
"Sayang mama lelah, kita pulang sekarang ya!" Seru Yuma mengulurkan tangan nya. Xiao Lin pun menggapai tangan Yuma dan langsung berdiri.
Tapi sebelum turun dia memiringkan kepala nya.
"Papa, Lin-Lin mengerti apa yang papa katakan" Ucap nya datar namun menusuk hati Daniel begitu saja.
"Ayo" Ucap Yuma mengabaikan Daniel yang hendak menahan nya.
"Yuma kau mau kemana lagi ? Yuma jangan pergi aku mohon"
"Aku mohon"
Daniel mengunci Yuma dengan pelukan nya dari belakang, sangat erat sampai nafas Yuma terasa sesak.
"Jika kau masih belum percaya, kau bisa melakukan tes DNA pada Xiao Lin ! Tidak, aku tidak melarang nya, karena kau berhak atas putra mu"
"Aku hanya mengantar saja sebenarnya, apapun demi putra ku dan selama ini aku tidak pernah menyembunyikan identitas ayah nya juga keluarga nya!"
"Heunn, aku tidak semurahan itu untuk bermain ranjang dengan pria lain"
Ujar nya melepas kasar pelukan dari tangan Daniel namun tangan lain menggenggam tangan kecil milik Xiao Lin.
"Ayo"
Ucap Yuma kembali.
Saat hendak membuka pintu, Shen masuk dengan nafas memburu.
"Kakak ipar" Sapa nya namun Yuma melewati nya begitu saja begitupun dengan Xiao Lin.
"Yuma tunggu" Teriak Daniel.
"Kak ada apa ?" Tanya Shen.
"Jangan banyak tanya, ayo kita ikut dia" Panik nya. Shen pun mengikuti kakak nya juga kakak ipar.
Yuma mengeluarkan handphone nya dan menghubungi seseorang.
"Kau ada di luar hotel bukan ?"
"Iya ! Ada apa ? Kau di mana ? Aku masuk, kau di mana ?."
Tentu saja, tentu saja suara itu milik Liam dan terlihat dia buru-buru masuk.
Bersamaan dengan itu, dua mobil masuk ke area hotel tepatnya mobil milik Papa Chen dan juga Papa Wei. Kebetulan sekali sampai dalam waktu bersamaan.
"Bibi" Ucap Gary.
"Gary"
Mama Shuwan memeluk kilas tubuh Gary dan muncul juga Xian setelah menutup pintu kemudi.
"Gary. Yuma !"
Raut wajah dari dua keluarga itu sangat tak dapat di gambarkan, semua rasa tercampur jadi satu dalam tatapan dan juga raut wajah.
Mereka pun segera masuk.
Yuma sudah sampai di lantas dasar hotel.
"Yuma" Teriak Liam. Dia berlari mendekati Yuma.
"Paman" Ucap Xiao Lin, Liam pun menunduk menatap mata Lin kecil nya lalu kembali menatap Yuma dengan seksama.
"Ada apa ?."
Tanya Liam karena Yuma terdiam dengan sedikit kening mengkerut.
"Hmmm, kemarilah"
Liam mengerti, prediksi nya pasti tidak akan pernah melesat.
Liam pun menarik Yuma ke dalam pelukan nya.
"Sudah, tidak apa ! Tidak ada yang salah juga. Ini baru pertama kali, jadi dia akan tidak langsung percaya walau wajah dan mata Lin kita mirip dengan nya"
"Sudah, tidak apa"
__ADS_1
Liam memeluk dengan satu tangan nya, kepala Yuma bersembunyi di dada kanan milik Liam sedangkan di sebelah kiri Liam ada Xiao Lin yang memegang jari jemari nya.
Dari belakang Yuma, Daniel juga Shen saling tatap. Objek di depan membuat mereka berdegup kencang, Yuma tengah di peluk oleh seorang pria matang dan Xiao Lin nampak akrab dengan pria itu.
Sedangkan dari arah lain, dua keluarga pun melihat itu. Melihat Yuma tengah di peluk oleh seorang pria matang.
Terlihat sangat romantis dan harmonis, perlakuan pria itu pun sangat terbilang lembut.
Gary menatap selidik sesekali menyipitkan mata nya.
Saat Liam berbalik dan membawa Xiao Lin ke dalam pangkuan nya barulah Gary menyadari jika pria itu adalah teman baik nya. Liam, ya dia adalah Liam.
"Liam"
Panggil Gary. Liam tersadar dan menatap lurus, sedangkan Yuma menghentikan langkahnya yang baru beberapa itu.
"Yuma"
Panggilan mama Ella juga mama Shuwan reflek membuat Yuma membalikkan badan nya, untuk menyeka buliran bening yang terus meminta ke luar.
Liam pun ikut melirik Yuma.
"Liam kau ?."
Gary berlari mendekat. " Hai Gar, lama tidak jumpa!" Ujar Liam. Reaksi nya seperti biasa, petakilan dan bodoh.
Mereka pun saling berpelukan dan salam sahabat dengan mengadu kepalan tangan.
"Yuma?."
Mama Ella dan juga Mama Shuwan sudah berada dalam jarak yang sudah sangat dekat dengan Yuma.
Yuma kembali menoleh, memberi senyum rindu pada mereka.
"Ma" Ucap Yuma berhamburan memeluk mama nya.
"Hiks—hiks—hiks—hiks kau kemana saja nak ?! Mama sangat merindukan mu, hiks—hiks putri mama"
Mama Shuwan menangis dalam pelukan, mengusap punggung Yuma lembut. Jari jemari pun sedikit bergetar karena kaget bahagia menyelimuti jiwa dan raga nya sekarang.
"Yuma juga merindukan mama, maaf kan Yuma ya. Ma!"
"Yuma"
"Ma, apa kabar mu ?" Isak Yuma walau tertahan, tapi tetap saja terdengar haru.
"Baik, mama dan semua nya baik-baik saja"
Mereka melepas pelukan, Mama Ella juga Mama Shuwan kembali memeluk Yuma bersamaan.
...**...
Di sini lah mereka sekarang, di rumah orang tua Yuma. Semua nya duduk memenuhi sofa.
"Yak" Gary menyentak, suara nya dalam dan penuh dengan selidik.
Atensi mereka semua menatap Liam apalagi Erina yang notabenenya sangat-sangat mengenal siapa Liam.
"Apa ? Kenapa kalian jadi menatap aku seperti itu ?"
"Yuma lihatlah mereka" Rengek Liam semakin mepet duduk nya pada Yuma.
Daniel menumpu kaki nya dan langsung berdiri.
Pluk...
Dia duduk di antara Yuma dan juga Liam dan sikap Daniel mendadak membuat mereka terbengong.
"Kak, aku yang meminta Liam waktu itu ! Sudah jangan menatap nya seperti itu, kasihan dia!" Seru Yuma kembali bergeser, menjauhi Danial yang semakin tak terbaca.
"Tap—"
"Sudah lah kak ! Hal ini tidak perlu di perdebatkan lagi, aku lelah sekarang, aku ingin istirahat"
"Liam ayo pulang".
Yuma benar-benar lelah di tambah emosi nya tidak stabil walau berusaha dia sembunyikan. Jantung nya sedang tidak baik-baik saja kala kembali melihat wajah Daniel yang semakin mempesona.
__ADS_1
Atensi semua orang menatap Yuma tidak percaya, wajah Yuma mereka sangat tegas dan berwibawa di bandingkan sebelum nya.
Liam menatap Yuma, juga menatap Daniel bergantian. "Maaf—"
Ucap Liam menatap lekat Daniel. Daniel pun menoleh begitupun dengan Yuma juga semua keluarga.
Mimik wajah Liam seperti banyak pertanyaan dan juga sorot mata nya meminta kepastian.
"Saya akan membawa Xiao Lin sebelum anda yakin jika dia adalah putra anda ! Saya tidak mau dia bersama dengan seorang ayah yang bahkan belum bisa menerima kehadiran nya, yang bahkan masih keliru"
"Pakai ini untuk melakukan tes DNA jika anda memang masih keliru"
Liam meletakan beberapa helai rambut di dalam plastik kecil di atas meja.
Pasti saja mereka menatap tanya satu sama lain. Yuma memalingkan pandangan nya.
"Saya Paman nya, saya juga ayah nya ! Saya juga suami, saya juga saudara Yuma. Selama ini banyak peran yang saya lakukan untuk mereka bahkan lebih dari Gary, saya menjaga nya dengan sangat baik"
"Selaku status itu saya tidak akan dengan mudah melepaskan mereka ! Saya hanya ingin pembuktian,"
"Bukan karena saya egois, tapi saya tahu bagaimana kehidupan Yuma selama ini"
Tutur Liam, dia dewasa dalam menyikapi setiap masalah yang ada dari saat Yuma menjadi bagian dari hidup nya, samapi Gary dan Xian terbungkam akan ucapan Liam.
"Lagi pula aku bukan siapa-siapa lagi di sini, Liam ! Jadi kau tidak perlu sedetail itu mencemaskan ku"
"Ayo!"
"Ma, Pa, ayo pulang. Bukan kah Wusan kalian tinggal sendiri di rumah ?."
Yuma memberi salam dengan menundukkan kepala nya pada Papa Chen juga mama Ella sebelum dia melenggang pergi.
Tidak ada yang bergerak, keluarga Chen semua nya terdiam. Mereka benar-benar terdiam dengan sikap Yuma yang semakin tegas.
"Xiao Lin ayo pulang, mama mu sudah ke luar"
Liam sedikit berteriak, karena Xiao Lin tengah bermain bersama putri dari Gary dan Erina.
"Paman, aku di beri ini sama kakak. Lihatlah!."
Sebuah gantungan dia perlihatkan pada Liam.
"Sudah bilang terimakasih ?." Ucap Liam.
"Sudah" Sahut Xiao Lin mengedarkan tatap nya.
"Mana mama ?." Tanya nya.
"Sudah ke luar. Malam ini kita pulang ke rumah nenek mu dulu, setelah itu besok akan paman ajak jalan-jalan. Bagaimana ?." Ucap Liam.
Xiao Lin menatap Daniel sendu. "Baiklah !" Rengut nya.
"Biarkan dia di sini saja, saya akan menjaga nya ! Bukan kah dia putra saya ?." Tahan Daniel saat Liam hendak membawa Xiao Lin ke pangkuan.
"Papa" Senang Xiao Lin.
"Lin-Lin, no!" Tukas Liam.
"Aaaa Paman ! Ya sudah ayo," Cebik Xiao Lin memberi salam dahulu pada mereka dengan sopan.
"Papa, Lin-Lin bujuk Mama dulu ya ! Nanti kalau mama sudah baikan, Lin-Lin kembali lagi ke sini"
"Oh iya, nenek sama kakek jaga kesehatan ! Mama bilang kita tidak tahu menit berikut nya kita akan seperti apa. Jadi dengarkan apa yang Lin-Lin katakan ya!."
Sikap ceria Xiao Lin dan sifat yang menggemaskan membuat suasana tegang menjadi menyenangkan.
"Ulululu tampan nya nenek ! Sini nenek peluk dulu" Senang Mama Ella.
Mama Shuwan juga Papa Wei pun ikut senang saat ini karena sepertinya sikap Xiao Lin tidak keras.
"Pak Liam, sepertinya kita harus bicara" Timpal Erina akhirnya bersuara yang sedari tadi terus menatap Liam dengan penuh kekesalan.
Liam menoleh. "Boleh, tapi tidak sekarang" Ujar nya.
Sampai Erina mengerutkan alis nya dengan jawaban Liam yang sangat-sangat aneh untuk nya.
"Ayo, kasihan Yuma menunggu lama di luar" Ucap Papa Wei beranjak berdiri dan pamit saat itu juga.
__ADS_1
Semua nya pun ikut berdiri dan mengantar keluarga Yuma ke depan.