
Yuma tak memperlihatkan ketakutan, dia mencoba mencari jawaban dari sorot mata Daniel dan Ya, mata itu tengah menyimpan kebencian yang dalam.
Sepasang suami istri itu tengah saling tatap dengan sang suami masih mencengkram kedua pipi milik istri nya.
"Daniel, sebenarnya apa tujuan mu menikahi ku. 'Eum ?! Paras mu itu membuat diri ini terkelabuhi hahahah." Yuma menangkis tubuh Daniel dengan kemampuan taekwondo nya yang masih melekat pada diri Yuma.
Daniel terhempas dan sedikit terpelenting hingga menubruk dinding.
"Dengar Daniel, aku bersikap seperti ini bukan karena hanya aku mencintai mu tapi juga kini aku telah sah menjadi istri mu,"
"Kau berhak melakukan apapun kepada ku, kau berhak atas apapun dari ku. Tapi Daniel aku hanya minta satu padamu, aku minta bicaralah jika aku ada salah, bicara jika ada yang mengganjal di hati mu,"
"Dari mata mu itu kau bukan hanya memperlihatkan tidak suka saat ini tapi juga mata mu itu memperlihatkan kebencian pada ku ! Kenapa ? Kenapa baru sekarang hah ? Kenapa setelah menikah kau begitu kasar kepada ku ?."
Yuma terus berkoar, dia tak henti-henti nya mengeluarkan isi hati yang mengganjal beberapa hari ini.
Yuma menangis, namun dia masih teguh dan hanya menyeka air mata itu di sela perkataan nya.
Daniel, dia berdiri dengan kokoh, memasukkan kedua tangan nya ke dalam saku dan menatap Yuma dengan ekspresi menahan amarah.
"Tidak sekarang Yuma, ini belum seberapa !,"
"Aku belum puas menyakiti mu jadi nikmati saja neraka ini,"
"Dan dengar, kau di larang mencampuri urusan ku dan kau di larang untuk bertanya kenapa aku bersikap seperti ini."
Tekanan itu terus menjalar seperti akar yang membelenggu ruang kamar pengantin baru.
Daniel, dia pergi ke ruangan kerja yang ada dalam kamar itu sedangkan Yuma, dia masih berdiri menatap tajam pada punggung Daniel seakan siap untuk menikam objek nya.
"Tapi jika kau bermain dengan wanita lain aku tidak terima, Daniel ! Aku berhak atas dirimu." Nada suara Yuma masih menekan, dia benar-benar tidak akan terima.
Kepalan kedua tangan nya membulat sempurna. Mata nya merah masih berembun dan siap untuk kembali menumpahkan air nya.
Yuma naik ke atas kasur dan membaringkan tubuh nya di sana. Tubuh nya remuk seperti baru di injak oleh beban berat.
Pikiran nya masih tertuju pada sikap Daniel yang tiba-tiba kasar. Sekarang atap itu menjadi teman curhat nya kembali, seakan hanya langit-langit yang menjadi teman nya saat ini dan di masa yang akan datang.
"Terus terluka bahkan luka itu semakin merajalela ! Baru saja ingin menyombongkan diri kala sabar ku telah malu dengan keteguhan hati ku, baru saja ingin menyombongkan diri jika saat ini Tuhan telah memberikan pasangan yang begitu mencintai dan menjaga ku."
"Katakan jika ini akan menjadi kali terakhir aku di perlakukan buruk oleh takdir."
Yuma terus menatap langit-langit kamar dengan sendu, air mata kembali menetes melalui sudut mata nya. Sungguh miris nasib Yuma sekarang.
"Baiklah ! Baiklah aku akan bersabar sekali lagi." Air mata bersamaan dengan ulasan senyum paling lah menyakitkan.
Perlahan Yuma memejamkan kedua mata nya dengan tidur telentang dengan selimut menutupi tubuh nya sampai dada sehingga hanya pundak dan juga wajah tang terlihat.
Dengkuran kecil terdengar normal begitupun nafas yang bersatu dengan udara di sana.
Daniel, dia memadamkan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur di sebelah Yuma.
Pria itu menunduk menatap Yuma dengan pikiran kemana-mana, dia ingin membencinya namun dia juga mencintai nya. Perasaan Daniel bercampur aduk sampai dia semakin bungkam saat ini.
Dia hanya menatap Yuma dengan lembut namun sesekali mendengus kecil.
...**...
Sinar mentari mulai menampakkan diri nya, Daniel terbangun dan menguap, melenturkan otot nya perlahan.
Di samping nya, Yuma sudah tak berada di sana saat ini entah kemana dia.
"Aku sudah menyiapkan baju kantor mu, tas dan juga beberapa keperluan kerja sudah aku masukkan ke sana,"
"Cepat mandi dan segera turun untuk sarapan !." Yuma ke luar dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu."
Yuma berjalan mendekati Daniel yang masih menetralkan pandangan nya, sesekali mengucek mata agar cepat jelas.
Daniel masih bersila, dia masih memperhatikan Yuma yang tengah sibuk saat ini. Benar-benar aneh, dia tidak melihat Yuma seperti orang tertekan, dia juga tidak melihat Yuma dengan ekspresi menyedihkan.
"Wanita ini..... " Batin Daniel terus memprotes. Entah keberuntungan atau apa, namun jika pria lain yang mendapatkan Yuma mungkin akan terus memuji Yuma dan merasa jika pria yang menikahi Yuma akan merasa sangat beruntung.
"Aku duluan."
Klekk...
Suara pintu pun menyadarkan Daniel dan seketika mengguncang kepala nya agar cepat sadar. Dia pun beranjak menuju kamar mandi.
...**...
"Mereka belum ada yang ke luar, bi ?." Yuma menyiapkan sarapan untuk keluarga sampai ART di sana kaget saat Yuma sudah berada di dapur subuh hari.
"Belum non, mungkin sebentar lagi !." Ucap bibi Qin sembari menata beberapa piring yang akan di gunakan.
Jam menunjukkan pukul 06:45, Yuma masih sibuk di dapur bersama beberapa ART yang lain.
"Non, biar bibi saja ! Non istirahat dulu, 'gih!." Bibi Qin mengambil lap meja yang tengah di pegang oleh Yuma.
"Tidak apa bi, nanggung !, " Sahut Yuma dengan senyum manis nya.
"Bibi kerjakan yang lain saja, toh ini sudah mau beres bi !." Ucap Yuma.
"Tapi non...."
"Tidak apa." Yuma mendorong lembut punggung bibi Qin dengan selingan tawa kecil disertai wajah berseri.
Shen, dia yang lebih dahulu turun dari kamar nya dengan sudah siap pergi ke kantor.
"Kak kau sudah bangun ?." Teriakan Shen di pagi hari bagai alarm untuk penghuni rumah. Sembari menuruni anak tangga Shen membenarkan dasi nya yang masih belum terikat sempurna.
"Shen, selamat pagi." Sapa Yuma dengan berseri. Kulit wajah yang bersih dan putih menambah binaran mata nya semakin terlihat.
Shen terus melangkah dengan semangat. "Kakak ipar selamat pagi."
Pagi yang segar di tambah penghuni baru yang baru datang membuat pagi Shen semakin berwarna karena kakak ipar nya adalah yang dia inginkan begitupun mama Ella dan juga papa Chen.
"Mau teh manis, kopi atau susu ? Aku buatkan untuk mu sekalian untuk Daniel."
Yuma menawarkan dengan penuh semangat. Shen mendelikkan satu alis nya sampai dia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Tidak perlu kak, aku bisa sendiri ! Lagi pula ada bibi Qin juga di sini, kau jangan terlalu lelah." Seru Shen sedikit berbasa-basi.
"Jadi mau di buatkan apa ?." Yuma tak menanggapi tapi malah berucap kembali.
"Papa mau teh manis dulu sebelum sarapan." Papa Chen pun terlihat berjalan namun mama Ella sepertinya masih di kamar.
Shen menoleh begitupun dengan Yuma.
" Selamat pagi papa." Sapa Yuma dengan sopan dan tulus.
"Selamat pagi, menantu."
Papa Chen pun langsung duduk, diikuti oleh Shen.
"Kakak buatkan susu untuk mu dan teh manis untuk papa." Yuma pun kembali ke dapur dengan langkah semangat nya.
Shen juga papa Chen saling pandang, mereka bercakap lewat mata mereka masing-masing.
Tak lama Yuma pun telah kembali dengan nampan di tangan nya.
__ADS_1
"Ini untuk kamu dan ini untuk papa." Yuma meletakan satu persatu gelas di hadapan mereka dengan sopan.
"Yuma lain kali jangan repot-repot, masih ada pelayan yang lain untuk melakukan ini ! Ini papa hanya ingin mencicipi teh manis buatan mu saja untuk itu kedepannya biar pelayan yang melakukan nya." Tutur papa Chen seraya meraih gelas dan menghisap nya sejenak.
"Iya kakak ipar." Timpal Shen.
Yuma berdiri kembali. "Tidak apa, aku tidak keberatan sama sekali. Bibi Qin dan yang lain nya masih harus mengerjakan pekerjaan yang lain, "
"Oh iya, aku juga sudah menyiapkan sarapan untuk semua nya." Lanjut nya.
Shen meletakan kembali gelas yang sudah kosong dan melirik papa nya. "Pa, kita beruntung pagi ini hahaha." Ucap nya nakal.
"Hahaha papa setuju dengan ucapan mu." Papa Chen malah membenarkan.
Yuma kembali tersenyum dengan seruan papa mertua dan adik ipar nya itu.
"Tidak hanya pagi ini saja mungkin !." Lanjut papa Chen begitu semangat berdiri dan menuju meja makan.
"Sana sarapan dulu, aku ke atas manggil Daniel." Ucap Yuma. Dia hendak menaiki namun Daniel sudah terlihat turun.
Mereka bertemu pandang namun Daniel dengan cepat memalingkan wajah nya dengan sorot mata tajam kembali mencengkram.
"Aku buat kan teh manis untuk mu." Ucap Yuma.
"Tidak perlu, aku sudah sangat terlambat !." Tolak nya melewati tubuh Yuma. Yuma sekalipun tak menunduk takut, dia berusaha menatap Daniel.
"Sarapan dulu, perutmu belum terisi." Tahan Yuma dengan nada rendah sehingga tak ada yang tahu jika kedua insan itu tengah berperang mata dan ketusan bicara.
Daniel melirik dan menoleh sejenak. "Lepas." Tepis nya. Pertahanan tubuh Yuma kebetulan seimbang untuk itu dia tak terjatuh.
Hufhhhhh.
Hanya bisa mengembuskan nafas nya berat, Yuma menatap kepergian Daniel tanpa ingin bergabung sarapan terlebih dahulu.
"Yuma" Mama Ella datang dengan sesekali melihat kepergian Daniel.
Yuma menoleh. "Selamat pagi ma" Sapa Yuma memeluk hangat tubuh mama Ella.
"Selamat pagi juga." Sahut mama Ella membelai lembut punggung Yuma.
"Ayo kita sarapan." Ajak Yuma.
"Ayo" Rangkul mama Ella. Hatinya kesal pada Daniel tapi dia tahan dulu karena menantu manis nya, jika buka karena Yuma, mama Ella mungkin sudah koar-koar di pagi hari menceramahi Daniel yang begitu keras kepala.
"Pagi ma."
Shen menyapa dan siap menyuapkan nasi goreng dan juga omelette buatan kakak ipar nya.
"Pagi Shen."
Mama Ella mengusap lembut pucuk kepala Shen lalu duduk di samping nya begitupun dengan Yuma.
"Di mana Daniel ?." Tanya papa Chen.
"Daniel sudah berangkat pa, mungkin banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Biarkan saja !." Ucap Yuma bohong. Gerak-gerik Yuma pun tak terlihat seperti telah di sakiti oleh Daniel, untuk itu mereka hanya bisa menatap selidik saja.
"Dia tidak menyakiti mu, 'kan ?." Tanya papa Chen tiba-tiba.
Yuma menarik piring nya dan seketika menyimpan sendok yang hendak dia kenakan.
"Sama sekali tidak, Pa! Kalian tenang saja." Ucap Yuma bersungguh-sungguh.
Mama Ella seketika tersenyum penuh haru begitupun dengan Shen. "Mama harap kau tidak akan menyerah dengan sikap Daniel, mama sangat-sangat senang akan keberadaan mu. Mama yakin kau bisa merubah putra keras kepala mama itu !." Mama Ella menggenggam tangan Yuma penuh harap.
Papa Chen juga Shen pun menatap sama, menatap Yuma dengan penuh harap .
__ADS_1
"Jangan menatap ku seperti itu !." Seru Yuma.