
...***...
Di pelataran toko Kue yang masih tertata rapih meja dan kursi, ternyata Erina dan Gary sudah ada di sana menunggu.
Mobil yang di kendarai Liam pun sampai. Erina juga Gary berdiri dan berjalan mendekat.
"Kak" Sapa Yuma.
"Yuma" Senang Gary, terlihat juga dari ekspresi nya
"Kaka ipar" Erina berhamburan memeluk Yuma saat ini. Liam dengan acuh duduk di kursi yang di tempati Gary.
"Heh" Tepuk Gary pada kepala Liam, membuat sang pemilik kepala terperanjat kaget.
"Aaashh Sial" Rengek nya sambil ngusap-ngusap kepala. Wajah Liam bak anak kecil yang tengah marah.
"Apa ini maksud nya, kau membohongi kita sampai lima tahun ini. Liam bodoh!" Gelagat Gary tak pernah berubah, membuat Liam serasa ingin menimpuk nya dengan batu.
"Dih, jangan salahkan aku ya ! Tu adik mu saja yang nakal, untung kita sayang !."
"Kita ?" Gary mengulang perkataan Liam. "Kita siapa ?."
"Ya nyonya Li sama aku, siapa lagi ?"
Gary mengusap wajah nya kasar, ternyata mama Liam pun ikut menyembunyikan Yuma selama ini.
"Pantas saja" Nafas Gary berat, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi jika nyonya Li sudah ikut ke dalam rencana itu.
Erina ikut duduk, dia menghadap Liam dengan penuh dengan pertanyaan.
"Pak Liam" Tekan Erina.
Liam menoleh, Yuma juga Gary pun mengerti, dia memutuskan untuk masuk ke dalam toko untuk menemui Luna dan Anran.
Liam acuh, dia seperti tak menganggap keberadaan Erina.
"Kau sebenarnya—!?"
"Sudah lah Erina, tidak ada yang perlu di bahas. Kemarin memang ada yang ingin saya bicarakan, tapi sudah lah ! Saya sebagai atasan dan juga teman mu paham dengan situasi nya tapi yang aku tidak paham kenapa kau tidak pernah cerita jika Gary merenggut apa yang seharusnya dia jaga"
"Hanya itu saja tidak ada yang lain yang ikut saya bicarakan. Semua nya sudah berlalu, kan ?! Tidak ada pembicaraan lalu yang harus di selesaikan"
"Dan masalah kakak ipar mu, kau tahu sifat ku. Bukan ?! Jadi tidak perlu panjang lebar mengenai masalah ini".
__ADS_1
Erina diam, dia tahu Liam marah, tapi sepertinya Liam yang dia kenal telah berubah. Sikap dan sifat nya serasa berbeda dari lima tahun terakhir bertemu.
Erina sendiri memang tidak ingin memperpanjang, mereka sekarang sudah dewasa dan matang apalagi dirinya yang kini sudah memiliki seorang putri.
" Terimakasih sudah menjaga kakak ipar dengan sangat baik, kau memang pria hebat" Ucap Erina dengan mengulas senyum manis nya.
"Tentu saja, tentu kau harus berterimakasih pada ku ! Bukan hanya kau tapi kalian semua hahahha"
Tunjuk Liam dengan mode bodoh nya.
"Aissh kau ini"
Mereka berbincang seperti biasa nya, Yuma juga Gary pun kembali ke luar dengan Luna membawa kue dan Anran membawa minuman di belakang.
"Yeay kue kesukaan ku. Kakak ipar terimakasih"
"Sssh bukan masalah" Ujar Yuma ikut duduk di samping Liam.
Anran dan Luna merapihkan piring-piring kue di atas meja. Liam menoleh "Eh cantik nya aku ada di sini" Goda Liam pada Luna.
Mereka semua terkejut dengan penuturan Liam apalagi Yuma, pasal nya, selama lima tahun ini, Liam tidak pernah lagi menggoda wanita.
"Heh, anak orang jangan di buat salah tingkah seperti itu"
Anran menyenggol tubuh Luna dengan ikut menggoda nya.
"Apaan sih, An!"
"Hahaha Kak Yuma lihatlah, si centil kita malah tersipu malu"
Anran benar-benar puas memojokkan Luna, bukan nya apa, sekarang giliran nya yang meledek. Kemarin-kemarin Luna meledek dirinya bersama dengan Tuan Xian, bukan kah sekarang dirinya harus begitu juga.
"Diam, Anran!"
Luna mencubit pinggang Anran sampai pemilik sang kulit menjerit kesakitan.
"Aargh sakit, gilla!"
"Sudah-sudah, kalian kembali bekerja sana ! Berisik sekali" Tukas Yuma mengusir mereka berdua dengan senyuman senang nya.
"Eit tunggu dulu kak"
Yuma menaikkan satu alis nya sekarang. Anran was-was karena Luna sepertinya akan membocorkan rahasia nya.
__ADS_1
"Eumbpphhh"
Anran secepat kilat membekap mulut Luna saat bibir Luma mulai terbuka.
"Ah hahaha, silahkan kalian lanjutkan ! Kami permisi"
Ujar Anran dengan tingkah aneh nya.
Liam terus memperhatikan, meletakan jari jemari nya di bawah dagu. Sedangkan Gary dan Erina malah terbawa suasana drama kekanak-kanakan mereka.
"Aishhh lepas"
"Kak Yuma, itu Tuan Xian—"
Anran membulatkan matanya. "Yaakk tutup mulut mu" Teriak Anran.
"Ssstt, Anran kau yang diam" Tukas Yuma kembali, karena mereka memang penasaran membuat Yuma membenarkan duduk nya.
Anran menunduk malu saat ini, sedangkan Luna semakin menjadi.
"Lanjutkan, aku mau tahu!" Seru Yuma.
"Tuan Xian berkencan dengan teman gila ku yang satu ini"
"Apa ?." Mereka semua berteriak keras, apalagi Gary yang notabene nya si wajah dingin, tapi kali ini tidak lagi, dia benar-benar terkejut.
Angguk-angguk Luna seraya paksa merangkul pundak Anran, wajah nya berekspresi sangat puas. Anran tentu masih menunduk malu.
"Kau tidak sedang bercanda bukan, Luna ?!" Sela Gary reflek berdiri dan berjalan mendekati Luna juga Anran.
"Kak" Tahan Yuma.
"Sebenar sayang, ada yang aneh dengan Xian ! Berani sekali dia menyembunyikan hal ini dari ku" Gary memegang tangan Yuma yang masih melingkar di pergelangan tangan nya.
"Ya memang apa masalah nya, itu hak nya jatuh cinta, kak ! Kita tidak bisa melarang nya dan aku tahu Anran, aku tahu siap dia dan lingkungan nya" Timpal Yuma kembali, sedikit menengadahkan tatapan nya menggapai mata Gary yang tengah menilik Anran dari atas sampai bawah.
Luna si pelaku utama pun ikut canggung saat ini.
"Eh eh, ada apa dengan suami mu ini, Er ? Gila apa kalau dia meringkus teman kencang saudara nya sendiri"
Liam menggeser duduk nya, sedikit memiringkan kepala nya ke arah Erina dan berucap sedikit pelan. Erina pun sama pemikiran nya dengan Liam.
"Suami ku memang gila, tapi aku suka" Erina mendorong kepala Liam dengan telunjuknya.
__ADS_1
"Hadeuuh" Jengah Liam seraya menggelengkan kepala nya.