
Rumah sakit pun kini yang di tuju oleh Yuma dan juga Xian, mereka mendaftar ke bagian dokter kulit. Setelah mendaftar mereka langsung menuju ke ruangan dokter kulit di pandu oleh perawat.
Tidak ada pasien karena mungkin ini sudah larut malam, untuk itu mereka berdua langsung masuk dan berobat. Yuma di periksa terlebih dahulu oleh dokter kulit wanita.
" Nona kau sudah tahu jika tubuh anda alergi dengan sea food terutama cumi-cumi, lalu kenapa masih memakan nya ? ". Tegur dokter itu.
" Bagaimana keadaan adik saya dok ? ". Tanya Xian. Bintik merah pada tubuh Yuma bermunculan dan suhu badan nya pun semakin panas.
" Setidak nya nona harus di rawat satu malam untuk meredakan gatal dan juga panas nya agar lebih efisien. Tingkat kesembuhan nya pun akan semakin cepat jika dia di rawat ". Tutur dokter itu sembari memberi resep utuk di tebus di apotek.
Yuma sudah tidak bisa lagi menahan mata nya, dia pun tergeletak pingsan dan Xian segera meraih tubuh Yuma.
" Sus tolong bantu siapkan kamar untuk perawatan nya ". Ucap dokter itu. Xian pun membopong tubuh Yuma sampai ruang rawat.
Setelah menebus obat dan mengurusi semua administrasi, Xian pun menghubungi papa Zhao dan mama Shuwan.
" Paman datanglah ke rumah sakit X, Yuma di rawat ". Ucap Xian tidak basa-basi dan langsung ke intinya.
" Apa ? ". Kaget papa Wei. mama Shuwan yang berada di samping nya pun penasaran.
" Paman ke sana sekarang juga ".
...**...
Zhao Wei serta Shuwan sampai di rumah sakit, mereka berlari cepat ke arah meja pendaftaran dan menanyakan ruang rawat putrinya.
Setelah di beritahu dan di pandu, mereka pun ke sana lebih cepat. Di sela lari mereka, papa Chen menelpon.
" Halo ? ". Ucap Zhao Wei.
" Tuan, apa nona Yuma sudah sampai ? ". Tanya Papa Chen, suara nya pun terdengar khawatir.
" Saya sedang di rumah sakit, putri saya di rawat ". Sahut papa Zhao. Papa Chen pun menegang atas apa yang di dengar nya.
" Rumah sakit mana ? ". Kaget papa Chen, dia dengan cepat bertanya lokasi rumah sakit nya.
" Rumah sakit X ". Papa Wei tidak bisa lagi berpikir, dia langsung jawab saja apa yang di tanyakan.
__ADS_1
" Ini ruangan nona Yuma tuan ". Ucap suster itu sopan.
Mereka berdua langsung masuk ke dalam, terutama Shuwan yang tidak sabar menemui putri nya. " Sayang ". Shuwan pun menangis mengecup kening Yuma.
" Bagaimana kondisi putri saya sus ? ". Tanya papa Wei.
" Putri anda baik-baik saja, tidak ada yang perlu di takutkan ! Kita hanya tinggal menunggu nona sadar tuan ". Tutur suster itu dengan perangai yang begitu sopan.
" Pria yang bersama nona, dia tengah di rawat juga karena masalah pencernaan nya ". Lanjut suster itu bicara.
" Di ruangan mana dia ? ". Tanya mama Shuwan.
" Di samping ruangan ini, nyonya ! ". Sahut nya.
" Baiklah terimakasih sus ". Ucap mama Shuwan juga papa Chen.
Setelah mengunjungi putri nya, mereka berdua mengunjungi Xian tepat di samping ruangan Yuma. " Xian ". Panggil mama Shuwan.
Xian menoleh dengan posisi duduk serta jarum inpus menancap di lengan nya. " Xian bagaimana perut mu nak ? ". Mama Shuwan nampak khawatir dan berdiri di samping kasur yang di tempati Xian.
" Tidak masalah bi, perutku tidak lagi sakit ! Kami besok juga bisa pulang, hanya di suruh menghabiskan satu botol inpusan saja ". Tutur Xian.
" Keadaan nya baik paman, tadi dia untuk menghargai nyonya Ella sampai memakan sea food dan aku terpaksa menghabiskan semua nya agar Yuma tidak lagi memakan nya ". Tutur Xian sembari deretan giginya terlihat begitupun dengan mimik wajah nya yang terpampang bodoh.
" Dasar ! Dan akhirnya kau juga harus di rawat bukan nak ?!". Seru mama Shuwan.
" Tidak masalah bibi ". Tukas nya.
...**...
Keluarga Chen pun sampai dan kini tengah menuju ruang rawat Yuma, di pandu oleh suster yang lain. Nampak raut-raut khawatir dan bersalah apalagi Daniel, dia mendahului orang tuanya dan juga Shen tanpa menghiraukan apapun.
Saat mereka sampai, kebetulan papa Wei dan mama Shuwan pun ke luar dari ruangan Xian. " Tuan Chen anda di sini ? ". Heran papa Wei dengan kedatangan mereka.
" Anda memberitahu jika Yuma di rawat ". Ucap papa Chen yang menangkap kebingungan dari raut Zhao Wei.
" Tadi papa memberi tahu mereka saat menuju ruangan Yuma ". Ucap mama Shuwan mengingatkan. Zhao Wei seakan berada dalam ketidaksadaran memberi tahu tuan Chen.
__ADS_1
" Yuma di dalam, tapi tidak bisa masuk semua nya, hanya dua orang yang bisa masuk !". Ucap suster itu.
" Mama dan papa dulu saja, kami bisa nanti setelah kalian ". Ucap Daniel.
" Baiklah ".
Mereka pun masuk melihat keadaan Yuma, dia masih setia terpejam hanya suara air inpus saja yang menjadi teman di dalam.
" Kenapa kamu tidak bicara jika alergi makanan laut Yuma ? Kau membuat bibi merasa bersalah ". Ucap mama Ella sembari menggenggam telapak tangan Yuma. Papa Chen diam memperhatikan.
" Ma biarkan dia istirahat, ayo kita ke luar kembali ". Papa Chen menarik kedua pundak istri ya itu dengan lembut. Raut bersalah itu masih tersirat dari kedua mata mama Ella.
" Dia akan baik-baik saja, percaya pada papa ". Ucap Papa Chen menenangkan istrinya.
Pintu ruangan pun terbuka dan sekarang giliran Shen juga Daniel menjenguk Yuma.
" Maafkan saya nyonya Zhao, saya tidak tahu jika Yuma alergi makanan itu ". Mama Ella mengatupkan kedua telapak tangan nya di depan Shuwan-mama dari Yuma.
" Tidak masalah nyonya, dia baik-baik saja jadi tidak ada yang perlu meminta maaf pada kami ". Ucap mama Shuwan.
" Terimakasih, sekali lagi saya minta maaf ".
" Sudah, tidak masalah nyonya !". Ucap mama Shuwan.
" Tuan Wei, di mana pria muda yang bersama dengan nona Yuma ?". Tanya papa Chen hampir lupa bertanya keberadaan Xian.
" Dia pun di rawat karena masalah pencernaan ". Sahut papa Wei.
" Apa ?". Kaget papa Chen juga mama Ella.
" Di mana ruangan nya ? ". Tanya mama Ella.
" Di sana ! ". Seru mama Shuwan menunjuk ruangan di samping ruang rawat Yuma. Merekapun memutuskan untuk melihat keadaan Xian saat itu juga.
Daniel menarik kursi besi di samping agar dua lebih leluasa menatap Yuma dari dekat. " Bangun lah, kau membuat ku khawatir Yuma ". Ucap Daniel.
" Iya Yuma bangunlah, kau membuat ku takut dan juga bersalah ! Bangunlah, aku mohon ". Ucap Shen.
__ADS_1
Mereka terus berbicara di hadapan Yuma yang begitu tenang dalam tidur nya, sesekali mereka terdiam satu sama lain entah apa yang di pikir kan.