
" Daniel."
Dorongan dari pintu depan begitu keras, papa Chen di ikuti mama Ella berjalan tergesa dengan amarah yang sudah memuncak, namun dalam jiwa mereka sebagian nya telah hancur berkeping-keping.
Daniel dengan santai nya menuruni anak tangga, balutan kemeja polos dengan bawahan menjuntai sempurna.
" Ada apa ma, pa ?." Daniel segera meraih tubuh mama Ella dengan lembut. " Ma ada apa ? Mama kenapa menangis ?." Ekspresi Daniel mulai negatif.
" Daniel jangan mama mohon." Racau mama Ella di sela dekapan nya.
Daniel memberi jarak agar bisa menatap mama nya penuh.
" Maksud nya apa ? Ma katakan dengan jelas, sebenarnya ada apa kenapa mama tiba-tiba menangis dan papa kenapa juga marah-marah ?." Seru nya.
" Papa mengunjungi Erina."
Deg..
Jantung Daniel seketika berdetak begitu kencang saat mendengar papa nya menyebut nama sang adik.
" Daniel." Sendu mama Ella penuh maksud dan peringatan.
" Kalian tahu ? Kalian juga sangat kenal bukan dengan pria brengsek itu ?."
" Ma, Pa aku tidak terima ! Erina, sangat menderita ma dan aku tidak akan membiarkan pria itu senang di atas penderitaan adik ku dan Yuma, dia pun akan menanggung akibat nya." Final Daniel.
Plak...
Papa Chen menampar Daniel begitu keras sampai wajah itu berpaling begitu saja. " Dengar daniel, Yuma tidak ada sangkut paut nya dengan masalah ini ! Ingat Daniel, jangan macam-macam pada gadis itu atau papa yang akan menghajar mu." Tekan papa Chen penuh dengan peringatan.
Dari untaian kata itu, Daniel malah merasa jijik akan keluarga nya yang membela Yuma. Entah kenapa tapi dalam otak nya, Yuma adalah kesalahan yang harus di urus oleh nya.
" Daniel." Teriak Mama Ella.
" Tidak ma, kalian tidak akan bisa mencegah ku." Geram nya. Daniel mengepal marah.
" Cukup memberi pelajaran pada pria itu ! Dia harus bertanggung jawab atas anak yang di kandung oleh Erina."
" Daniel kami mohon, ini bisa di selesaikan dengan baik ! Jangan memperkeruh keadaan, kasihan juga pada Erina." Mama Ella terus menangis, nafas pun sudah tak normal lagi berhembus sehingga harus menepuk-nepuk dadanya.
" Ma, pa." Shen, dia mendengar di balik dinding pembatas ruang tamu dan juga ruang keluarga. Dia berdiri lama di sana sepulang dari kantor dan mendengarkan semua yang tengah terjadi, hati nya pun semakin sakit kala mendengar jika Erina tengah mengandung.
__ADS_1
Mama Ella, papa Chen dan juga Daniel menoleh ke sumber suara. Disela langkah Shen menghampiri, Daniel pergi kembali ke atas menuju ruang kerja nya
" Shen, hentikan kakak mu ! Dia akan menyakiti Yuma jika seperti ini. Yuma tidak bersalah !." Mama Ella memegang kedua pundak Shen dari depan denhan penuh harap. Papa Chen mengusap-usap punggung mama Ella yang bergetar.
Shen menatap bola mata kedua orang tua nya dengan sendu dan penuh amarah.
" Maaf."
Satu kata itu membuat seluruh tubuh mama Ella bergetar, air mata nya kembali menetes. Dia luruh, dia bingung akan kenyataan .
" Bagaimana keadaan adik ku pa ?." Mata Shen mulai memerah, rahang nya mulai menegas.
" Shen." Telapak tangan papa Chen menepuk pelan pipi Shen.
" Sepertinya Gary tidak tahu siapa yang dia tiduri malam itu, tapi papa sangat marah dan ingin membunuh nya sekarang juga. Sayang nya papa pun tidak mau jika anak yang di kandung Erina tak memiliki sosok ayah."
" Shen Yuma tidak bersalah, apa pantas dia menjadi pelampiasan ?."
Papa Chen terus memberi pengertian pada Shen, hanya dia yang paling bisa mendengar kan ucapan nya di saat tengah marah sekalipun.
Shen mengerti, namun dia bingung. Akal nya kini tengah di obrak-abrik oleh kenyataan yang pahit.
" Shen." Mama Ella begitu lembut, suara nya prau.
" Bagaimana dengan kuliah nya ma, pa ?." Shen masih belum berpikir jernih.
" Mama akan menemani dia di sana sampai kuliah nya selesai." Ucap mama Ella kembali.
" Jangan khawatir, kami akan melakukan yang terbaik untuk nya ! Urusan Gary papa serahkan pada kalian." Ucap papa Chen.
" Pa." Tegur mama Ella.
" Tapi jika sampai menyentuh Yuma, papa dan juga mama tidak akan segan menghajar kalian." Peringatan dan ancaman di awal perdebatan membuat Shen hanya bisa mengalah dahulu.
...**...
Tok...
Tok...
Tak ada sahutan dari dalam, Shen memutuskan membuka pintu kamar Daniel dengan hati-hati.
__ADS_1
" Daniel." Panggil nya seraya masuk.
" Aku akan mengurus nya, kau cukup diam dan jangan ikut campur urusan ku ! Ingat, kau akan mendukung apapun keputusan ku."
Langkah Shen tersentak sampai terhenti begitu saja saat suara Daniel tanpa permisi masuk ke dalam telinga nya.
" Dalam hal ini aku akan mendukung mu Daniel ! Namun jangan sampai Yuma kau libatkan dalam masalah ini, dia tidak tahu apapun ! Kita juga sudah tahu bagaimana dia hidup sebelum nya untuk itu aku tekan kan jangan sampai menyakiti orang yang tidak seharusnya tersakiti."
Sudut bibir Daniel menyungging tajam, perkiraan nya tepat seratus persen jika Shen pun akan memperingati hal yang sama seperti kedua orang tua nya.
" Bagaimana bisa aku menyakiti perempuan yang aku cintai, Shen ?!." Ucap nya penuh keyakinan sampai mungkin semua orang akan percaya dengan ucapan dan juga perangai nya.
Shen terus menatap lekat Daniel, dia menautkan alis nya dengan mimik wajah dari Daniel, begitu tidak dapat di tebak apa yang tengah di rencanakan otak cerdas nya itu.
...**...
...Flash back on...
Satu minggu, mama Ella dan juga papa Chen berada di Singapura. Awal nya mereka begitu senang akan bertemu dengan putri cantik nya, namun saat bertemu, mulut mereka seketika bungkam, sangat-sangat rapat sehingga tak ada suara pun yang terdengar.
Di ambang pintu apartemen, mama Ella dan juga papa Chen di buat terkejut dan tegang akan penampakan putri nya yang acak-acakan, mata sembab dan juga pakaian yang basah kuyup.
Tangis Erina pecah di pelukan sang mama dan juga sang papa. Papa Chen menggendong Erina seperti anak kecil dengan perasaan yang hancur melihat putri tercinta nya seperti itu.
Erina adalah gadis terbuka pada keluarga nya, untuk itu tanpa rasa takut dia pun menceritakan kejadian nya.
Tidak bisa berkata-kata, mama Ella dengan cepat memeluk Erina kembali, menarik putri nya ke dalam dekapan hangat sang ibu.
" Kenapa bisa terjadi seperti ini, eum ? Mama sudah bilang fokus saja pada kuliah mu, kami masih bisa mencari uang untuk mu." Hati ibu mana yang tak sakit bila mendapati putri nya mendapat perlakuan seperti itu dari pria asing.
" Maafkan Erina ma, maaf." Suara Erina sudah bergetar, dia ingin menangis dan juga ingin marah pada dirinya sendiri.
Papa Chen memilih beranjak berdiri menjauh dari mereka. Dia tidak tahan akan situasi saat ini, karena hal ini akan menjadi aib untuk keluarga nya, di satu sisi memang seperti itu namun di sisi lain dia adalah putri nya yang malang, yang sangat butuh dukungan dari keluarga nya.
" Mama mu akan tinggal di sini sampai kau selesai pendidikan dan dokter psikiater dan juga dokter kandungan akan mengontrol setiap seminggu sekali." Papa Chen kembali, dia duduk di samping putri nya yang masih terisak memeluk kedua kaki sang mama.
" Sayang." Papa Chen menarik Erina, dia memeluk dengan begitu sayang nya. " Papa tidak akan mengatakan jika ke depan nya akan baik-baik saja, tapi papa hanya bisa mengatakan jika kami terutama papa akan selalu berada di samping mu." Ucap papa Chen begitu mengerti perasaan Erina. Dia juga punya hati yang bisa terluka kapan saja, namun dia hanya tidak bisa mengekpresikan semua yang bersifat lemah, begitulah sang ayah.
" Papa hiks... hiks...papa." Tangis Erina semakin pecah, ucapan nya terpotong-potong akibat sesak. Dia pikir mereka akan mengasingkan nya dan mengusir tapi ketakutan nya salah total untuk itu satu beban yang dia tanggung menghilang.
" Sssstttt, kau kuat ! Kau putri papa yang kuat." Bola mata nya terus menyendu, papa Chen yang menahan agar tidak menangis kini tidak bisa lagi dan akhirnya keluarga kecil itu di selimuti oleh air mata.
__ADS_1
...Flash Back Of...
...**...