Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 96


__ADS_3

...***...


Tidur Yuma terusik dengan sebuah mimpi yang aneh, di dalam nya ada dua laki-laki beda usia tengah melangkah menuju ke depan nya.


Dia mengulurkan tangan dari jauh sedangkan laki-laki satu lagi yang berada di samping berlari cepat dengan langkah kaki yang mungil.


Satu pria dewasa dan anak kecil.


Anak kecil itu begitu riang, Yuma ingin mendekati nya namun semakin dia mendekat semakin juga jarak menjauh walau terlihat anak kecil itu pun berlari ke arah nya.


Sedangkan pria itu terus mengulurkan tangan nya pada Yuma. Yuma bingung, dia tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas.


Keringat kecil itu bercucuran, tubuh Yuma terguncang terus mengangkat tangan sesekali terlihat seperti hendak memanggil.


"Tunggu" Teriak Yuma, dia reflek bangun dari tidur nya dan kini tengah dalam posisi duduk. Deru nafas lelah, keringat terus bercucuran seperti baru saja berlarian ke sana ke mari.


Tatapan mata Yuma penasaran, dia sedikit takut juga karena selama dia hidup baru kali ini mimpi hal yang seperti itu.


Hossh...


Hosshh...


Nafas Yuma masih belum normal, dia menepuk-nepuk dada nya berusaha untuk menormalkan kembali. Kepala masih terasa berat, dia perlahan bergeser untuk menggapai air minum yang sudah tersedia di atas nakas di samping tempat tidur.


Gluk...


Gluk..


Gluk..


Air dalam gelas tinggi itu pun habis seketika. Yuma menyandarkan punggung nya di dinding karena kasur nya mepet ke dinding, gelas masih dia pegang. Yuma menengadah memejamkan mata nya dan mengatur nafas agar tenang.


Terdiam lumayan lama, temaram lampu tidur membuat dirinya tenang. Sang pemilik mata menatap jam dinding dan ternyata menunjukkan pukul sebelas malam, tidur nya sangat lama dan itu membuat Yuma beranjak turun dari ranjang.


Gemercik air pun terdengar, kucuran air beraturan. Yuma nampak muncul kembali dari balik pintu kamar mandi, rambut nya nampak basah dan di gelung dengan handuk berwarna putih. Tubuh nya di balut kimono berwarna abu-abu tua.


"Obat ? Bubur ?." Gumam Yuma, dia nampak baru sadar jika ada beberapa obat di atas nakas dan juga bubur yang sudah dingin.


"Huffhh" Yuma kembali naik ke atas kasur, kaki nya selonjoran namun mata menatap ke arah dinding yang terbuat dari jendela. Gorden itu di biarkan terbuka sebagian memperlihatkan gemerlip lampu-lampu gedung dari sana.


Sakit kepala, mual di pagi hari tidak membuat Yuma curiga. Dia pikir ini hanya masuk angin biasa, di bawa tidur pasti akan langsung sembuh seperti sekarang.

__ADS_1


Di ruangan lain tepat nya di China, Daniel masih terbaring tidak sadarkan diri, suara alat-alat medis menemani pria itu sedangkan Shen nampak tertidur tapi kerutan di kening terlukis tipis.


...**...


Daniel menggerakkan jari jemari nya, Shen sudah tak berada di ruang rawat, gorden pun sudah tersingkap rapi.


Suster yang memeriksa langsung menekan tombol di dekat berangkar dan tidak lama derap langkah cepat terdengar keras. Pintu pun terbuka dan muncul dua dokter dan suster, bersamaan dengan langkah mereka yang cepat tadi, Shen melihat dan dia pun berlari cepat, takut terjadi apa-apa dengan Daniel karena mereka masuk ke ruang rawat kakak nya.


"Ada apa ?." Panik Shen sedikit menerjang sebelah bahu dokter yang tengah berdiri di samping Daniel.


"Kak?." Pekik Shen, dia seketika senang kala mendapati mata Daniel sudah terbuka.


"Berisik Shen ! Kau menyakiti telinga ku" Tegur Daniel dengan suara lemah nya.


"Syukurlah kau sudah sadar kak ! Kau tahu, kau membuat kami hampir jantungan tau ngga ?! Haishh sial senang ya kau mendadak tak sadarkan diri seperti ini ?!"


Tidak melihat sekitar, Shen terus mengoceh sesekali memarahi dan juga merengut pada Daniel.


Dokter di sana menginfokan kondisi lanjutan dari Daniel dan setelah itu mereka pergi.


"Shen, bagaimana kabar dari bawahan kita ? Apa mereka sudah mendapat informasi ?." Tanya Daniel pelan sesekali memejamkan mata nya dan meneguk ludah nya.


"Belum kak ! Maaf" Sahut Shen, dia menunduk merasa tidak berguna.


Shen tidak lagi menunduk, tatapan nya kosong seketika mengingat apa yang terjadi akhir-akhir ini membuat Shen lebih memilih pusing dengan pekerjaan di banding dengan masalah seperti ini. Lebih rumit dan tidak dapat di pecahkan.


...**...


Bel berbunyi sesekali ketukan pun ikut terdengar. Yuma mengelap dahulu mulut nya dan berdiri tegap, membenarkan rambut nya agar terlihat baik-baik saja.


Dari jam enam pagi, Yuma terus muntah, dia mual dan kepala nya semakin pusing padahal dia minum obat. Hati nya pum tidak enak sedari semalam dan jantung nya kadang berdetak normal kadang terpompa cepat membuat Yuma aneh sendiri karena tiba-tiba seperti itu.


"Sebentar" Yuma sedikit berteriak menuju pintu.


Cklleekk...


"Pagi cantik" Sapa Liam antusias. Yuma mengulas senyum.


"Pagi juga Liam" Sapa balik Yuma.


"Pagi sayang" Tiba-tiba tanpa Yuma sadari tangan kekar lain mendorong Liam dari samping sehingga sedikit bergeser dan hampir tersandung.

__ADS_1


Wajah fresh itu, senyum menawan dengan dagu sedikit terbelah menambah sang pemilik mata melebarkan senyum nya.


"Kakak" Pekik Yuma begitu senang, dia menutup kedua mulut nya dengan tangan dengan tidak percaya, sedangkan Liam, dia kembali berdiri kokoh, membenarkan jas hitam nya.


Yuma memeluk Xian dengan manja, Xian pun membalas pelukan dari adik sepupunya itu.


"Ayo masuk" Ajak Yuma, mempersilahkan Liam juga untuk masuk.


Mereka berbincang sesekali bersenda gurau, Xian melihat adik nya nampak baik-baik saja, sepertinya demam nya sudah sembuh.


"Ada yang bilang kesayangan kita ini membeli toko kue, benarkah itu ?!." Seru Xian meraih air yang di berikan oleh Yuma.


Yuma melirik Liam kilas dan kembali menatap. Xian.


"Iya kak, hitung-hitung mengepakkan sayap, 'kan ?!." Ujar Yuma memainkan kedua alis nya seraya senyum terus terulas.


"Nakal !,"


"Argh sakit" Yuma Meringis kesakitan saat hidung nya di cubit oleh Xian. Liam hanya menonton saja kedekatan mereka.


"Kenapa tidak bilang ? Bukankah Gary menawarkan bisnis ini sebelum dia pulang ke China ? Kenapa tidak memberitahu sebelum nya ? Jika kami tahu pasti kami akan ke sini dan membantumu !."


Cerocos Xian seperti biasa yang sangat suka menghujani Yuma dengan banyak kata serta pernyataan.


"Tidak ada rencana, itu hanya kebetulan saja ! Lagi pula sekarang kau tahu kan kondisi ku ? Kalau mau pun pasti akan ada keputusan yang lama juga,"


"Kak, aku hanya membantu saja awal nya,"


"Kau tahu di sana ada empat pegawai toko yang belum mendapat gaji mereka dan kebetulan juga bos toko sedang mencari pembeli untuk toko nya,"


Xian mendengarkan tanpa ingin menukas dahulu begitupun dengan Liam.


"Rasa kue nya tidak buruk ! Tadinya aku hanya ingin memberi saran tapi ya begitu,,,, "


Cengir Yuma setelah menjelaskan kronologi kenapa dia memutuskan untuk membeli toko kue dalam waktu singkat.


"Dasar,, " Xian mengacak lembut pucuk kepala Yuma, ada rasa bangga juga di benak Xian. Jika kondisi ini terjadi pada wanita lain mungkin tidak bisa melakukan apapun, mereka akan mengurung dirinya di kamar atau melampiaskan ke jalur yang negatif.


Yuma, dia itu tengah bersedih, hatinya sedang sakit begitupun dengan semua yang ada pada diri wanita itu, tapi masih bisa berpikir jernih alhasil toko kue pun di beli. Transaksi jual beli itu begitu singkat sampai Xian meminta berkas tanah untuk dia periksa.


"Ini"

__ADS_1


Xian pun meraih berkas itu dan langsung mencermati serta mengamati, membaca dengan teliti isi nya.


__ADS_2