
Keesokan hari nya, Gary dan juga Xian pun mengunjungi rumah Yuma. Mereka memilih berangkat lebih pagi ke sana dan mengabaikan sekretaris mereka yang terus menelpon.
Perbincangan Xian, Gary dan juga kedua orang tua Yuma terhenti kala suara tajam namun rendah itu terdengar.
" Kalian sudah di sini lagi ?." Seruan itu begitu mengintimidasi, sesekali Yuma mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Bukan karena apa tapi dia heran kenapa kedua kakak sepupunya tidak ke kantor.
" Kau benar akan menikah ? Dengan si Daniel Chen yang itu ?." Xian buru-buru mendekati Yuma dan bertanya akan berita yang tiba-tiba dia dengar.
" Yuma." Timpal Gary yang terlihat khawatir. " Yuma bukan karena terpaksa, 'kan ? Kalian tidak melakukan hal fatal kan ? Ini sangat tiba-tiba sekali, padahal hubungan kalian belum beranjak lama." Lanjut nya seakan tidak percaya.
" Iya, aku akan menikah dengan nya !." Sahut Yuma dengan polos nya, mungkin rasa percaya terhadap Daniel sudah hampir kokoh.
" Dia orang baik, keluarga nya pun orang baik ! Kalian juga tahu itu, 'kan ?." Yuma meyakinkan.
" Dia juga yang membantu perusahaan papa saat bermasalah ! Aku semakin yakin jika dia yang terbaik untuk ku." Tutur Yuma dengan segala kepercayaan terhadap Daniel.
Xian dan juga Gary terdiam dengan penuturan dari Yuma. Mereka berdua masih belum sepenuh nya percaya pada Daniel, karena luka yang di tinggalkan oleh Axel pasti lah belum sepenuh nya sembuh, mereka tahu itu.
Bukan hanya luka yang di tinggalkan oleh mantan kekasih dan juga teman, namun juga luka itu pernah di tinggalkan oleh mereka sendiri termasuk kedua orang tua nya. Untuk itu apa benar jika Yuma, telah bisa menerima Daniel.
" Aneh." Gumam Gary sesekali melirik pada Xian yang juga di angguki, membenarkan keadaan sekarang.
" Sudah ya, aku mau ke toko kue dulu ! Kalian pergilah bekerja, jangan malas-malas !." Tunjuk nya pada Gary dan juga Xian.
" Ma, pa aku pergi bekerja dulu ya ! Nanti malam Daniel akan ke sini bersama dengan keluarga nya, kalian bersiaplah." Padahal tidak sedang terburu-buru pergi, namun Yuma berbicara sambil melambaikan tangan nya dan berlalu pergi dari hadapan keluarga nya.
Atensi kedua orang tua dan kedua kakak sepupunya menatap aneh dengan tingkah Yuma.
" Sudah, kalian ayo berangkat ke kantor." Seru mama Shuwan dengan meraih tas kantor milik papa Wei.
__ADS_1
Perhatian mereka tertuju satu sama lain dan akhirnya melangkah pergi dari ruangan itu.
Papa Wei sudah berlalu pergi meninggalkan parkiran, tinggal Gary dan juga Xian yang masih setia berdiri di luar pintu mobil mereka sendiri.
" Bagaimana situasi nya sekarang ? Kau sudah cek perjanjian dan juga semua bentuk kerjasama dengan perusahaan Chen kan kembali ? Ini aneh juga jika kerjasama yang telah lama terjalin perlahan retak karena masalah yang belum tentu benar dan apalagi pihak Chen Group menuduh kau melakukan korupsi pada bahan-bahan yang akan di pakai untuk pembangunan hotel itu."
Xian nampak berpikir aneh saat ini, tangannya menumpu di atas pintu mobil yang terbuka nampak mencari celah dari masalah yang tengah di hadapi oleh perusahaan pusat yang di pimpin oleh Gary.
" Xian, kau ikut ke kantor !." Seru Gary.
" Uuh ?." Otak nya belum sampai.
" Kita bahas di kantor saja ! Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut." Ucap Gary melonggarkan dasi nya dan langsung masuk ke dalam kabin mobil nya. Xian pun akhirnya masuk dan melajukan mobil nya.
Perusahaan Chen group bergerak di bidang properti dan real estate, sedangkan perusahaan Zhao group bergerak dalam bidang penyediaan bahan-bangunan seperti beton, semen dan lain sebagai nya.
Ada masalah dalam kontrak kerjasama dengan perusahaan Chen Group membuat Gary dan juga Xian merasa aneh, karena selama menjalin hubungan kerjasama, baru kali ini Chen Group mengajukan berkas kelalaian yang di mana di atas kertas putih itu tertera jika perusahaan Zhao Grup berusaha mengurangi bahan material dalam pengelolaan beton yang di gunakan untuk pondasi hotel yang masih dalam proses pembangunan.
Belum lama Gary pulang dari Singapura saat itu, masalah mulai bermunculan dalam perusahaan nya membuat Xian pun ikut mencari penyebab dan solusi untuk menyelesaikan semua nya.
Pertemuan dengan rekan kerja nya terutama Lily yang di beri tanggung jawab dalam hal kontruksi yang tengah di garap, salah satunya pembangunan hotel yang di mana pembangunan itu bekerja sama dengan Chen Group, rapat dilanjutkan di tempat makan sore itu namun terhenti karena kedatangan Yuma.
...**...
Erina berjalan dengan baju longgar nya, celana kulot dan juga baju crop di lapisi jaket denim dengan kerutan di ujung lengan jaket membuat nya terlihat imut dan juga langsing.
Rambut nya mengikuti gerakan langkah nya membuat seluruh wajah nya terlihat tegas.
" Erina." Teriak Liam dari sebrang jalan dalam keadaan masih duduk di dalam kabin mobil. Mata nya mengikuti langkah Erina yang tak kunjung menoleh.
__ADS_1
Erina menghentikan langkah nya sesaat, melihat ke sana ke mari mencari suara yang memanggil nya. Dari arah berlawanan, Liam berlari mendekati Erina yang tengah kebingungan.
" Dar."
" Astaga." Jerit Erina, dia kaget akan tangan kekar yang menepuk pundak nya.
Erina memutar tubuh nya masih dengan mengelus dada nya yang masih kaget. Cengiran Liam menjadi hal pertama yang menjadi perhatian Erina sekarang.
" Pak." Ucap Erina sopan memberi salam, karena bagaimanapun juga Liam adalah atasan nya. Erina nampak memasang ekspresi seperti biasa nya, namun kini ekspresi itu menjadi topeng untuk hatinya yang hancur dan juga akal nya yang tengah tidak sehat.
"Erina, kau sekarang bagaimana keadaan mu ?." Tanya Liam setengah berbasa-basi karena Erina mengajukan cuti beberapa waktu lalu entah karena apa.
Kejadian malam itu Liam pun belum tahu apapun, dia tidak tahu jika Gary dan juga Erina melewatkan malam yang membuat gadis di hadapan nya itu trauma dan juga menderita.
"Aku sudah baik-baik saja." Sahut Erina dengan respon yang biasa di layangkan kepada atasan nya itu. " Oh iya pak, sepertinya saya akan berhenti bekerja karena jadwal kuliah saya semakin padat ! Saya ingin fokus menyelesaikan kuliah, besok saya akan memberikan surat pengunduran diri saya." Erina benar-benar bicara pada intinya, seperti tak mengenal situasi dan kondisi pembahasan nya.
Liam kaget, dia menganga di buat nya. Dirinya tak menyangka ada seorang pegawai yang mengundurkan diri di tengah jalan tanpa ada filter dalam perkataan nya.
" Pak." Erina mengibaskan tangan nya di depan wajah Liam.
" Oh, apa ? Itu ayo kau temani saya makan dulu, kita bicara kan di sana." Sadar nya reflek menggaruk tengkuk leher nya yang tak gatal.
"Tapi pak... " Erina hendak menolak tapi Liam lebih dulu menukas nya.
" Tidak ada tapi-tapian ! Ayo kita makan dan kita bisa bicara baik-baik di sana." Liam menarik lembut pergelangan tangan Erina menuju ke mobil nya.
Masalah yang di hadapi oleh Gery saat ini membuat nya lupa sekedar bertanya akan gadis yang masuk ke dalam kamar hotel nya kepada Liam.
Di lain sisi, Erina yang notabene nya masih muda dengan usia di bawah Yuma lumayan tegar dan juga bisa menyikapi keadaan dengan semestinya walaupun masih harus pergi ke psikiater.
__ADS_1