Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 43


__ADS_3

Satu bulan yang lalu tepatnya di hotel megah, hotel yang siapapun tahu jika fasilitas dan juga kenyamanan di sana sangat-sangat internasional, bahkan yang menghuni di sana pun bukan orang sembarangan, sampai-sampai staf dan juga pekerja harian di hotel itu sangat berkualitas dan juga hotel itu menjadi impian orang-orang bisa bekerja di sana.


Erina, gadis berparas cantik dengan karisma yang tidak kalah juga dari gadis cantik lain nya, dia berusia sekitar 23thn dan tengah menyelesaikan pendidikan sarjana nya satu semester lagi.


Singapura, ya dia tengah belajar di salah satu kampus terbaik di negara itu dan tanpa sepengetahuan keluarga nya ternyata Erina bekerja di hotel itu, hotel dengan segudang kemewahan yang tak bisa di sembunyikan.


"Erina tolong antar kan berkas ini ke kamar 2xxx, ya !." Ucap Manager hotel menyerahkan dua berkas dengan warna berbeda. Liam, Manager saat ini di hotel Krystal international.


" Cepat kenapa masih di sini ?." Usir nya dengan sikap seperti biasa, tajam dan tak tersentuh.


Erina memberengut masam, dia menghentakkan kaki nya keras.


" Untung tampan, jika tidak akan aku cakar-cakar wajah mu !!." Dengus nya.


Entah mimpi apa Erina saat itu kenapa dia di tempatkan dalam dua posisi yang berbeda, di mana dia sangat bahagia di terima sebagai asisten manager hotel itu namun di saat yang bersamaan dia di berikan manager yang sangat dingin dan juga datar.


" Cantik seperti biasa." Puji Liam dengan gumaman nya setelah bayangan punggung Erina menghilang dari hadapan nya.


Liam terlihat menghubungi seseorang, namun tak kunjung tersambung. Untuk itu Liam memilih mengirim Voice Note pada Gary. " Gar, berkas yang kau cari tengah di antar kan oleh Erina-asisten ku ! Kau selesaikan dengan baik sebelum klien mu datang esok hari dan lebih teliti lagi, itu berkas penting loh Gar jadi jangan asal simpan ! Untung teman mu ini manager di sini, kalau tidak entah kemana lari nya itu dokumen milik mu."


Panjang lebar Liam mengirim Voice Note namun tetap tak ada tanggapan dari Gary-teman nya itu, untuk itu dia memilih ke luar dari hotel dan pergi ke tempat biasa yang sering dia kunjungi.


Gary dan Liam adalah dua sahabat yang sikap nya hampir sama, untuk itu mereka berdua paham satu sama lain. Mereka satu SMA dan satu kampus sampai saat itu namun setelah pendidikan sarjana nya selesai, Liam kembali ke negaranya yaitu Singapura dan kini menjadi manager di hotel berbintang itu.


Thing...


Lift terbuka dan lorong itu menuju kamar yang di katakan oleh Manager nya. Dokumen di peluk dan Erina terus berjalan. " Sial pekerjaan apa yang seperti ini ? Huffhhh Erina sabar, jangan makan gaji buta itu dosa ! Sshh tapi ini bukan pekerjaan ku." Mimik wajah Erina berubah-ubah di setiap langkah nya, dia terus memberengut mengutuk bos nya yang seenak nya dalam bekerja.


Sedangkan keadaan di dalam kamar Gary, dia tengah menyesap wine. Di atas meja kaca itu sudah berdiri beberapa botol wine yang sudah kosong dan tersisa satu botol lagi.


Gary terlihat lelah dan juga banyak beban dan juga masalah, hal itu bukan hanya datang dari pekerjaan nya namun juga datang dari keluarga terutama ayah nya yang terus membuat dirinya seperti robot.


Tentu, Gary tengah mabuk sekarang bahkan kemeja yang asal nya terbalut rapih kini tidak lagi, dua kancing terbuka daru atas, rambut nya pun sudah acak-acakan, wajah nya memerah begitupun hidung nya.


Jendela kamar dibiarkan terbuka sedikit, menjadikan angin malam masuk ke dalam kamar hotel.


" Arghh." Teriak Gary meremas gelas kecil di tangan nya sampai pecah.


Clak...

__ADS_1


Clak..


Getih segar menetes dari telapak tangan nya, emosi nya belum mereda. Tubuh nya semakin panas dan sesak, utuk itu kaca kamat hotel itu dibiarkan terbuka tanpa gorden menghalangi sampai pantulan dirinya terlihat dari kaca.


Ting nong..


Ting nong..


Erina pun terus menekan bel di luar sesekali mengetuk. " Permisi." Teriak Erika.


Ting..


Nong..


Ting


Nong..


Erina terus menekan bel karena Gary masih belum membuka pintu. " Permisi." Ucap Erika kembali dengan teriakan nya


Klik..


Pintu pun terbuka namun tak ada orang yang ke luar dari dalam. Erina membuka pelan, perlahan tapi pasti, sampai Erika siaga satu takut terjadi apa-apa yang begitu tak diinginkan.


Sreuk..


Tangan kekar Gary menarik masuk tubuh Erina secara paksa.


Bamm...


Pintu itu tertutup begitu keras dan juga kasar. Tubuh Erina di dorong dengan pinggang tercengkram kuat oleh jari jemari kekar Gary.


Gary benar-benar mabuk, dia tidak sadar akan apa yang dia lakukan.


" Arghh lepas." Teriak Erina meronta, terus mengguncang dan mencoba melepaskan diri dari pria asing.


Gary terus mencium dan menyesap aroma tubuh Erina dengan begitu menggila, mata mabuk nya terus menatap damba pada bibir Erina.


" Tolong lepaskan aku hiks... hiks.." Erina terus meronta, dia terus berusaha mengguncang namun tenaga nya kalah telak.

__ADS_1


" Brengsek, keparat kau ! Lepas kan aku hiks... hikss." Teriak Erina lebih keras lagi. Kaki nya gemetar hebat sat ini.


Kedua tangan nya terangkat di kunci di dinding dan pinggang nya terengkuh penuh oleh tangan giri sehingga tubuh molek nya terekspos nyata.


Duagh....


Dengan berani, Erina menendang paha Gary sehingga cengkram itu akhirnya terlepas.


" Argh." Ringis Gary yang dia masih saja belum sadar, mungkin akibat dari pengaruh wine yang begitu berlebihan.


Erina berlari ke sudut lain kamar itu. " Jangan dekati aku." Erina terus melempar apapun yang bisa dia raih ke arah Gary, namun sayang kesadaran Gary masih belum pulih sampai-sampai darah masih mengalir dari telapak tangannya.


" Pergi jangan sentuh aku." Tangis Erina begitu menyakitkan dan ketakutan, kedua tangan nya pun penuh dengan darah Gary saat ini.


Gary yang masih dalam pengaruh alkohol tak gentar untuk mendapatkan Erina kembali. " Aku akan lembut, jangan takut !." Senyum itu, senyum Gary yang begitu tampan seakan tengah merayu, namun dalam situasi ini tidak akan bisa menggoyahkan Erina.


" Hiks.. Hiks.. jangan sentuh aku."


" Arghh menjauh. Eumffhh lepas, lepas brengsek ! Kakak tolong aku hiks...himss ." Gary kembali mencium pakasa Erina. Erina terus meronta dan memukul-mukul Gary. Air mata nya tak bisa terbendung lagi, Erina terus menangis sampai dia lelah dan tak bisa apa-apa. Erina terus memanggil kakak nya dalam setiap ketakutan nya.


Malam itu adalah malam kelam yang harus Erina hadapi seumur hidup nya. Tubuh nya sudah kotor, dia tidak bisa berbuat apa-apa saat pria asing memperkosa nya begitu kejam dan tak mendengarkan dan melepaskan nya. Satu gayung air di siramkan pada Gary saat itu, namun tak membuat pria itu sadar.


Pagi hari sekali, Erina terbangun lebih dulu dari Gary. Wajah nya begitu sembab dengan tubuh masih telanjang, rupa dari gadis cantik itu tak lagi rapih.


Jari jemari nya mengepal erat serta tetesan air mata jatuh menghujani selimut putih. Dengan pelan, Erina turun dari ranjang dan berusaha memakai kembali baju nya dengan rapih.


Pantulan dalam cermin akan dirinya malah membuat nya semakin jijik menatap diri sendiri.


Erina pergi ke luar dengan wajah yang sudah di basuh agar tidak terlalu menarik perhatian. Hatinya sakit dan dada nya terus sesak akan kejadian semalam. " Kakak tolong aku." Gumam Erina kembali di sela langkah nya.


Di dalam kamar hotel, Gary mengerjap dari tidur tengkurap nya.


" Euughhh." Gary menggeliat panjang belum sadar akan keadaan dirinya sekarang.


Setelah menetralkan tatapan nya seketika kelopak mata itu membulat penuh karena keadaan kamar yang begitu sangat berantakan.


Gary memeriksa dirinya dan seketika dia kembali kaget karena dia sangat telanjang. Selimut dia angkat agar melilit dirinya.


Reaksi dari wajah itu begitu sangat berbeda kala mendapati darah merah dari sprei putih polos untuk itu sangat terlihat jelas.

__ADS_1


" Darah ?." Bingung nya. Gary terlihat mengecek beberapa bagian tubuh nya tapi sama sekali tidak ada.


" Astaga Tuhan, jangan-jangan ?!." Bola mata itu hampir meloncat ke luar saking kaget nya. " Ini tidak benar !." Ringis nya menduga-duga.


__ADS_2