau nyonya atau tuan tiba-tiba pulang ?!." Bibi Eri merasa takut jika majikan nya marah.


" Tidak apa bi, nanti Yuma kabari mereka ya ! Yuma pergi." Teriak Yuma berlari ke luar menuju mobil nya.


Setiba nya di perusahaan, Yuma berlari cepat menuju kantor nya, beberapa pegawai pun sempat memberi salam juga pada nya.


"Selamat pagi semua nya." Yuma mendorong pintu dan memberi salam dengan nada tinggi nya. Atensi orang-orang di dalam seketika menoleh kasar dengan tatapan tajam nya. Yuma perlahan masuk pelan dengan eskpresi bodoh nya.


" Sepertinya kau sudah gila Yum ! Noh lihat ini sudah siang ! Pagi pagi, siang yang ada." Jingyi beranjak kasar dari tempat duduk nya dan mendekati Yuma dengan kedua tangan melipat.


" Di telpon tidak aktif, di chat tidak di balas juga ! Sebenarnya kau ini ke mana Yuma ?." Levon bersuara dan itu mewakili unek-unek di benak yang lain.


" Tidak biasanya juga kau datang setelat ini." Selidik Wufan. Laoda mengangguk membenarkan.


Teman satu kantor itu mengintrogasi Yuma dengan serempak tanpa celah. Yuma duduk perlahan dan menggeser kursi nya mendekati Levon.

__ADS_1


"Apa ?." Dagu Levon terangkat, rekan yang lain pun ikut mendekat.


"Aku datang untuk mengurus surat pengunduran diri ku." Turur Yuma perlahan.


" Apa ? Apa kau bilang ?." Mereka terkaget sampai reflek berteriak bersamaan.


"Jadi nanti kita bicara nya ya, aku mau ke kantor pak manager dulu ! Oh iya pak Manager ada, 'kan ?."


" Ada."


" Tapi Yuma kenapa mendadak ? Kau sedang tidak sakit kan ?." Jingyi memeriksa suhu tubuh Yuma.


" Tidak, aku baik-baik saja ! Nanti kita makan malam bersama, kalian kabari aku jika sudah selesai dan sekarang aku permisi, bye bye." Yuma berdiri cepat dan melangkah pergi menjauhi mereka.


" Yaaakk." Kesal Levon, dia berteriak tidak seperti biasa nya.


Wufan juga Lao Da begitupun dengan Jingyi bukan nya bekerja tapi mereka malah bergosip menerka-nerka apa yang terjadi pada teman satu nya itu.


Yuma berdiri di depan pintu kantor manager nya dan merapihkan dahulu baju nya sebelum masuk.


Tok...


Tok..


Tok..


" Pak." Ucap Yuma. Pak manager meletakan ballpoint nya dan melorotkan kaca mata nya memeriksa siapa yang berdiri di depan nya itu.


" Yuma ? Ayo duduk duduk !." Seru cepat pak Manager. Yuma pun duduk dengan senyum namun tercampur rasa canggung.


Yuma tanpa basa-basi, dia mengeluarkan surat pengunduran diri dari dalam tas nya dan meletakkan tepat di tengah meja di mana di sana pasti pak Manager melihat dengan jelas.


"Apa ini ?." Pak Manager merasa bingung dan mengecek surat yang di berikan Yuma.


"Surat pengunduran diri saya pak !."


" Sebentar, kenapa mengundurkan diri ?." Pak Manager pun merasa bingung, karena selama ini tidak ada masalah dan jika dia melepas Yuma kesempatan emas pun akan sirna untuk divisi nya walau yang lain cerdas dan mampu tapi keberadaan Yuma melengkapi mereka.


" Saya sudah merencanakan nya jauh-jauh hari dan sekarang saat yang tepat."


" Apa ada perusahaan lain yang menawari mu dengan gaji di atas kami ? Jika iya saya akan mengajukan ke atasan dan menaikkan gaji kamu, Yuma !."


"Oh tidak pak, tidak ada yang seperti itu ! Saya setelah ini tidak akan bekerja di perusahaan, saya akan fokus mengelola toko kue saya." Jelas Yuma agar pembicaraan tidak semakin jauh.


" Eumm sebelum nya saya minta maaf selama saya bekerja tidak optimal dan memenuhi harapan !."

__ADS_1


" Tidak tidak." Tukas pak manager memungkas perkataan Yuma.


" Saya urus semua nya jika keputusan mu memang sudah bulat dan maafkan saya juga jika selama kamu bekerja ada perkataan yang mungkin menyinggung hati mu."


Yuma dengan canggung mengintip pak Manager yang terus menunduk, sepertinya dia menangis untuk itu Yuma memilih pamit dari ruangan pak Manager.


" Jika begitu saya pamit pak dan terimakasih untuk semua nya." Yuma beranjak dan berlalu pergi.


Setelah dari sana, Yuma pun memutuskan untuk pergi ke toko kue nya namun saat sampai di lobi tidak sengaja mata nya menangkap keberadaan seorang wanita yang sepertinya pernah dia lihat tapi entah di mana.


"Siapa ya ?." Batin Yuma di sela langkah nya.


...**...


Kantor Daniel, Shen memberitahu jika Xena ada di depan. Daniel menautkan alis nya. " Shen kau sedang tidak salah menerima sekretaris untuk ku bukan ?." Tajam Daniel.


" Tidak, lagi pula aku mengenal wajah nya kenapa juga harus salah ?."


" Biarkan dia masuk."


" Baiklah !."


Shen pun bergegas ke depan menemui Xena.


" Shen." Sapa Xena dengan polesan polos nya, dia tetap cantik seperti dulu namun kini Shen, dia tidak tertarik lagi dengan Xena sedari dia berani menghancurkan kehidupan kakak sekaligus atasan nya itu.


"Masuk." Dengan ketus dan tanpa ingin menatap wajah Xena, Shen reflek menjauh dan memilih untuk di luar masuk ke dalam ruangan nya melalui pintu luar.


Xena berjalan, stelan kantor nya membuat Daniel mengerutkan dahi. "Daniel." Tanpa di persilahkan duduk, Xena pun duduk di kursi sebrang.


Daniel tidak bicara, dia hanya melanjutkan pekerjaan nya saja tanpa ingin melirik sama sekali. Xena merasa di abaikan dan dia memutuskan untuk bersuara.


"Aku hanya mampir saja ! Hari ini aku lulus interview kerja dan besok mulai kerja sebagai sekretaris mu." Ucap Xena menatap lekat Daniel yang terus saja mengabaikan nya.


" Jika tidak ada hal penting, silahkan untuk ke luar." Usir Daniel.


" Jika begitu saya permisi." Xena tanpa bisa di tebak, dia pun malah berlalu pergi. Daniel menatap lurus dengan keanehan pada Xena yang kini tertelan pintu kantor nya.


" Shen kemari lah." Ucap Xena menekan telpon di atas meja nya.


Tidak menunggu lama, Shen pun datang. " Ada yang bisa saya bantu pak ?." Ucap Shen.


" Cari tahu kenapa Xena bisa jadi sekretaris tanpa ada konfirmasi dari saya." Tegas Daniel sesekali memijit kening nya.


" Baik pak." Shen pun undur diri sekilat petir.

__ADS_1


__ADS_2