Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 84


__ADS_3

Arya, tentu nya dokter Arya, adik dari mama Ella yang usia nya tidak beda jauh dari Daniel kini tengah memperhatikan keponakan nya yang dia pun tidak menyangka tengah mengandung.


Tatapan empati dan kasihan terlukis dari mata nya.


"Bagaimana dok ?"


Erina menatap sang mama yang sangat penasaran. Dokter itu pun menghentikan pemeriksaan nya dan berdiri tegap.


"Bayi nya sehat, tidak ada gangguan apapun ! Ibu nya pun sehat. Untuk penyebab keram beda-beda, bisa dari lelah ataupun terlalu banyak duduk. Untuk keseluruhan kondisi ibu dan bayi baik-baik saja"


Tutur dokter Xixi ramah dan penuturan nya mudah di pahami.


Dokter muda itu nampak melirik Arya seakan tengah mengkode.


"Jika begitu bagus,"


"Kak, dokter Xixi tidak bisa lebih lama di sini ! Ada beberapa pasien yang menunggunya di rumah sakit,"


Tukas dokter Arya.


Mama Ella mengerti dan dia langsung mengantar ke depan sedangkan dokter Arya tinggal.


"Bagaimana keadaan mu sekarang ? Paman melihat tidak ada perubahan pada badan mu ! Setidak nya gendutan sedikit biar tidak terlihat kurang gizi, gitu !" Seru Arya dengan candaan nya lalu duduk di samping Erina yang masih terbaring di atas kasur mama nya di lantai dasar.


"Paman-" Protes Erina dengan manja nya.


"Hahaha dasar bocah" Ujar nya.


"Bocah apa nya ? Heh, bocah juga sebentar lagi aku akan menikah! Memangnya paman ? Menikah ? Hahaha jauh dari bayangan, pacar juga tidak punya.!"


Sindir Erina meledek dengan lirikan menyebalkan.


"Jadi paman harus syirik, iri begitu ? Tidak ya ! Paman masih ingin bebas, masih suka main. Jadi silahkan saja kalian menikah lebih dulu" Ucap nya dengan penuh impian yang belum tergapai.


"Tch tch aey aey ingat, paman itu sudah tua ! Tuh lihat kak Daniel juga sudah menikah , masa kelangkahi lagi ? Ayo buktikan jika paman itu laris di antara para wanita"


Ucapan Erina benar-benar seperti pemikiran anak remaja pada umum nya, Erina meraih lengan paman tercintanya dan menyandarkan kepala nya begitu saja di bahu Arya.


"Huffhhhh nanti lah, itu masalah gampang ! Sekarang masalah nya jadi kapan kamu akan ijab qobul nya, besok atau lusa ? Bukan kah kau di kejar tugas akhir mu ? Jangan menunda lagi, kasihan bayi nya di tinggal-tinggal papa nya terus dan lagi di awal-awal kelahiran kalian pasti akan membutuhkan sosok ayah dan suami jadi lebih cepat lebih baik"


Arya semakin berbicara tanpa arah, padahal tidak sedang membahas soal itu. Erina menatap sang paman dengan kerutan di kening namun juga bibir manyun.


"Apa ? Apa kau sekarang sedang berpikir kenapa aku seberuntung itu ? Ya aku juga tidak tahu, aku pikir dia tidak akan tanggung jawab, tapi nyatanya salah besar"


Tatap nya pada Arya membenarkan duduk nya, membuka selimut dan bersila.


Arya menatap dengan melebarkan kedua sudut bibir nya dan bereaksi tidak tahu lagi.

__ADS_1


"Oh iya, itu kakak ipar mu benarkah pergi ? Paman baru mendapat kabar dari Shen malam tadi,"


"Shhh di lihat dari cara mereka dekat dan menikah memang seharusnya patut di curigai tapi ya sudahlah, nasi sudah jadi bubur, kita lihat apa yang akan terjadi ke depan nya ! Lagian itu si Daniel ada-ada saja ya ! Keras kepala sih boleh tapi jangan bodoh juga, iya kan, 'Rin!."


Ucap Arya sedetik mencurigai dan detik kemudian mendumel. Memang paman nya itu kurang kerjaan.


"Ngga tau ah, aku pusing ! Paman ke luar sana,aku mau istirahat" Erina malah mengusir Arya, dokter itu pasti akan terus nyerocos kalau tidak di usir.


Arya menoleh dan membenarkan selimut yang di kenakan Erina setelah dia kembali berbaring.


"Jangan terlalu lama tidur nya, kau harus mengisi perut mu dan minum obat !,"


"Paman juga ada urusan di rumah sakit, nanti ke sini lagi jika pekerjaan sudah sele,,,, "


"Iya iya Erina tahu paman kecil tersayang ! Sudah ah sana ke luar, suaramu membuat ini bayi meronta minta ke luar"


Belum juga Arya selesai bicara, Erina menukas nya lebih dulu dan terus mengusir nya.


"Jam Sembilan harus sudah bangun, makan-makanan bergizi dan jangan lupa minum susu nya ! Tadi paman sudah membeli nya, jangan lupa di minum"


"Pamaaan" Teriak Erina kesal, reflek melempar paman nya itu dengan bantal.


"Hahaha iya iya " Arya tertawa senang, dia langsung memperagakan menjahit mulut dan langsung bergegas pergi.


"Haisshhh mereka sama saja, "


"Kakak ipar tolong aku" Gumam nya menyembunyikan tubuh di balik selimut.


...**...


Klek...


Pintu terbuka dan ternyata Liam berdiri di depan pintu dan tiba-tiba mengulas senyum nya. Yuma terdiam namun mata menyelidik, kening mengerut menandakan jika dia bertanya siapa pria ini.


"Uuh ?"


"Oh ! Perkenalkan, saya Liam, teman dari Gary" Ucap Liam memperkenalkan diri dengan sedikit menundukkan pandangan nya.


"Liam ?." Ucap Yuma mengulang.


"Iya nona" Sahut Liam kembali.


Yuma mengangguk pelan. "Ada yang bisa saya bantu ? Atau mungkin kak Gary mengatakan sesuatu untuk di sampaikan ? Maaf saya tidak bisa memperkenankan anda masuk, jika ada yang ingin di bicarakan mungkin kita bicara di luar saja,"


Tutur Yuma.


Liam, dia sebagai pria merasa Yuma adalah wanita aneh, biasanya tamu di persilahkan masuk terlebih dahulu walau hanya basa-basi, tapi wanita di depan nya ini tidak, bahkan wanita di depan nya tidak segan bertanya dan rasa awas yang di bangun pun terasa pekat. Liam bisa merasakan itu, merasakan perbedaan Yuma dari wanita lain di luar sana.

__ADS_1


"Kau benar Gary, dia berbeda" Batin Liam seraya menatap mata Yuma.


"Tuan ? Halo, tuan?!." Yuma menyadarkan Liam yang tengah melamun.


"Uuh ? Oh bukan begitu nona,"


"Tadi Gary mengatakan jika adik nya sudah menempati kamar hotel dan saya di perintahkan untuk mengecek keadaan mu dan mengajak mu berkeliling kota ini"


Salah tingkah, ya Yuma melihat pria di depan nya ini tengah salah tingkah entah kenapa. Dia pikir melihat Liam seakan dia melihat Xian-kakak sepupunya tapi masih berbeda jauh.


Yuma diam sejenak, dia pun awal nya tidak berniat untuk melakukan panggilan pada Liam atau pun meminta bantuan sesuai yang di perintahkan oleh Gary. Yuma hanya ingin sendiri saja tanpa ada seseorang di samping nya, untuk sebentar saja, setelah itu dia akan kembali seperti biasa nya.


"Oh ! Saya belum memerlukan apapun, terimakasih telah memperhatikan"


"Eum mungkin nanti jika saya memerlukan sesuatu, bolehkan mencari anda ? Saya asing di sini, mungkin nanti membutuhkan bantuan anda. Bagaimana ?!" Tutur Yuma dengan lembut, berusaha untuk tidak membuat kecewa dan tidak memberi jarak yang besar pada nya.


"Baiklah jika begitu saya kembali bekerja dan ingat, jangan sungkan jika membutuhkan sesuatu !." Seru Liam memberi salam sejenak dan kembali pergi dengan banyak rasa penasaran di benak nya.


Yuma pun kembali menutup pintu.


...**...


"Gar, adik mu itu pendiam atau gimana sih ? Wah pria setampan ini dia anggurin, tch tch tch jatuh ini harga diri !"


Gary yang tengah menyetir mobil pun seketika terbahak dengan aduan dari Liam di sebrang telpon


"Hahahahaha"


"Ketawa lagi !" Ketus nya namun dengan semburat senyum dia lempar dari sudut bibir tebal nya. Liam beralih duduk di atas kursi kerja nya. Meletakan handphone nya di atas meja dan mengaktifkan pengeras suara agar dia bisa sambil bekerja.


"Bagaimana keadaan nya ?" Tanya Gary. menghentikan laju mobil kala lampu lalu lintas berubah merah.


"Baik, dia terlihat baik-baik saja ! Tidak ada yang aneh juga, " Sahut nya sesekali berpikir memang nya kenapa dengan wanita itu, kenapa Gary sangat khawatir.


"Eh Gar, dia benar adik mu kan ?! Bukan kekasih mu, 'kan ?!,"


"Awas saja jika kau bohong ! Jatuh nya sekarang aku serasa menjadi bodyguard kekasih dari teman ku hahahaha"


Terdengar geli, untuk itu terlihat kedua teman beda negara itu tengah tertawa aneh.


"Pokok nya tolong jaga dia dulu ! Pantau dari kejauhan saja karena dia tidak suka ada orang asing mendekati nya, dia juga tidak akan meminta bantuan ataupun membutuhkan apapun,"


"Liam, dia wanita mandiri sampai-sampai karena mandirinya dia seperti tidak membutuhkan tenaga laki-laki ! Inisiatif atau menawarkan bantuan adalah jalan satu-satu nya, jika tidak begitu Yuma tidak akan berbicara apapun,"


"Tolong jaga dia sampai nanti kami menjemput nya"


Liam membenarkan tatapan nya, menghentikan ketikan nya di mana sela jari mengapit ballpoint. Suara Gary dan penuturan bahkan informasi dari Gary terasa aneh di pendengaran.

__ADS_1


"Baiklah" Ucap Liam mantap. "Aku lanjut kerja dulu, bye!" Tutup nya lebih dulu.


Gary pun kembali melajukan mobil nya sesekali menopang sikut nya di dudukan pintu mobil. Tatapan nya lurus namun banyak sekali pikiran-pikiran yang melayang sampai di otak nya.


__ADS_2