Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 78


__ADS_3

Ruang kamar yang biasanya nya menampakan kegagahan kini gelap gulita di selimuti aura mencekam, dingin dan juga tegang.


Di atas kursi tunggal mengarah ke dinding kaca yang masih di sengaja tidak di baluti gorden, Daniel, dia menatap pilu dengan manik mata yang terasa kosong. Jari jemari nya mengepal rapat seakan tengah menahan amarah.


Amarah itu kali ini tidak tertuju pada Yuma, namun kemarahan itu tertuju untuk nya, untuk semua yang ada pada dirinya sendiri.


Diam tanpa berkata, batin pun tak membisik. Daniel beranjak berdiri, membuka baju nya sehingga menyisakan kain tipis membalut tubuh nya. Pria itu ke luar dari kamar menuju ruang bawah tanah, tempat olah raga fisik yang dia tuju.


Bagh...


Bukh..


Duagh.


Bak buk..


bak buk..


Duagh..


Nafas nya naik turun dengan cepat, mata elang nya terus membidik sasak itu dengan tajam, tidak di biarkan untuk diam di tempat.


Nafas yang ke luar dari mulut nya pun perlahan mulai terasa panas, keringat pun bercucuran dari atas sampai bawah.


Daniel membenarkan kain yang melilit pada telapak tangan dan juga jari jemari nya dan terus membidik sasak itu. Amarah nya dia lampiaskan pada benda itu.


Pukulan keras menggema di seisi ruangan, memenuhi setiap sudut yang hanya diterangi oleh cahaya yang temaram..


"Arrrghhhh" Teriak nya membanting kan diri dan akhirnya terpental akan sasak yang terus bergelantungan ke sana ke mari dengan gagah nya.


Daniel tergeletak di atas lantai dengan dua tangan terlentang, Dada kekar nya naik turun menarik dan menghembuskan nafas yang mulai tidak normal.


"Heuksss,,,, arrghhhhhhh kenapa bisa begini ?!." Teriak pilu nya. Air mata pria gagah itu mengalir begitu saja dari sudut mata.


Jari jemari nya berdarah karena memukul sasak dengan begitu keras. Daniel menangis menindih mata nya dengan lengan berdebu itu.


"Yuma maaf, aku sungguh minta maaf" Bibir itu terus mengucapkan hal yang sama, prau dan bergetar, jika ada yang mendengar suara itu mungkin akan ikut menangis karena terasa sangat pilu.


Otak nya kembali mengingat apa yang telah dia lakukan kepada Yuma, wanita yang dia cintai namun juga dia benci. Sekarang dengan singkat nya semua apa yang dia sembunyikan terbongkar hanya karena sikap sang istri yang begitu tegar dan juga tegas, bijaksana dan sabar menunggu.


Shen, dia pun nampak turun ke bawah karena telinga nya mendengar suara yang begitu keras tidak seperti biasa nya. Setelan kantor masih membalut tubuh pria itu dengan acak-acakan.


"Kak" Seru Shen menunduk menatap kakak nya yang masih tergeletak di atas lantai.


Daniel masih sibuk dengan nafas nya, air mata nya dan juga penyesalan nya.


"Aku sudah memperingati mu berkali-kali dan kau tidak mau mendengar nya ! Tidak, bukan hanya aku tapi kami semua."

__ADS_1


"Kak, kita bukan hanya tidak menginginkan Yuma terluka tapi kami malah sangat takut kau yang akan semakin terluka dan itu bukan lah perbuatan siapa-siapa ! Kau sakit karena ulah mu sendiri, beban di pundak mu pun ada bukan karena dari orang lain, melainkan karena ulah mu sendiri !,"


"Lihatlah ! Lihatlah kak, semua nya terjadi,"


"Kita bukan nya menyelesaikan masalah Erina, namun kita malah menambah masalah dan kegaduhan di dalam rumah tanpa tahu bagaimana menyelesaikan nya!"


Shen berkecak pinggang dengan nada sinis namun terdengar sangat lelah, dia benar-benar tidak habis pikir dengan kakak angkat nya ini.


Daniel terbangun dan langsung berdiri lesu, isak dari hidung nya di seka oleh jari yang masih berkain.


"Aku tidak akan melepaskan wanita itu, aku akan mencari nya. Shen !." Tekad Daniel semakin memuncak, Shen terlihat tersenyum.


"Silahkan !." Shen menyeru menatap punggung kotor sang kakak dengan pandangan kasihan.


...**...


Gary, pria itu tengah berada di hotel tepatnya di kantor kerja Liam.


Pria itu duduk di kursi kerja Liam sedangkan sang pemilik kursi mendaratkan bokong nya di ujung-ujung meja menghadap ke dinding berhiaskan grafiti dari nama hotel nya dan di bawah nya terdapat potret sang pemilik hotel.


"Besok aku akan kembali ke China,"


"Laporan mengenai kendala perusahaan telah tertangani dengan baik dan begitu pun di China,"


"Masalah selesai begitu saja tanpa jejak dan tanpa perselisihan mendalam ! Sebenarnya aku curiga jika masalah ini hanya di buat-buat," Tutur Gary.


Liam membenarkan berdiri nya sembari jari jemari nya memainkan mainan berukuran kecil seperti hal nya kapten Amerika dan masih banyak lagi koleksi di sana.


"Istilah pendek nya gagal dalam rencana yang di susun" Tutur Liam seperti seorang analis bidang perdendaman.


"Bagaimana menurut mu ?." Satu alis Liam terangkat, matanya menatap Gary yang tengah memperhatikan dan kembali fokus pada mainan nya.


"Entah lah !." Seru Gary sembari memutar kursinya dan objek yang di tatap jadi sama dengan Liam.


"Besok sepupu ku akan menginap di hotel ini menggunakan kamar ku,"


Liam menoleh dan sejenak terdiam, namun semenit kemudian duduk berhadapan dengan Gary yang tengah memutar kembali kursinya.


"Tolong jaga dia untuk ku" Ucap Gary. Kata itu seakan menjadi perintah untuk Liam.


"Siap laksanakan" Binar nya sangat antusias, senyum nya malah membuat Gary menyelidik, namun Liam hanya cengengesan di tatap seperti itu.


...**...


"Baru pulang kamu !? Kemana saja hah ? Keluyuran malam-malam dan dengan seenak nya meninggalkan kantor !,"


"Bukan, bukan meninggalkan kantor tapi kau malah menggantikan si Gary di sana !."

__ADS_1


Suara bulat rendah menggema itu menguasai udara di dalam ruangan, tampang nya kasar dan juga perawakan nya sedikit gendut namun termakan oleh tinggi badan untuk itu ayah dari Xian itu nampak seperti seorang pemain aksi sirkus antara pemilik dan hewan peliharaan nya.


Baru saja Xian menapaki ruang keluarga, telinga pun sakit mendengar ocehan sang papa yang tiada bosan nya.


Bukan nya apa namun yang mereka bahas itu-itu saja, tidak ada yang lain.


"Aku lelah" Xian, dia acuh mengabaikan amarah papa nya yang semakin memuncak.


Mata lembut sang ibu hanya dapat mengikuti langkah putra nya, tidak dapat menegur ataupun membela nya. Terlalu takut sehingga menjadi istri yang penurut dan itu membuat Xian merasa ibu nya itu hanyalah robot ciptaan sang papa.


"Anak tidak tahu diri" Umpat sang ayah berlalu pergi dengan kekesalan.


Xian menjatuhkan tubuh nya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang di warnai oleh cat abu kelabu.


"Kau di mana, Yuma ?!." Gumaman dari bibir yang sudah nampak kesulitan berucap.


...***...


Suara dentingan perkakas dapur membangunkan Erina, mata kantuk itu terpaksa untuk terbuka. Dia pun beranjak turun dari ranjang hendak ke luar karena tak mendapati Yuma di samping nya.


Erina beberapa kali menguap sampai di mana dirinya melihat kakak ipar n sedang memasak.


"Kak ? Astaga ini kau yang memasak nya ? Semua ?." Erina seperti di tampar oleh mimpi, padahal makanan ini hanya ada dalam mimpinya namun entah kebaikan apa yang dia lakukan kemarin sampai-sampai mimpi nya menjadi kenyataan begitu cepat.


Yuma memperhatikan, dia masih mengolah buah-buahan untuk di jadikan salad, kedua tangan nya bekerja bersamaan.


"Cuci muka dulu, Erina !." Tajam Yuma. Erina yang hendak mencomot daging sapi berbentuk dadu itu langsung di urungkan dan hanya nyengir kuda menatap sang kakak ipar.


"Makanan mu tidak akan lari ! Cuci muka dan minum terlebih dahulu sebelum memasukkan makanan keras itu"


Dengan secepat kilat, belum juga Yuma selesai bicara Erina sudah lari ke wastafel dan kembali dengan cepat.


"Tch tch anak ini ada-ada saja." Yuma hanya geleng kepala.


Brokoli, bayam, daging sapi kecap berbentuk dadu dan juga minuman jus alami yang langsung di buat oleh Yuma khusus untuk adik ipar dan juga bayi di dalam perut nya.


Bel rumah berbunyi, Yuma menghentikan dahulu pekerjaan nya dan menahan lebih awal Erina yang hendak beranjak.


"Biar kakak saja" Ucap Yuma dan segera berjalan ke arah pintu dengan celemek nya.


Klekk..


"Kak ?." Yuma seperti kaget akan kedatangan Gary sehingga dirinya tersentak.


"Ada apa ?." Gary langsung meletakan punggung telapak tangan nya pada kening Yuma, seolah takut jika terjadi apa-apa dengan adik sepupunya itu..


"Aku baik-baik saja kak, ! Ayo masuk, sekalian temani Erina sarapan" Tarik nya pada lengan Gary.

__ADS_1


"Pagi" Sapa Gary.


"Pagi"


__ADS_2