
...***...
"Daniel"
Shen membuka pintu kantor dengan sedikit terburu-buru begitupun dengan langkah nya menuju meja kerja Daniel.
"Apa lagi ?" Tegur Daniel hampir meremas ballpoint di tangan nya karena sedari tadi Shen terus ke luar masuk ruangan.
Shen mengatur nafas, Daniel memundurkan kursi meja dan duduk dengan melemaskan punggung nya.
"Sudah aku bilang, jika wanita itu datang lagi tinggal cegah saja. Kalau bisa usir sekalian ! Begitu saja tidak becus !"
"Ssahh bukan kah semua nya sudah hampir selesai ? Kau sudah mengurus masalah wanita itu dengan baik, bukan?"
"Shen, kau paham bukan ? Sekarang Yuma kembali dan aku tidak ingin membuat masalah yang akan membuat nya pergi untuk ke dua kalinya"
"Jadi sekarang urus wanita itu ! Bisa tidak kau atasi sendiri, Heum ?! Pekerjaan ku tidak selesai-selesai sedari tadi. Mengganggu saja !"
Daniel terus nyerocos dengan ekspresi kesal dan juga heran dengan adik sekaligus asisten nya itu.
Sedangkan Shen dia seolah tidak mendengar dan sibuk mengatur nafas sesekali menekan kepala nya begitupun tangan kiri menumpu di atas meja kerja Daniel.
"Bukan wanita itu, Daniel ! Dengar dulu"
Sela Shen dengan kedua tangan nya supaya Daniel tidak bicara lagi.
"Lalu ?" Seru nya menautkan kedua alis dan menyilang kan kaki dengan kaki kanan berada di atas kaki kiri.
"Yuma ada di lobi" Ucap Shen.
Kedua kelopak mata Daniel membulat penuh.
"Aissh kenapa tidak bilang dari tadi, bodoh!"
Reflek Daniel berdiri dan memukul kepala Shen dengan ballpoint, lalu berjalan cepat ke luar ruangan.
"Dih gila" Umpat Shen.
...**...
Xiao Lin nampak senang, dia tengah berlari ke sana ke mari seakan tengah main kejar-kejaran. Sedangkan Yuma dan Liam tengah duduk di ruang tunggu lobi sebelah kanan tang dekat dengan jalan ke kantin kantor.
'Brughh'
"Aww"
Ringis seseorang dan suara jatuh pun menjadi pusat perhatian.
Yuma dan Liam reflek menoleh, tidak lagi berada dalam perbincangan, mereka berdua sontak langsung berlari ke arah XiaoLin yang tengah duduk di atas lantai.
__ADS_1
Staf kantor yang terjatuh pun masih memegang kaki nya, sepertinya keseleo akibat tubrukan keras dari Xiao Lin.
"Sayang, you oke ?"
Nada khawatir pun nyaris tertelan dalam tenggorokan Yuma, dia membantu Xiao Lin berdiri dengan benar. Sedangkan Liam membantu staf wanita yang masih memegang pergelangan kaki nya.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya Liam seraya membantu staf itu berdiri.
"Huffhh syukurlah"
"Saya bantu anda duduk atau kita langsung ke rumah sakit saja !" Lanjut Liam merasa tidak enak.
Staf itu tersenyum hangat dan ramah, menjauhkan badan nya dari pegangan Liam.
"Tidak perlu tuan, di sini ada dokter nya juga, mungkin saya langsung ke sana saja. Tidak perlu tidak enak, ini tidak apa-apa, anak kecil memang seperti ini dan tidak perlu di marahi"
Staf wanita itu sungguh ramah, terlihat dari wajah dan sorot mata nya yang lembut.
"Kakak, maafkan aku"
Xiao Lin menundukkan pandangan nya.
Semua mata tertuju pada anak itu sekarang. Yuma juga Liam mengulas senyum walau sedikit kening mereka berkerut.
"Kakak yang salah, tadi tidak berjalan dengan baik jadi tidak perlu meminta maaf. Oke !." Tangan jenjang nya menggapai wajah gembul Xiao Lin.
"Benarkah ?" Ujar nya reflek menengadah.
Xiao Lin menatap bergantian Liam dan juga Yuma.
"Ma," Ucap nya bermaksud meyakinkan jika tadi bukan dia yang bersalah.
"Hahaha sini sini," Tawa Liam memecah pandangan Yuma dan membawa Xiao Lin ke dalam pangkuan nya.
"Jika begitu saya permisi"
" Nyonya, putra anda sangat tampan"
Puji staf itu dan akhirnya pergi dengan berjalan tertatih.
Dari lantai atas, Daniel dan Shen masih berada di sana, menyaksikan drama kecil dari putra dan istri nya.
"Kak, apa benar laki-laki itu hanya sebatas teman kaka ipar ? Sshh seperti nya dia tidak biasa!" Celetuk Shen dan perkataan nya membuat hati Daniel semakin tidak tenang.
"Diam kau, Shen" Tekan Daniel, kembali berjalan kr bawah.
"Aku kan hanya curiga saja hahaha" Perangai Shen memang bisa di tebak, dia selalu saja bisa memanas-manasi kakak nya dengan banyak candaan.
__
__ADS_1
"Yuma?"
Daniel menyapa.
Yuma dan Liam menoleh bersamaan dengan Xiao Lin masih berada di pangkuan Liam.
"Papa" Teriak Xiao Lin reflek mengguncang tubuh nya agar Liam menurunkannya.
Daniel merentangkan tangan nya dan membawa Xiao Lin ke dalam gendongan nya.
"Kalian—?"
Belum selesai Daniel bertanya, Yuma menukas lebih dulu perkataan nya.
"Lin, nanti mama akan menjemput mu jam tiga aja ya, awas jangan nakal. Mama ke toko kue dulu lalu kembali lagi ke sini"
"Ganggu saja papa mu sepuasnya"
Yuma mendekat mengacak lembut pucuk kepala Xiao Lin yang masih dalam pangkuan Daniel.
"Uaah benarkah ? Lin boleh bersama Papa ?." Senang nya dengan mata berbinar, begitupun dengan Daniel, wajah nya berubah senang kala Yuma berucap.
"Tentu, mama mu Paman ajak kencan dulu. Oke" Timpal Liam asal. Daniel dan Shen yang tahu maksud dari perkataan itu menajamkan tatapan nya. Yuma hanya melempar senyum saja saat ini.
"Oke ! Nanti pulang bawa kue kesukaan ku, ya" Xiao Lin malah senang, dia mengangguk polos.
"Yuma" Tahan Daniel pada tangan Yuma. Liam ikut menoleh saat dirinya hendak melewati pintu ke luar.
"Liam hanya menemani saja, aku akan kembali nanti"
"Dia ada urusan katanya, jadi sekalian saja!."
Ucap Yuma, dia terdengar klarifikasi singkat pada Daniel dan tentu saja hal itu membuta hati Daniel merasa lega dan salah tingkah akan perkataan Yuma.
Dia seperti istri yang memperjelas situasi itu.
"Jagoan, ayo bersama paman dulu" Ucap Shen dari belakang.
"Kak, lepas dulu" Tepuk Shen pada tangan Daniel agar menurunkan Xiao Lin.
Kini tinggal Daniel dan juga Yuma di sana. Liam malah melanjutkan langkah nya ke samping mobil.
"Yuma" Ucap Daniel lembut, mengacuhkan keadaan kantor dengan pasang mata staf terus mengawasi.
"Jaga Xiao Lin untuk ku sebentar, eum!"
Tutur Yuma mengulas senyum nya seraya mengusap lengan Daniel yang berotot.
"Kau tidak marah lagi pada ku?" Reflek Daniel bertanya seperti anak kecil. Yuma menaikkan satu alis nya penuh dengan sikap Daniel.
__ADS_1
"Tidak ada yang marah ! Sudah lah, aku pergi dulu"
Yuma menepuk kembali lengan Daniel dan berlalu pergi meninggalkan Daniel yang masih mematung di tempat.