
Baju yang di kenakan Yuma menutupi bagian-bagian yang banyak bekas penyiksaan dari Daniel, untuk itu mama Ella tidak akan tahu.
"Erina pasti sangat senang memiliki kakak ipar seperti mu ! Tapi dia juga akan merasa iri karena kasih sayang kakak nya jadi terbagi. Dia itu sangat manis, lebih manis dirinya dari pada gula hahaha,"
"Kalian pasti akan langsung akrab." Ujar mama Ella kembali sembari mencuci kentang yang akan di kukus.
Yuma tersenyum di sela memotong sayuran hijau itu. "Aku tidak tahu bagiamana gambaran tentang Erina, karena Shen maupun Daniel tak pernah memberitahu ku tentang nya, " Kenyataan nya memang seperti itu.
Mama Ella terdiam sejenak dan kembali melanjutkan mencuci kentang nya.
...**...
Gary, dia membuka pintu ruangan kandungan yang sedikit terbuka sesaat setelah suster itu mengantar nya.
"Silahkan masuk." Ucap sang dokter saat matanya menangkap keberadaan Garry. Erina pun ikut menoleh ke belakang.
Gary mengangguk sopan dan masuk duduk di samping Erina. Erina mengkode dengan bola mata nya, bertanya kenapa dia masih ada di sini ?.
"Kandungan istri mu sangat kuat, namun harus berhati-hati karena di usia kandungan ini masih rentan bagi cabang bayi !." Tutur dokter itu memecah kedua insan yang tengah bicara lewat tatap mereka.
"Baik dok, terimakasih !," Ucap Gary.
Dokter itu tersenyum tenang karena sikap Gary yang terlihat cemas namun juga penasaran. Erina, dia hanya diam memperhatikan saja dengan banyak pertanyaan muncul di dalam otak nya tentang Gary.
"Jika begitu kami permisi."
Erina menarik lengan Gary ke luar dengan kasar. "Tuan terimakasih dan maaf merepotkan anda !." Erina benar-benar canggung sekarang, seluruh otot dalam tubuh nya sudah hampir tak dapat lagi menahan getaran akibat kejutan yang Tuhan berikan untuk nya hari ini.
"Tidak masalah, lagi pula tadi saya kebetulan lewat dan tak sengaja melihat anda terduduk kesakitan di jalanan," Gary menepuk berulang lengan Erina seraya mengulas senyum nya..
Mata Erina terpaku, dia tak melepas pandangan nya pada Gary, pria yang sangat dia benci. Entah kenapa kebencian itu malah membohongi nya, sikap Gary yang ini begitu lembut dan keras kepala membuat Erina tak dapat mencegah ataupun menyangkal nya.
"Suami anda di mana ? Kenapa membiarkan anda berjalan di luar sendiri di usia kandungan muda ini ? Apa dia tidak tahu bahayanya membiarkan ibu hamil berpergian sendiri ?." Tutur Gary tidak habis pikir.
^^^"Ayah nya di sini, dihadapan ku ! Kau ayah dari anak yang aku kandung, Gary.!"^^^
Batin Erina bergumam menelusuri setiap sudut mata Gary dengan kesenduan yang hampir berarti.
"Terimakasih sekali lagi ! Jika begitu kita berpisah di sini saja." Ucap Erina getir. Gary merasa aneh dengan ekspresi dari Erina dan nada suara yang tiba-tiba prau.
__ADS_1
"Jangan dulu pergi, kau harus di periksa oleh dokter bagian organ dalam !."
"Tidak perlu, aku hanya harus banyak minum dan istirahat." Ucap Erina dengan senyum tipis nya, namun Gary mendengar itu seperti kekeraskepalaan Erina.
"Jika kau menyayangi bayi mu, maka patuh lah ! Kasihan dia jika ibu nya saja tak mempedulikan dirinya."
Gary terus meracuni Erina dengan kata-kata yang ke luar dari mulut nya, tidak kasar namun juga tidak kasar tapi cukup membuat Erina tersinggung.
"Saya bisa sendiri ! Anda lebih baik pergi saja dan sekali lagi terimakasih telah mengantar saya ke rumah sakit."
Erina bukan tidak sopan, namun dia sudah tidak kuat di hadapkan dengan Gary.
Gary tentu mengerti, mengerti akan kehadiran nya yang tiba-tiba. Wanita di hadapan nya sudah berstatus, untuk itu dia mengerti kenapa Erina mengusir nya.
"Baiklah ! Berhati-hati lah."
Gary pun berlalu pergi meninggalkan Erina yang masih berdiri terpaku.
"Hikss.... hikss.." Erina seketika terduduk di kursi koridor rumah sakit masih dekat dengan ruang dokter kandungan.
"Aku harus bagaimana ? Mama pria itu datang kembali, hiks... hiks aku takut ma."
Erina terus menyeka air mata nya, tangis nya mulai terisak tak henti-henti sampai beberapa pasien menoleh pada nya saat ini.
Erina menengadah masih menyeka air mata nya.
"Mobil anda sudah menunggu di depan ! Suami anda mengatakan tidak apa jika tidak ingin menemui spesialis neflorogi, bisa lain waktu. Anda harus istirahat yang cukup biar kembali segar baik untuk bayi anda maupun untuk anda sendiri."
Suster itu menyampaikan dengan nada penuh kekaguman pada Gary, Erina bisa melihat itu.
"Mobil ?."
"Iya nona, mari saya antar." Ucap suster itu kembali.
Erina masih tidak mengerti dengan yang terjadi hari ini kenapa begitu banyak hal yang tidak terduga.
"Nona marah pada suami anda ? Sudah biasa untuk pengantin baru, sering bertengkar karena hal yang tak seberapa tapi akan damai dengan cepat juga !."
Suster itu terus berbicara dengan antusias.
__ADS_1
"Taksi ? Siapa yang pesan ?," Erina benar-benar linglung.
"Suami anda nona,"
"Sshhh" Erina hanya bisa berdesis dan memijit kening nya.
Tidak ingin lagi membuang tenaga, dia pun masuk ke dalam kabin mobil.
"Pak ke alamat xxxxxx." Ucap Erina.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah psikiater yang menangani Erina selama ini.
...**...
Yuma memilih kembali ke kamar nya setelah selesai membantu mama Ella di dapur. Belum selesai sebenarnya, mama Ella menyuruh istirahat di tambah ART yang membantu.
Yuma membuka pintu pelan agar tak membangunkan Daniel.
Daniel masih tidur dengan selimut menutupi punggung nya, Yuma melangkah pelan dan berhenti di depan koper nya.
Di dalam koper itu ternyata bukan hanya berisi baju tapi juga buku yang di jadikan teman Yuma jika sedang tak memiliki kesibukan.
"Aaaaaaaa" Yuma menjerit sejadi-jadi nya saat dirinya kembali berdiri dari jongkok nya dengan buku di dada. Tubuh Daniel berdiri kokoh di belakang Yuma membuat wanita itu kaget bukan main.
"Kau ini kenapa, Daniel ? Bagaimana jika aku jantungan hah ?!." Yuma melangkah mundur hingga kini memiliki jarak dengan Daniel.
Nafas Yuma benar-benar kasar masih kaget akan keberadaan Daniel yang tiba-tiba berdiri di belakang nya.
Daniel masih bersikap dingin dengan bola mata yang begitu menatap semakin tajam. "Jika kau mati, bukan salah ku dan juga bukan urusanku." Ucap nya dengan begitu tega.
Yuma mulai menegang, dia ingin menangis saat ini juga, tapi dia rasa tidak ada guna nya juga.
"Begitu kah ? Kenapa bukan urusan mu dan kenapa bukan salah mu ? Sepertinya kau keliru Daniel ! Banyak sekali kemungkinan dan kecurigaan jika aku mati di sini, mati di hadapan Daniel Chen, suami dari Yuma, "
Sarkas Yuma tidak ingin kalah, jika Daniel tiba-tiba bersikap kasar kenapa dirinya tidak ?.
Daniel menatap jengah dengan rahang mulai menegas.
"Tutup tubuh mu. Memalukan sekali !." Seru Yuma menunjuk acuh pada tubuh Daniel yang telanjang. Yuma pun berlalu pergi menuju balkon kamar dengan buku yang masih dia pegang.
__ADS_1
Daniel malah nampak bodoh saat ini, rasa marah dan benci nya membuat dia lupa dengan harga dirinya di hadapan Yuma.
"Astaga memalukan." Tingkah nya begitu bodoh. Daniel segera menuju kamar mandi. Baru kali ini dia tak berwibawa di hadapan musuh nya sendiri.