
Gary, dia masuk dengan langkah panjang, masuk ke dalam lobi hotel hendak menuju ke kamar nya, kamar yang biasa dia sewa selama di singapura dan hotel itu pun dalam kendali Liam-teman nya.
Mata pria itu memicing kala mendapati sosok wanita yang sangat dia kenali, namun dia tepis karena kemungkinan wanita itu hanya mirip dengan dengan Yuma-adik sepupunya.
Gary akhirnya kembali melanjutkan langkah nya, namun kepala nya masih penasaran dan dia memutuskan untuk kembali mundur mendekat pada meja resepsionis.
"Yuma ?." Tepuk nya sopan pada pundak wanita itu, menghilangkan rasa penasaran nya.
Jika benar itu adalah Yuma, lalu sedang apa di Singapura, kendati nya dia kini telah bersuami, apa Daniel tengah ada bisnis di Singapura ? Pertanyaan yang bergelut di kepala Daniel seketika pecah saat wanita itu berbalik.
Yuma, dia membalikkan badan nya menghadap pria yang tengah dia cari.
"Kakak" Yuma berhamburan memeluk Gary sampai tubuh laki-laki itu terhuyung hampir tersandung.
Gary terkejut, pelukan Yuma sangat erat pada tubuh nya, ini untuk pertama kali dari mereka berdua dekat dan hal itu sontak membuat sang kakak awas, buka awas karena hendak berhati-hati, namun awas karena siap sigap terhadap adik nya.
"Yuma ada apa ? Dengan siapa di sini ? Mana Daniel, kau ke sini bersama suami mu, kan ?!." Gary melepas pelukan, Yuma menatap kakak nya intens seakan setiap sudut mata Gary di tatap teliti oleh Yuma.
"Yuma" Nada suara Gary sedikit meninggi menyadarkan Yuma yang terus berdiam diri. " Ayo ikut kakak". Gary menarik lengan adik nya lembut dan mengambil alih tas kecil dari tangan Yuma.
Mereka pun sampai dan langsung masuk. Yuma duduk sesekali membuang nafas berat nya.
Gary menyediakan air minum dan juga beberapa potong cake yang ada di kulkas untuk Yuma.
Di sela menyimpan minum itu, Gary mengamati Yuma, alis nya mengerut karena tak mendapati koper atau semacam nya di sekitar Yuma.
"Yuma ada apa, eum ? Kenapa kau bisa berada di sini, di mana suami mu ?,"
"Yuma"
Gary benar-benar lembut, sorot mata nya memancarkan kekhawatiran, dia di buat bingung dengan Yuma yang diam seperti bersiap memberi tahu sesuatu.
Yuma kembali menatap Gary namun sekarang dengan tatapan serius.
"Kak,"
"Eum ?." Sahut Gary. Mereka duduk bersebrangan di meja makan kecil di dalam kamar hotel.
"Katakan pada ku jika prasangka ku ini tidak benar ! Katakan jika kau tidak melakukan hal buruk itu. aku,,,, hiks,, hiks"
Gary seperti tengah di hadapkan dengan hal aneh sekarang.
__ADS_1
"Yuma ada apa ? Kenapa ?." Gary langsung mendekat, berdiri di samping adik nya itu.
Terlihat pria itu kebingungan dengan Yuma yang tiba-tiba menangis.
"Kak," Yuma menengadah menatap Gary. Tatapan Gary pun menyendu dan khawatir.
"Kenapa ?."
"Perempuan itu hamil." Yuma menyeka air mata nya dan membenarkan duduk nya, memalingkan wajah nya dari tatapan Gary.
Kedua alis Gary tentu menaut, dia masih belum mengerti dengan ucapan dari Yuma...
"Hamil ?, "
"Siapa yang hamil ?." Tanya Daniel sedikit bergetar, dia tak tahu apapun namun kata hamil menggentarkan hati nya saat ini.
Yuma kembali menoleh. Hidung merah dan sesekali menyusut ingus nya yang ke luar.
Yuma bingung harus mengatakan apalagi sekarang, dia masih takut perkataan nya menyakiti Gary.
"Katakan jika ini tidak benar, katakan jika beberapa bulan lalu kau tidak merusak seorang gadis ! Aku ingat beberapa bulan lalu kau ada pekerjaan di sini dan bersamaan dengan itu Daniel, dia semakin dekat dengan ku dan akhir nya kami menikah."
Tutur Yuma masih dengan air mata ke luar walau tanpa isak tangis. Bola mata Gary menajam, kelopak nya membulat sempurna, dia bisu dengan perkataan Yuma.
Yuma merasakan itu dan akhirnya tangis wanita itu pecah, dari genggaman Gary yang semakin erat itu menunjukkan jika apa yang dia sangka adalah benar.
"Kak, apa benar ?." Yuma memastikan kembali walau tentu pasti benar. Air mata Yuma menetes pada punggung telapak tangan Gary.
"Benar ! Itu benar,"
"Tapi kenapa kau bisa tahu ? Lalu Daniel ? Kenapa dengan waktu yang sama itu ?." Jawab Gary dengan jujur.
"Kak"
"Kak dia adik dari Daniel. 'Erina !." Ucap tegas Yuma.
"Apa ?." Sontak berteriak, bagaimana tidak. Erina adalah adik dari Daniel, Daniel Chen.
"Iya kak, dia Erina adik dari suami ku" Ucap Yuma dengan nafas yang sudah memanas dan naik turun seakan-akan sesak.
Daniel benar-benar membisu, dia terdiam mencerna berita yang meledakkan otak dan juga jantung nya, pancaran mata nya kosong.
__ADS_1
"Yuma" Pikiran nya langsung menuju ke hubungan Yuma dan juga Daniel.
"Jangan katakan dia menikahi mu kare,,,,,"
"Benar kak hiks,,, hiks,, hiks,," Sahut nya dengan tangis menyertai. Yuma bersidakep menyembunyikan wajah nya du sela kedua tangan yang telah lepas dari Gary.
Ekspresi Gary sudah tak berupa, dia benar-benar kalap, kalap akan kebenaran yang baru saja terungkap.
Tangis Yuma membuat tangan yang hendak menggapai air mata itu bergetar hebat. Rasa bersalah dan juga rasa pedih menyatu, dia bersalah atas semua yang menimpa.
"Maaf, maafkan kakak ! Kakak sungguh tidak tahu." Gary reflek memeluk Yuma, menarik adik sepupunya ke dalam dekapan nya.
"Heukss... heuks.. heuks.."
Wanita itu terus menangis, menumpahkan rasa sakit nya di pelukan sang kakak.
"Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan ?." Tanya Yuma.
"Kakak pun sedang mencari wanita itu sekarang,"
Yuma mendengarkan, dia yakin jika kakak nya orang yang bertanggung jawab.
"Beberapa bulan lalu tidak sempat mencari tahu tentang wanita itu karena masalah pekerjaan di tambah masalah mendadak muncul dari kerjasama antara kita dan juga Chen Group,"
"Untuk itu kakak belum sempat dan baru bisa mencari tahu sekarang,"
"Liam, dia memberi tahu kakak malam tadi dan memberikan alamat nya,"
"Ini alamat apartemen milik wanita itu."
Gary mencoba menjelaskan, dari kata yang di ucapkan terdengar memang jika Gary hendak bertanggung jawab, untuk itu sekarang senyum Yuma terbit.
"Aku tahu kakak orang yang bertanggung jawab." Ucap Yuma melebarkan senyum nya.
"Kakak sudah dua kali bertemu dengan wanita itu, tapi demi apapun kakak tidak mengenali wajah nya, karena saat malam itu kakak dalam keadaan mabuk berat."
"Jadi ?." Tukas Yuma.
"Dia tengah mengandung." Ucap nya.
Yuma mengambil handphone nya dan membuka galery. "Ini potret nya." Ucap Yuma memperlihatkan wajah seorang gadis remaja yang tengah tersenyum, merangkul tangan kedua pria di setiap samping. Tepatnya, gadis itu berdiri di tengah mereka.
__ADS_1
Gary terfokus dan benar saja, perempuan di dalam potret itu sangat mirip dengan wanita itu, wanita yang sudah dua kali dia lihat.
"Ini benar dia," Seru Gary teringat potret yang sama dalam handphone Liam.