
Daniel melihat sejenak pada arah pintu kamar mandi memastikan jika Yuma sudah masuk.
"Halo Erina ? Ada apa, apa kau baik-baik saja ?." Seru Daniel melangkah pergi ke ruangan baju yang sudah di siapkan di ruangan itu.
"Kak, selamat ya ! Maaf aku tidak bisa pulang menyaksikan pernikahan mu, maaf ya!." Ucapan Erina terdengar menyesal.
"Tidak apa, kakak mengerti dan paham. Tidak perlu menjadi tidak enak hati ! Fokus saja pada kuliah mu." Ucap Daniel.
"Aku tidak bisa berlama-lama berbicara dengan mu karena masih harus mengerjakan tugas ku ! Kak, salam untuk kakak ipar. Bye bye"
Sambungan pun terputus begitu saja, Erina benar-benar sibuk sekarang namun hal itu membuat keluarga sedikit lega karena aktifitas Erina akan mengurangi pikiran negatif untuk nya.
"Mau kemana ?." Yuma baru saja ke luar dan mendapati Daniel yang hendak meninggalkan pintu. " Daniel ?." Yuma menautkan alis nya sembari menahan handuk nya yang terlilit di kepala.
Daniel membalikkan badan nya dan senyum palsu terlukis di kedua sudut bibir nya.
"Hanya sebentar saja, aku ada urusan di luar ! Kau tidur lah lebih awal." Ucap Daniel menangkup kedua lengan Yuma dan mengusap nya berulang.
Yuma mengangguk mengerti walau rada aneh dengan pengantin pria meninggalkan pengantin wanita di malam pertama nya.
"Shen ikut ?." Tanya Yuma kembali sembari melingkarkan tangan nya pada pinggang Daniel.
"Tidak, ini bukan jam kerjanya juga ! Biarkan dia istirahat." Tukas Daniel
"Lalu bagaimana dengan mu ? Kau juga perlu istirahat, Daniel ! Pekerjaan bisa dilanjut besok,"
"Ayo kita tidur." Yuma menarik paksa dan dengan malas Daniel menyeret kedua kaki nya. "Cobalah untuk menjaga diri sendiri dahulu, Daniel ! Kau terlalu acuh akan kesehatan mu. Bukankah kau bisa cuti kerja ?."
Yuma berbaring dengan menghadap wajah Daniel, namun setelah beberapa detik kemudian, Daniel membalikkan badan nya.
"Tidur lah !." Ucap Daniel begitu dingin.
Bola mata Yuma bergerilya menatap punggung Daniel, nafas nya mulai berat dan tarikan juga hembusan nafas pun terasa sangat kasar namun panas..
Tatapan nya mulai menyendu namun dia sembunyikan dengan menutup mata nya segera. "Tuhan, semoga ini bukan hal buruk untuk ku." Mata memang tertutup namun hati masih bergumam.
Di dalam sana mulai hening, nafas normal dan dengkuran kecil mulai teratur, Daniel perlahan membalikkan kembali badan nya dan menatap tajam wajah damai Yuma.
"Salahkan kakak sepupu mu ! Rasa sakit yang kau dapat semuanya akibat dari perbuatan kakak mu." Batin Daniel terus berbicara, kepalan tangan pun membulat sempurna. Mata itu sudah memerah, bukan karena mengantuk namun karena marah.
...**...
Erina terus merasa sakit di bagian pinggang nya, dia terus memegang nya sampai-sampai wajah nya pucat. Padahal dia belum jalan terlalu jauh, masih di area apartemen nya.
Erina mendadak ingin makan makanan manis pedas asam, untuk itu dia hendak mencari buah muda segar untuk di makan, namun jika pergi ke pasar akan sangat jauh untuk itu dia memilih pergi ke supermarket, itu jika ada.
__ADS_1
"Awsssh sakit." Erina tertatih dan mencondongkan badan nya, ringisan sakit terus berdesis dari bibir kecil nya.
"Heukss hikss kenapa ini, kenapa sakit sekali ?." Erina menangis dan terus berdesis memegang pinggang nya semakin sakit.
Di area yang sekarang dirinya berada sangat sepi, tak melihat ada orang melintas, mereka entah kemana.
"Mama,awssshh sakit sekali." Erina terus mengaduh kesakitan sampai lutut nya tak kuat lagi menahan tubuh nya sehingga di terduduk di jalanan.
"Nona anda baik-baik saja ?." Di depan nya, mata Erina menangkap sepasang kaki yang tengah berdiri di depan nya.
"Nona anda baik-baik saja ?." Pria itu pun berjongkok menyetarakan tinggi nya dengan Erina.
Erina menengadah, mengangkat pandangan nya untuk melihat sosok yang tengah bertanya itu.
"Nona ?."
Erina terdiam kala kedua pasang mata nya melihat sekali lagi pria yang sama dengan malam itu, pria yang membuat nya berniat untuk mengakhiri hidup nya beberapa bulan lalu.
Pikiran nya semakin kacau, semakin kacau semakin juga perut nya sakit. " Heukas sakit,,, pinggang saya sakit !." Erina menangis mengaduh, dia menyentuh kembali bagian pahanya dan alangkah terkejut nya jika di sana sangat basah dan ketika di cek, telapak tangan nya berdarah.
"Da,, rah?." Bibir Erina bergetar.
"Nona anda baik-baik saja ?." Pria itu mulai cemas, saat melihat darah di telapak tangan Erina.
Ya, dia Gary yang kini tengah merasa cemas dengan gadis asing di depan nya.
"Hiks... hiks... hikss da,,, rah!." Erina terus menangis, tubuh nya bergetar hebat sampai harus berpegangan pada Gary.
Dengan tidak lagi menunggu, Gary menggendong Erina dan dengan cepat berlari ke arah di mana ada beberapa mobil dan taksi yang melintas.
"Pak kita ke rumah sakit terdekat. Cepat pak !."
Keadaan Erina tidak sadarkan diri sekarang, Gary menjaganya dengan hati-hati sampai dia tak mendudukkan Erina di atas kursi dan memilih mendudukkan nya di atas pangkuan nya.
"Istri nya kenapa, tuan ?." Tanya sang supir.
"Istri?". Gumam Gary.
"Pak tolong di percepat."
"Baik tuan."
Gary pun sampai di depan rumah sakit dan langsung membawa Erina masuk ke dalam.
"Dokter tolong, dia pingsan dan mengeluarkan darah ! Dia juga meringis sakit pinggang." Serobot Gary dengan tergesa-gesa.
__ADS_1
Dokter dan perawat di sana segera menyambut baik kegaduhan Gary dan membawa Erina ke tempat perawatan.
Gorden penyekat brangkar di tutup mengelilingi pasien dan Gary menunggu di belakang gorden itu.
"Astaga kenapa juga harus secemas ini ?." Gary bergumam dengan sangat aneh, dia reflek melakukan itu.
Handphone nya berdering dan Gary langsung mengangkat nya.
"Kita bertemu besok saja, aku ada urusan sekarang." Gary berucap mendahului Liam.
"Kebetulan, aku juga ada urusan mendadak. Besok kau datang saja ke rumah ku, sekalian bertemu dengan mama, dia menanyakan mu kapan datang." Tutur Liam.
"Ok"
Hanya itu sahutan dari Gary dan langsung menutup telpon nya, bersamaan dengan itu, dokter pun ke luar dari balik Gorden.
"Bagaimana keadaan nya, dok ?."
Dokter itu bernafas lega entah kenapa, namun Gary sangat menanti jawaban dari dokter wanita itu.
"Ibu dan janin nya baik-baik saja ! Istri anda harus segera di tangani langsung oleh dokter kandungan."
Bukan lagi, kini ekspresi Gary sangat terkejut, bola mata pun seakan minta ke luar dari wadah nya.
"Ja---nin ?."
"Iya, janin nya sangat kuat dalam rahim istri anda ! Silahkan untuk membawa nya ke dokter kandungan,"
"Saran saya dia perlu juga konsultasi ke dokter spesialis nefrologi !." Ucap sang dokter.
"Nefrologi ? Bukan kah itu bagian penyakit dalam ? Memangnya ada apa dengan nya ? Kenapa harus konsultasi ke sana ?." Gary mulai bertanya-tanya seperti suami yang siap siaga.
"Dia mengeluh sakit pinggang, bukan ?,"
Gary mengangguk.
"Dia kurang minum dan terlalu banyak duduk untuk itu menyiksa ginjal nya sendiri, kebiasaan seperti itu tidak baik untuk kondisi janin nya ! Jika begitu saya permisi." Pamit sang dokter saat sudah memberitahukan.
"Terimakasih dok" Ucap Gary dan langsung Menyibakkan gorden itu.
Erina sudah sadar, mata bertemu satu sama lain. Suster sudah menyiapkan kursi roda di samping brangkar.
Nafas Erina benar-benar panas sekali, dia terus memalingkan tatapan nya dari mata Gary.
"Terimakasih" Ucap Erina. Gary hanya dan mengangguk.
__ADS_1
Posisi nya sekarang, Erina dia sangat mengenal pria dihadapan nya, sedangkan Gary sama sekali tidak mengenal Erina.