
Suhu udara menjelang malam semakin segar dan sejuk namun kenyamanan itu bukan hal baik untuk tubuh.
Buku itu pun di tutup, Yuma telah membaca sampai akhir lembar.
"Kehidupan dalam novel memang sangat-sangat membuat iri." Gumam nya dengan ekspresi wajah malas.
Di ambang pintu balkon yang terbuat dari kaca, Daniel menyenderkan sebelah bahu nya, berdiri di sana memperhatikan Yuma dengan mimik wajah lain lagi.
Yuma menoleh ke semua sudut dan terhenti pada mata Daniel. Kedua alis Yuma menaut seakan bertanya.
"Kau memerlukan sesuatu ?." Yuma berdiri perlahan membenarkan posisi nya, lalu melangkah menghampiri.
Daniel masih dalam posisi sebelum nya, kedua tangan pun masih melipat.
Senyum Yuma benar-benar menggoda nya, dia bahkan tidak bisa menahan untuk mengecup bibir ranum itu.
"Mama sudah nunggu makan malam !." Ujar Daniel begitu dingin, tanpa menunggu respon dari Yuma dia pun pergi begitu saja.
Yuma tak melepas pandang nya dari punggung Daniel.
"Berheti !." Titah Yuma.
__ADS_1
Langkah Daniel pun terhenti, kedua tangan nya pun kembali keluar dari saku celana nya.
Awal nya ragu untuk membalikkan badan nya kembali, namun Daniel dengan kasar menatap kasar ke arah Yuma begitu saja.
"Katakan dengan singkat, aku masih ada urusan penting. Lebih penting dari dirimu." Tekan Daniel dengan acuh.
Sudut bibir Yuma menyungging, dia malah geli dengan kalimat yang di lontarkan Daniel baru saja.
"Daniel !." Tekan Yuma. Daniel mengerti ke arah mana seruan Yuma itu. Yuma masih diam, dia tengah memfilter pertanyaan yang akan di ucapkan. Namun sayang, Daniel bukan tipe pria yang suka menunggu.
"Buang-buang waktu saja." Geram Daniel, dia malah ke luar dari kamar dengan membanting sedikit pintu itu.
"Huffhhh,, sabar Yuma ! Sabar dahulu dan cari penyebab perubahan sikap Daniel tehadap mu." Yuma mencoba memberikan pengertian untuk diri nya sendiri agar tidan berpikir negatif.
...**...
"Kakak ipar." Shen, dia sudah bergabung untuk makan malam. Baju kantor pun masih belum di ganti, begitupun dengan papa Chen.
Makan malam pun selesai, mereka tidak dahulu kembali ke kamar mereka, namum memilih untuk berbincang dahulu di ruang keluarga.
"Daniel kau tidak menjahati Yuma, kan ? Ini peringatan awal dari papa. Jangan pernah sekalipun menyakiti Yuma, paham ?!." Mata papa Chen memang sipit namun mata itu sangat tajam mengarah lada Daniel.
__ADS_1
"Jangan terlalu melindungi nya ! Kita tidak tahu dia akan menjadi pagar atau belati untuk kita." Daniel memberi pemahaman.
Tragedi yang menimpa pada adik nya benar-benar membuat nya ingin sekali balas dendam, namun dia pun paham sosok yang tengah menerima pembalasan itu adalah wanita tangguh dan logis,.
"Sampai kapan kau akan seperti ini, Daniel ? Kau tahu apa akibat dari sikap mu ini ?."
Kenyataan nya, baik papa Chen, Shen dan juga mama Ella memang tidak tahu tujuan dari pernikahan yang di rancang oleh Daniel sampai di mana selesai pesta pernikahan topeng Daniel pun perlahan terlihat oleh mereka.
...**...
Di dalam kamar, Yuma dia belum membaringkan tubuh nya dan masih mondar-mandir di depan kasur menunggu Daniel datang.
Kelk..
Pintu pun terbuka dan Daniel pun masuk. Daniel mengabaikan tatapan Yuma.
"Daniel" Cegah Yuma.
"Kau ini kenapa ? Katakan sekarang juga ." Suara Yuma tidak lagi bersahabat sekarang.
Greph...
__ADS_1
Daniel mencekik leher Yuma tak tanggung-tanggung.
"Diam !." Suara Daniel begitu menggelegar di seisi ruang kamar. omosi mya mulai menjadi-jadi