
...***...
"Sini biar aku yang menggendong nya" Liam mendekati Yuma dan mengambil alih tubuh Xiao Lin. Yuma membuka pintu mobil belakang dengan cepat.
"Nyonya Lee masih belum kembali kah ? Ini tanggal 14, bukan nya seharus nya sudah sampai di rumah ya ?!"
"Mama masih betah di hawai, sudah lah biarkan saja dia menikmati liburan nya !." Jawab Liam sesekali ekor matanya melirik Yuma yang tengah sibuk memainkan jari jemari nya.
"Hahaha nyonya Lee memang selalu semangat dengan liburan nya ketimbang melihat wajah putra nya!" Ledek Yuma dengan tawa renyah mengiringi.
"Aishhhh, ledek terus !!" Sahut Liam ketus.
"Kenyataan nya emang gitu, kan?!."
"Iya juga sih hahahaha"
Saling ledek memang sudah menjadi kebiasaan mereka, kadang permasalahan kecil bertengkar nya minta ampun. Bagaimana saja seorang adik dan kakak yang tengah bertengkar, ya mereka seperti itu sampai seakan lupa dengan usia masing-masing.
Sampai di apartemen, Xiao Lin masih tidur dan Liam pun membawa nya ke kamar dan segera membaringkan di atas kasur.
"Yum, kau tidak ada niatan mempertemukan dia sama papa nya kah ?" Liam memperhatikan wajah tampan milik Xiao Lin.
Yuma menghentikan langkah nya saat hendak menggantungkan tas. Liam menoleh karena tak ada sahutan dari Yuma.
"Dih malah bengong"
Seru Liam.
"Aku sudah ada rencana pulang, kok! Sekarang usia A-Lin sudah luma tahun dan aku sudah berjanji akan mempertemukan dia dengan papa nya,"
"Huffhhh entah apa yang akan terjadi ! Aku takut Daniel tidak akan percaya, Li."
"Apa aku wanita yang begitu kejam ? Hahaha terasa memang picik dan licik ya!." Lanjut Yuma dengan tawa ledek untuk dirinya.
"Bukan seperti itu, aku tahu maksud mu ! Kau tidak mau menjadi ibu egois dengan menyembunyikan kebenaran jika papa dari putra mu masih ada, kau juga mengesampingkan kekecewaan hanya untuk putra mu. Jika tidak ada A-Lin aku yakin kau tidak pernah ingin mengenal pria itu lagi apalagi menyebut nama nya"
"Kau juga sudah mempertimbangkan konsekuensi nya dan aku yakin rencana yang kau susun serapi mungkin sudah kau putuskan dengan sematang mungkin"
"Kamu itu ibu hebat yang pernah aku kenal, Yum! Dengar, kamu bukan wanita licik dan tidak tahu malu tapi kau seorang ibu yang ingin membahagiakan seorang putra tanpa latar kebohongan."
Tutur Liam, masih duduk di tepi kasur dengan kedua tangan menekan di atas belakang. Netra itu entah tengah mengatakan apa saat perkataan Liam terlontar, sesekali Yuma menggigit kuku nya karena merasa resah.
Setiap keputusan yang di ambil tentu sudah di pikir dan di susun sematang mungkin. Yuma sudah terbiasa dengan perhitungan akan apa yang akan di tuai nanti
"Karena Daniel juga berhak atas putra nya dan aku tidak ingin menyembunyikan lebih dalam lagi ! Aku tidak salah bukan, Li?!" Ujar nya penuh dengan gejolak hati yang terus mengguncang.
__ADS_1
Liam melebarkan senyum nya.
"Haahh semua nya akan baik-baik saja ! Jadi coba dahulu dan nanti akan tahu bagaimana respon nya" Liam berdiri dan melangkah mendekati Yuma, kemudian menepuk bahu wanita itu berulang lalu melenggang pergi.
"Oh iya"
Langkah nya terhenti saat ingat sesuatu, dia pun membalikkan kembali badan nya agar bisa menatap Yuma penuh, Yuma pun menoleh.
"Daniel akan mengadakan konferensi pers lusa"
"Coba cek berita di internet !"
Ucap Liam lalu kembali melanjutkan langkah nya.
Yuma pun mengambil handphone nya di tas yang sudah tergantung di tempatnya.
'Presdir Chen Group sedang menjalin hubungan dengan aktris papa atas-Yuwen dan menurut informasi Yuwen tengah mengandung anak dari presdir, usia kandungan kurang lebih sebelas minggu'
Bibir Yuma terus membaca pelan isi berita, sesekali kening nya mengkerut. Ada rasa was-was juga di benak nya saat ini kala berita itu beredar, benar apakah tidak nya dia masih harus mencari tahu.
Pikiran nya seketika mengingat perkataan Kirei daj juga Axel di tambah Liam pun selalu memberikan informasi terkini dari Daniel.
Masalah nya bukan karena apa-apa, tapi dia takut kalau Daniel sudah memiliki kebahagiaan nya sendiri dan misal nya dia tiba-tiba datang berarti secara tidak langsung menghancurkan kebahagiaan orang lain.
Terlebih membawa seorang putra ke hadapan nya.
...**...
"Kak"
Pagi-pagi teriakan Erina menggema, wanita beranak satu itu nampak tak terlihat sudah melahirkan sorang putri.
"Sayang tenang. Astaga!"
Gary menahan amarah istri nya yang kadang membuatnya ingin sekali mencakar wajah nya.
"Bagaimana aku bisa tenang ? Itu apa-apaan berita di media, bisa-bisa nya menyebar berita bohong dan lagi aku tidak habis pikir sama si Yuwen itu ! Lihat saja ya, kalau aku ketemu sama dia bakal aku hajar sampai mati, kalau bisa sama anak dalam kandungan nya yang tidak jelas asal usul nya itu,"
"Mana bisa Kak Daniel yang harus tanggung jawab ? Siapa bapak nya kita mana tahu kan ? Aku kenal sekali sama si Yuwen itu"
Gary terus hendak meredakan amarah istri nya dengan kedua tangan terus bergerak, sesekali menepuk punggung istri nya.
"Ssstt, ini masih pagi sayang ! Sudah, ok!"
Gary tidak tahu lagi harus berkata apa, image cool nya benar-benar tercoreng kalau sudah bersama istri nya.
__ADS_1
"Astaga astaga ada apa ini pagi pagi ?!." Shen ribut ke luar dari kamar nya dengan nada suara siaga satu.
Telapak kaki nya terdengar menapaki anak tangga, turun dengan cepat.
"Apa, ada apa ? Ya ampun berisik sekali"
Mama Ella pun ke luar dengan tergopoh,
"Ma," Erina mendekati Mama Ella.
"Erina ?" Mama Ella tentu saja bertanya-tanya dengan kehadiran Erina yang tiba-tiba. "Astaga sayang kau ada di sini ?" Seakan kesadaran Mama Ella belum sepenuhnya kumpul, dia masih tidak percaya kalau putri nya sudah berdiri di depan nya.
"Iya ini aku, siapa lagi ?!" Cebik Erina.
Papa Chen pun nampak ke luar dari kamar masih dengan baju tidur membalut tubuh nya. Shen menyandar kan bokong nya di bahu sofa, kedua tangan melipat seraya mata merem melek seperti masih lengket.
"Berita itu menyakiti telinga dan mataku jadi aku bergegas ke sini saat Shen mengatakan akan mengadakan konferensi pers lusa"
"Tidak kah berita si Yuwen itu berlebihan ? Kenapa kalian malah membiarkan perempuan itu, jadi dia merasa leluasa dan seenak jidat nya menebar kebohongan ! Ya kalau berita nya benar, lain lagi kan ? Aku tidak percaya kak Daniel nanam benih pada perempuan itu dan lagi setelah kepergian kak Yuma, kita juga tahu dia sangat anti dekat dengan wanita"
Erina terus nyerocos, dia benar-benar tidak habis pikir dengan berita itu. Kalau iya benar dirinya tidak mau lagi menyapa kakak nya. Tidak ada wanita yang lain apa sampai harus menghamili si Yuwen itu.
Erina benar-benar emosi, dia sepertinya kenal Yuwen tidak hanya luar nya saja.
"Ah iya iya iya, oke stop ! Tarik nafas mu lalu buang perlahan. Tenang, coba sekali lagi"
Mama Ella pun menenangkan putri nya. Memang wajah juga dia marah, siapa yang tidak marah dengan berita aneh itu.
"Omelan mu itu tidak akan menyelesaikan masalah, Erina ! Yang ada wanita itu akan semakin semangat maju dengan segala rencana nya"
"Kita hanya perlu seperti Landak. Dia lambat dan lemah tapi mematikan bahkan sekelas ular berbisa pun bisa kalah oleh nya ! Kau mengerti maksud kakak bukan ?"
Daniel memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku high-waist katun nya.
"Kita tidak bekerja dan menghadapi musuh dengan tergesa-gesa, biarkan mereka di atas dulu"
Ingat satu tahun yang lalu, di mana Daniel menghancurkan satu perusahaan hanya dalam waktu satu malam.
Dulu pernah ada segerombolan orang menyerang perusahaan nya, di mana Yuma pun bekerja di sana waktu itu dan pertemuan mereka di awali dengan keributan kecil akibat dari penyerangan kantor tanpa ada yang memprediksi dan mengawasi.
Ternyata, Daniel tidak langsung membalas orang di balik penyerangan itu, Daniel dengan berkala dan santai mengumpulkan bukti otentik yang memang akan menjadi bumerang untuk perusahaan musuh yang menyerang.
Sampai di mana satu tahun lalu menjadi duka untuk perusahaan musuh. Main Daniel sangat lembut dan tidak terlihat, untuk itu lawan tak dapat membacanya.
"Lusa tes DNA akan ke luar, jadi kita tunggu saja sampai waktu nya tiba!" Timpal Shen.
__ADS_1
"Tch tch kak, makanya cepat punya pasangan biar tidak di manfaatkan wanita di luar sana hanya katena kau kaya." Ledek Erina.
"Mulai, mulai" Daniel melengos pergi