Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 125


__ADS_3

...***...


Gary penasaran dan kembali mendekati Anran. Yuma melepas pegangan nya dan hanya memperhatikan saja.


"Apa yang sedang kau lakukan, Gary ?!"


Suara Xian masuk terdengar, mereka semua menoleh ke asal suara kecuali Gary yang masih memperhatikan Anran.


Xian mendekat cepat dan menarik Anran ke sisinya.


Tatapan Xian juga Gary saling lurus, manik mata mereka seakan hendak memulai peperangan.


Mata Gary kembali menatap Anran.


"Mana coba aku lihat, kekasih mu ini. Adik Sepupu !."


Gary mengangkat dagu Anran, Xian yang hendak menepis tangan Gary keburu di hentikan oleh tangan Gary satu nya dengan kode diam.


Anran serasa ingin pingsan saat ini juga, lutut nya benar-benar lemas sekarang. Kedua bola mata nya tak henti-hentinya berputar gugup.


"Gary"


Tubuh Gary terpental sedikit mundur, karena dia tak henti-henti nya menatap Anran dengan tajam.


"Oke baik, sepertinya adik ku tidak salah pilih wanita"


Gary berjalan memutar meja dan kembali duduk di tempat nya.


"Ah ?"


Semua orang menganga dengan sikap Gary yang aneh kecuali Yuma.


"Terimakasih, nona!" Ucap Gary.


"Ah ? It—tu—"


"Maksud mu apa, Gary?" Timpal Xian.


"Tidak ada ! Aku hanya berterimakasih karena gadis ini akhirnya bisa mengalahkan egomu, Xian ! Aku selama ini khawatir jika kau memang akan benar-benar tidak mau menikah"


Tutur Gary masih menatap Xian, namun tatapan ini begitu hangat.


"Maksud mu apa, kak?!"


Timpal Yuma.


"Oh iya aku ingat sekarang" Erina pun ikut menimpali juga.


"Apa emang nya ?" Yuma penasaran.


"Itu kak, berawal dari kakak ipar pergi dan saat itu Xian kita ini mengatakan tidak akan menikah dan berkencan dengan siapapun sebelum kakak ipar pulang"


Kedua alis Yuma pun menaut tajam dan langsung menatap kakak sepupunya itu.


"Benar kah ?."


Xian hanya melempar senyum masam.


"Lun, An, kalian kembali ke dalam" Ucap Yuma. Mereka pun kembali ke dalam dengan terbirit-birit.


Xian pun menarik kursi dari meja lain dan akhirnya duduk di samping adik nya itu.


Mereka pun berbincang-bincang.


...**...


"Papa boleh aku melihat yang itu ?." Xiao Lin nampak sibuk dengan buku di pangkuan nya.


Krayon satu set pun ikut berantakan di atas meja. Daniel yang tengah menatap layar mengikuti arah tunjukkan Xiao Lin.


"Boleh, tapi jangan sampai robek"


Buku di rak berwarna cream menyita perhatian, pasal nya di sana tidak ada bacaan untuk anak-anak tapi Daniel mencoba memenuhi keinginan putra nya itu.


"Yang ini ?." Tanya Daniel menyentuh buku yang di tunjuk Xiao Lian.


"Eum" Angguk nya.


"Ini"


Daniel memberikan buku bacaan dasar manajemen, sampulnya terbuat dari beludru dan halaman pertama banyak coretan tinta yang sudah memudar dan luntur.


" Kau tertarik dengan sampul nya, boy ?!" Daniel berjongkok di hadapan putra nya yang tengah sibuk membuka setiap lembar kertas buku itu.


"Eum"


Retina Daniel seakan menyala, membinar terang, namun seketika kembali padam. Dia tidak paham dengan keanehan putra nya.


"Aku sudah bisa membaca dengan lancar, mama selalu mengajari ku."


"Ketimbang di sekolah, mama yang paling banyak mengajari membaca dan kadang menjelaskan apapun yang tidak aku mengerti"


"Pa, mama sangat pintar dan cerdas tapi kadang mama sangat bodoh melebihi anak kecil"


Xiao Lin menutup seketika buku itu dan mengatakan hal yang sepertinya terdorong dari otak nya.


Daniel ingin sekali tertawa tapi dia juga bangga pada Yuma, namun hatinya pun hancur seketika kala mengingat bagaimana kalau anak pintar ini putra nya ?

__ADS_1


Dia akan sangat menyesal dan bersalah, jika di hitung benar sekali, waktu pertengkaran dan kepergian Yuma berjangka tidak jauh dari dirinya merenggut mahkotanya.


Sial !


Umpatan hati daniel terus menebar ke setiap jejaring organ dalam. Telapak tangan nya pun seketika dingin, persendian nya bergetar entah kenapa.


"Papa?"


Xiao Lin sedari tadi memanggil-manggil nya namun Daniel seakan tuli.


"Papa?"


Xiao Lin menggapai kepala papanya yang masih menunduk di depan nya.


"Uuh ? Iya kenapa, boy?"


Ucap Daniel sadar, nafas nya sedikit tersengal seperti orang yang baru saja selesai berlari.


"Aku lapar"


...**...


"Caahh ayo masuk, kita cari makan yang enak"


Shen membuka pintu mobil dengan sangat senang, Xiao Lin pun berlari ke arah pintu mobil dengan tanpa melepas genggaman nya dari tangan sang papa.


Sedangkan di dalam kantor, apalagi di lobi, banyak orang melihat hal itu. Mereka terus bertukar cakap dengan rekan nya kala melihat anak kecil bersama dengan presdir mereka, apalagi anak kecil itu sama persis dengan yang berada di pers waktu lalu.


Gaduh, pasti saja gaduh, pasal nya semua staf ataupun karyawan sangat penasaran dengan kehidupan pribadi sang presdir selama ini.


...**...


"Paman"


Ganggu Xiao Lin di saat Shen tengah melahap makanan di depan nya. Daniel menoleh sejenak dan kembali melanjutkan pembicaraan nya di telpon sambil menghadap dinding kaca.


"Kau butuh sesuatu ?"


Tanya Shen menarik selembar tisu dan kemudian mengelap kotoran di samping bibir Xiao Lin.


"Tidak, Paman"


"Lalu ?."


Bola mata Xiao Lin menunjuk ke belakang Shen dan ternyata tidak jauh dari tempat nya duduk terlihat mama Ella dan juga papa Chen tengah berjalan ke arah mereka.


"Oh astaga, sedang apa mereka di sini ?" Gumam Shen.


"Apa makan siang ku akan setenang tadi ?." Timpal Xiao Lin. Shen menoleh cepat, cekungan di pipinya pun terekspos nyata.


"Sepertinya tidak" Rengut Shen, bibirnya pun ikut manyun begitupun kening nya yang langsung mengkerut.


Teriak Mama Ella dari kejauhan. Daniel pun melonjak kaget sampai handphone pun hampir mencium lantai.


"Ma, Pa ? Kalian ?"


Tunjuk Daniel.


"Hehehe tadi Shen menghubungi mama kalau Lin-lin kita sedang makan bersama, jadi mama dan papa ke sini"


Mama Ella tanpa basa basi mendekati Xiao Lin.


"Aishh sstt kalian sibuk saja, kita tidak datang untuk kalian !"


" Hai tampan nya kakek ?!"


Papa Chen membekap mulut Shen yang sudah menganga hendak protes dan seketika duduk di samping cucu laki-laki nya itu.


Daniel menatap tajam Shen, bahkan retina nya seakan hampir membulat penuh mengikis bola mata yang berwarna putih itu.


"Apa?." Ucap nya tak bersalah dengan hanya gerakan bibir.


Keramaian keluarga Chen di tempat makan tentu sebagian ada yang iri, pasal nya mereka terlihat seperti keluarga yang begitu harmonis.


Namun sebagian orang pun bertanya-tanya di manakah ibu dari anak itu. Kalau untuk wanita yang mereka lihat sangat tidak mungkin karena sedari tadi anak kecil tampan itu memanggil nya nenek.


"Kakak ipar kau sudah datang ?!" Seru Shen membuat kening Yuma sedikit berkerut.


Shen kebetulan sedang di luar tempat makan saat ini karena dering telpon yang harus sekali dia angkat.


"Lalu ? Jika aku tidak ada di sini berarti belum datang, Shen! Kau ini aneh-aneh saja"


Ucapan Yuma pun terdengar seperti gurauan sampai Shen reflek menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.


"Ada Mama dan Papa di dalam, tidak apa bukan ?!"


"Lalu ? Ya tidak apa Shen, kenapa kau seperti tidak enak begitu ? Mana adik ipar ku yang tidak tau malu itu, heum ?"


Kepalan tangan Yuma menonjok perut Shen pelan seraya kekehan khas nya.


"Uuh ? Ah hahahaha, adik ipar ? Masih adik ipar ?"


Otak Shen cepat tanggap, dia malah menggoda nya Yuma sekarang. Di belakang, mengikuti langkah Yuma sambil mengganggu.


"Shen diam"


Langkah Yuma terhenti, badan Shen pun ikut terhenti dan hampir menabrak tubuh kecil Yuma.

__ADS_1


"Iya, ini diam"


...**...


"Mama"


Xiao Lin bergegas turun dari kursi, berlari mendekati Yuma. Atensi orang-orang yang penasaran pun ikut memperhatikan termasuk mama Ella dan juga papa Chen.


Daniel ikut berdiri menatap lurus wanita yang selalu menyita perhatian nya.


'Cantik'


'Cantik'


Tidak sedikit orang memuji kecantikan Yuma saat ini, mereka seolah-olah baru melihat perempuan cantik. Padahal Yuma sama saja, di luaran sana bahkan banyak yang lebih cantik dari nya, hanya saja penilaian seseorang berbeda-beda dan mereka memiliki standar cantik di mata mereka pribadi.


"Ma, Pa"


Sapa Yuma.


"Kau sudah makan ? Ayo makan dulu, kami sudah selesai, biarkan Xiao Lin bersama kami dan kau makan dahulu saja"


Tutur Mama Ella hendak memanggil pelayan, namun gerakan tangan Yuma mengurungkan panggilan nya.


"Tidak, Ma! Aku sudah makan tadi sebelum ke sini" Ucap Yuma.


"Oh begitu" Angguk mama Ella. Sedikit canggung, mungkin sudah lama juga tidak bertemu jadi menyebabkan suasana asing tercipta saat ini.


Sepuluh menit berlalu dan mereka pun akhirnya pulang setelah Xiao Lin kenyang dengan makanan nya.


"Kita bareng saja, biar nanti Daniel mengantar mu pulang ! Kasihan juga dia di biarkan menunggu jemputan"


Ucap Mama Ella sesekalu melirik Xiao Lin yang tertidur di pangkuan Yuma.


"Sini" Pungkas Daniel.


"Tidak perlu repot-repot, aku bisa mengurus nya sendiri ! Kau pulang lah, pasti lelah seharian bekerja dan Shen pun butuh istirahat"


"Lihatlah lingkaran hitam di mata nya, kau begitu tega memperlakukan karyawan mu seperti itu. Daniel"


Tanpa melirik siapapun, Yuma hanya menatap jalanan di depan. Sedangkan Shen dia hanya nyengir kuda saat tatapan mata tiga orang mengarah tajam pada nya.


"Lalu ke mana dia ? Maksud ku, laki-laki itu, kenapa dia membiarkan mu datang sendirian ? Apa mungkin sekarang dia sudah tidak peduli lagi pada mu ? Ataukah sibuk dengan yang lain ?"


Daniel memang frontal dalam bicara, membuat lawan nya sebal, untung yang di ajak bicara orang yang sangat mengenal sifat Daniel.


"Sudah-sudah kenapa jadi berdebat ? Ayo kita pulang!"


"Dan kau, antar Yuma kembali ke rumah"


"Tidak ada penolakan"


Ucap Mama Ella membungkam mulut Yuma saat ini.


...**...


Kini hanya ada Daniel, Yuma dan Lin di mobil. Shen, dia pulang bersama dengan Papa Chen juga Mama Ella.


Keadaan hening, tidak ada yang bersuara, apalagi bercanda.


Mata Daniel melirik dengan ekor mata nya, namun Yuma merasa tidak terganggu dan mengabaikan hal itu.


Rumah Yuma sudah dekat, kedua bola mata cantik itu mengedar, menyapu bersih setiap sudut jalan.


"Perlu aku peringatkan"


Daniel langsung menoleh kala mulut Yuma akhirnya terbuka.


"Eum ?."


Sahut Daniel.


Yuma pun menoleh sekilas dan kembali menatap ke depan.


"Jangan pernah menyinggung Liam apalagi menjelekan dia di hadapan ku, jika tidak maka aku tidak akan segan membencimu'"


Tutur Yuma dengan nada datar, lurus tanpa emosi namun terdengar menekan dan terdengar seperti sebuah peringatan.


"Huffhh salah lagi"


Gumam Daniel,


"Tentu salah".


"Apa kau akan seperti ini terus, Daniel ?! Seharusnya dari awal aku menerima pinangan Liam,"


Tukas Yuma


.


Ckiittttt !!!


Daniel tiba-tiba me-rem mendadak, matanya reflek menatap Yuma dengan tajam bahkan penuh tanya


"Yang benar saja?!" Ketus Yuma terus nyerocos dengan cibiran bibir nya.


"Pinangan ? Apa ? Tidak bisa begitu, kau milik ku dan akan selamanya menjadi milik ku"

__ADS_1


"Yuma jangan macam-macam"


__ADS_2