
Daniel mengangkat dan menggendong Yuma ala Bridal style, Yuma tidak terganggu, dia malah memperdalam pelukan nya sampai kepala nya dia tempelkan pada celuk leher Daniel.
"Apa dia selelah itu?! ". Ujar Shen menatap kasihan pada Yuma.
" Merepotkan ! aku tidak mau tahu, kau urus wanita ini ". Rahang Daniel menegas.
" Tapi, aku harus mengurus mereka ". Tunjuk Shen ke belakang, bermaksud menunjuk musuh nya yang masih dia biarkan tergeletak.
" Anak buah ku yang akan mengurus nya ". Ucap Daniel.
" Urus wanita ini ". Daniel kembali menyerahkan Yuma kepada Shen dan dia berlalu pergi.
" Sial !!". Umpat Shen.
" Nona bangunlah, hey bangunlah! ". Guncang Shen berulang kali.
" Eum, Uuh ! Maaf tuan, kepala saya sedikit pening.". Sadar Yuma seketika langsung mengecek jam ditangan nya.
" Astaga maaf tuan, jika begitu saya pamit ". Teriak Yuma setelah memeriksa jam ditangan nya.
" Saya akan mengantarmu ". Seru Shen berbasa-basi.
" Tidak perlu tuan, maaf merepotkan mu ! sekali lagi maaf ". Tolak Yuma.
" Baiklah, hati-hati saat di perjalanan dan maaf karena mereka kau terkena masalah ". Tutur Shen.
" Ahh kau tidak perlu meminta maaf, harus nya saya yang berterima kasih kepada kalian berdua ". Ucap Yuma, Daniel memperhatikan Yuma dari jauh.
Shen dan Yuma terlihat begitu akrab, padahal mereka baru saja bertemu.
" Apa kalian juga salah satu karyawan di sini ? apa kalian juga sedang lembur ?! ". Tanya Yuma sebelum pergi.
Shen terperangah. " Apa dia tidak mengenali kami ?! ". Batin Shen heran, padahal siapa yang tidak tahu dirinya dan juga Daniel.
" Aah ! Seperti ucapan mu, kami bekerja di sini ! ". Sahut Shen.
Yuma berpamitan untuk pulang, dia dengan tertatih berjalan ke parkiran hendak mengambil mobil nya.
Daniel menetap kepergian Yuma dan mendekati Shen.
" Ayo kita ikuti wanita itu ". Seru Daniel masuk terlebih dahulu ke dalam mobil karena kebetulan Shen menghentikan mobil nya di depan pintu masuk perusahaan.
" Ada apa ? kenapa kita harus mengikuti nya ? ". Bingung Shen menatap Daniel.
" Cepat ikuti saja ". Tajamnya melotot pada Shen yang terus saja bertanya.
__ADS_1
" Siap tuan ". Shen dengan cepat menginjak gas dan melajukan mobil nya.
...**...
Axel dan juga Kirei akhirnya keluar dari kamar, perut yang belum terisi membuat mereka langsung menuju ke dapur.
" Bi tolong siapkan makanan untuk ku ". Seru Axel sedikit berteriak. Axel duduk tepat di samping Kirei yang masih saja bersikap manja kepada nya.
Beberapa pelayan yang melihat pun begitu menatap hina kepada Kirei. Bermain di belakang Yuma membuat mereka yang tahu langsung pergi meninggalkan sang majikan dan kembali pada pekerjaan mereka masing.
Mereka sedari semalam berpikir tentang terbuat dari apa hati Yuma sampai mereka tidak melihat ketegangan dan kemarahan pada wajah Yuma.
Akhirnya kepala pelayan menyajikan masakan dan menata dengan telaten tanpa ingin memperlihatkan ketidak sukaannya kepada Kirei.
"Wah, ini pasti enak ". Semangat Kirei langsung melahapnya.
"Pelan-pelan ". Pandang Axel pada Kirei yang begitu lahap menyantap masakan di depan nya.
...**...
Axel dan juga Kirei begitu menikmati masakan itu, tapi kenikmatan itu tidak berlangsung lama saat telinga kedua sejoli iti mendengar bisik-bisik beberapa pelayan yang hilir mudik.
ukhu ukhu ukhu, Axel dan juga Kirei terbatuk dan langsung meminum air putih yang telah tersedia di meja.
" Maaf tuan muda, ada titipan untuk nona ini !". Axel menoleh ke belakang.
" Titipan untuk dia ?". Tunjuk nya pada Kirei dengan ibu jari tangan dan Kirei pun ikut menoleh.
"Iya benar tuan, ini.....!". Kepala pelayan itu memberikan ponsel yang malam kemarin Yuma titipkan kepadanya.
"Ini handphone ku". Kirei meraih handphone itu kasar sembari dia mengerutkan kening nya begitupun dengan Axel.
"Sari siapa bibi mendapatkannya ?". Tanya Axel.
" Itu dari nona Yuma, tuan ! Malam kemarin dia datang ke sini dan menitipkan ponsel itu , tapi dia langsung pergi setelah keluar dari kamar tuan muda !". Jelas nya sedikit gugup.
" YUMA ?!". Teriak mereka berdua.
"Iya tuan ! Nona Yuma ". Jelas nya kembali.
Mereka berdua begitu terkejut dengan informasi dari kepala pelayan, pantas saja sedari malam kemarin handphone Yuma tidak dapat Axel hubungi sampai sekarang.
" Apa bibi tidak berbohong kepadaku ?!". Tanya Axel memastikan jika ini tidak benar. Kirei terdiam saat ini, entah apa yang menjadikan mulutnya terkunci rapat.
" Tidak tuan ". Jawab nya kembali.
__ADS_1
" Baik, kalian pergilah ". Seru Axel menyuruh mereka pergi.
Axel mengalihkan tatapan nya dan duduk menyamping agar bisa melihat Kirei dengan penuh.
" Bukan kah kau ke apartemen nya kemarin siang?". Selidik Axel
" Iya, tapi dia benar-benar sedang sakit ! ". Sahut Kirei.
" Kita harus menemui nya, cepat bersiap !". Axel beranjak bersiap sembari meraih kunci mobil.
" Tidak! Aku tidak mau ikut, kenapa juga kita ke sana ? toh dia sudah terlanjur tahu. Iyakan ?!". Malas Kirei, kesal melihat reaksi Axel yang penuh dengan ketakutan.
"Terserah". Axel melangkah kaki nya cepat tanpa menghiraukan Kirei yang masih saja enggan mengikutinya.
" Brengsek! Kau benar-benar halangan untuk ku Yum !". Gumam nya mengepalkan tangan tidak terima.
Kirei dengan kesal beranjak berdiri mengikuti Axel sembari menghentakkan kaki nya.
" Apa yang kau lakukan ?!". Sentak Axel saat Kirei menutup pintu mobil dengan sangat keras, Kirei tak mengindahkan amarah Axel sama sekali.
Tanpa ingin memperbesar masalah, Axel tancap gas melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi.
...**...
Di dalam perjalanan, Yuma pun tengah mengendarai mobil nya hendak untuk pulang, tapi saat melewati kedai ice cream, dia menepikan terlebih dahulu mobil nya di sana.
Yuma berpikir jika memakan ice cream di malam hari itu sangat menyenangkan dan itu selalu dia lakukan setiap harinya.
" Selamat datang kak !". Sapa salah satu pegawai di kedai.
Para pegawai di sana sudah tak asing dengan wajah cantik Yuma, sering nya Yuma berkunjung membuat pekerja di kedai pun tahu ice apa yang di sukai olehnya.
Yuma hendak memesan tapi pekerja di sana lebih dulu menyeru. " Ice Coklat stroberi ". Ucap mereka bersamaan.
" Antar kan ke tempat biasa, ok !". Ucap Yuma tersenyum sembari melenggangkan kaki jenjang nya yang selalu terbalut oleh celana jeans.
Tidak lama menunggu, akhirnya ice krim kesukaannya bisa langsung dia nikmati.
" Terima kasih ". Ucap Yuma pada pelayan.
Dinding yang terbuat dari kaca membuat jalanan terlihat, hilir mudik pejalan kaki dan juga kendaraan menjadi pemandangan yang dapat di tangkap oleh mata Yuma.
Setiap suap ice krim membuat nya merasa lebih baik lagi, kejadian semalam seakan telah Yuma lupakan, tapi mungkin saja pelakunya tidak akan pernah Yuma lupakan.
Bukan tanpa sebab Yuma seperti ini, mereka bukan lah orang yang tidak Yuma kenal, melainkan kekasih dan juga teman baiknya.
__ADS_1