
Keesokan hari nya pun sama, kini Yuma tengah berada di dalam ruangan Daniel dengan membawa berkas laporan mengenai pembelian bahan-bahan mentah untuk di produksi.
Daniel memeriksa hasil kerja Yuma dengan teliti. Yuma pun hanya dapat menatap Daniel.
" Bagus, kita bisa mulai proses dan segera laporkan jika ada masalah. Alat-alat produksi dan juga yang menyangkut hal itu segera laporkan kepada saya ". Ucap Daniel dengan nada berwibawa nya.
" Baik pak ". Sahut Yuma. " Jika begitu saya permisi ". Pamit Yuma dan berlalu pergi tanpa di cegah oleh Daniel.
Yuma menghentikan sejenak langkah nya di depan pintu ruangan Daniel dan berpikir ada yang aneh dengan atasan nya itu.
" Aneh ". Gumam Yuma yang mendapati jika Daniel tidak bersikap seperti kemarin.
Yuma kembali duduk di ruangan nya dan hanya mendapati Jingyi di sana. " Kemana mereka ? ". Tanya Yuma.
" Mereka ke pabrik untuk mensurvei proses produksi, sedangkan Levon di panggil oleh pak manager ke atas ". Ucap Jingyi. .
" Oh ". Angguk Yuma.
...**...
Daniel tengah berbincang serius dengan Shen di dalam kantor nya mengenai orang-orang yang belum lama ini menyerang kantor nya secara brutal.
" Kita tidak perlu dahulu melakukan kekerasan, kita akan menunjukkan bagaimana berbisnis dengan cerdas ". Ucap Daniel.
" Bagus juga apa yang kau katakan, tapi juga mereka akan semakin membencimu karena merasa tersaingi ". Seru Shen.
" Tidak masalah Shen, mari kita buat mereka merasa terbakar ". Daniel merapihkan berkas dan juga kertas yang tengah berada di atas meja nya. Shen pun ikut membantu sembari berbincang-bincang.
Kantor pun sudah senyap, para pekerja di sana sudah pulang dan kini tinggal Yuma sendiri di sana. Jingyi pun baru saja pulang di ikuti oleh yang lain. Dari banyak nya ruangan hanya kantor Yuma yang masih terang.
Daniel dan juga Shen pun hendak pulang dan kini tengah berada di dalam lift. Tuk,, tuk,, tuk,, Kedua alas sepatu Daniel dan juga Shen saling bertautan.
__ADS_1
Langkah mereka terhenti saat melintasi ruangan Yuma yang masih terang. " Masih ada yang bekerja ? ". Kedua alis Daniel menaut.
" Coba kita lihat kak ". Seru Shen melangkah lebih dulu. Daniel pun mengekori Shen.
Yuma masih terduduk dengan menggigit ballpoint, rambut nya di ikat cepol hingga leher jenjang nya terekspos. Style kantor nya benar-benar manis dengan baju turtleneck soft pink di padukan dengan rok bawah lutut bergaris.
" Yuma kau belum pulang ? ini sudah jam berapa tapi kau masih di sini !". Shen masuk melangkah dengan tangan mengekspresikan ucapan nya.
Yuma menatap lurus melihat kedatangan Shen dan juga Daniel. " Sebentar lagi selesai Shen ". Ada hembusan lelah dari nafas Yuma. Daniel mendekati kursi kerja Yuma dan kini dia berada di belakang nya.
Shen berdecak pinggang dengan satu tangan nya, sedangkan tangan yang lain memegang kertas yang berisikan coretan pena hitam.
" Kau sudah makan ? ". Tanya Daniel.
" Belum, nanti saja saat perjalanan pulang! ". Sahut Yuma sejenak menengadahkan kepala nya sehingga hanya dagu Daniel yang terlihat oleh mata.
" Kau lanjutkan saja, aku akan memesan makanan untuk mu dan juga Daniel ". Ucap Shen berlalu pergi. Yuma melanjutkan kembali pekerjaan nya.
Pltaak !
Daniel menyentil lembut kening Yuma. " Jangan bekerja terlalu keras, esok masih ada hari untuk menyelesaikan nya ". Ucap Daniel. Yuma menyipitkan matanya sehingga kedua alis pun menaut.
" Ini pekerjaan ku dan juga tanggung jawab ku, jadi diam lah tuan Daniel !. Jika kau ke sini hanya menggangguku maka lebih baik anda pergi ". Suara Yuma terdengar menekan di setiap kata nya, padahal saat Shen masih berada di sana Yuma pun biasa saja. Tapi entah kenapa hati nya belum berdamai akibat perlakuan Daniel yang hampir menodai nya.
" Aku akan membantumu ". Ucap Daniel.
" Tidak perlu ! Aku bisa sendiri. Lagi pula anda ini kenapa ? Jangan berlebihan ". Sarkas Yuma. Yuma benar-benar tidak peduli dia atasan nya atau bawahan nya saat ini.
" Galak ! Tapi aku suka ". Daniel menahan kursi Yuma dengan kedua tangan nya. Dia terus menatap Yuma dengan antusias.
" Jangan macam-macam atau aku akan memukul mu ". Ancam Yuma.
__ADS_1
" Aku tidak akan macam-macam pada mu, tapi jika kau yang macam-macam kepada ku maka aku akan senang ". Daniel terus menggoda Yuma.
" Tch dasar gila. Pergilah kau menggangguku ! ". Usir Yuma mengguncang kursi agar Daniel melepaskan nya.
" Aku akan melepaskan nya tapi kau harus memaafkan aku. Yuma aku janji tidak akan seperti itu lagi ! Maafkan aku ". Daniel benar-benar bersungguh-sungguh. Seorang pria dingin dan juga datar tengah menghilangkan harga dirinya di hadapan Yuma, entah apa alasan nya.
Yuma hanya diam menatap dalam manik mata yang begitu tajam itu seolah tengah mencari kesungguhan dalam mata nya.
" Kenapa kau sampai seperti ini Daniel ? Astaga apa yang harus aku katakan kepada mu ?!". Yuma benar-benar kesal saat ini, namun dia mencoba untung menangani rasa takut nya.
" Kau ini jika masih ada masalah maka selesaikan dengan baik, bukan malah lari mencari minuman tidak sehat itu ". Yuma membulatkan suara nya memarahi Daniel.
" Lihatlah akibat nya Daniel, kau juga merasakan nya bukan ?! Kau hampir melecehkan aku dan kesehatan mu juga terancam. Baiklah kau boleh minum alkohol sebagai teman stres mu tapi jangan terlalu berlebihan ! ". Yuma terus saja mengeluarkan unek-unek di dalam benak nya, walaupun tidak semua setidaknya hatinya merasa sedikit lega
" Sekali lagi aku mendapat perlakuan seperti itu lagi dari mu maka tidak ada maaf lagi untuk mu. Aku sama sekali tidak akan memaafkan mu, sekalipun kau adalah teman ku! ". Ucap Yuma menekan jari telunjuk nya di udara dan tepat di depan batang hidung Daniel.
" Jadi kau memaafkan aku ? Benarkah ? Terimakasih ". Senang Daniel.
" Cih ! Kau benar-benar tidak pantas bersikap seperti ini, kesan nya kau terlihat lebih soft boy. Datar dan juga dingin itu sangat cocok dengan wajah mu !". Seru Yuma.
" Sepertinya Daniel yang pertama aku temui bukan Daniel seperti ini !". Sindir Yuma mengingat saat dirinya bertemu dengan Daniel kala penyerangan di kantor. Daniel-benar dingin dan juga berbicara sarkas kepada nya.
" Terima kasih Yuma ! Pegang lah ucapan ku agar suatu saat nanti jika aku khilap kau bisa menegurku ". Ucap Daniel.
" Tidak perlu seperti itu juga, tapi aku senang ternyata kau pandai meminta maaf ! ". Seru Yuma bernada menyindir.
" Kalian sedang apa ? ". Shen baru saja masuk dan di kedua tangan nya terdapat paper bag berisi makanan. Daniel berdiri kemudian Yuma memutar kursi kerjanya.
" Ssshh apa yang sedang kalian lakukan ? ". Shen menatap selidik kepada mereka berdua bergantian dengan kedua tangan menyimpan paper bag di atas meja milik Levon.
" Tidak ada ". Jawab Yuma dan juga Daniel bersamaan
__ADS_1