Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 42


__ADS_3

Mama Ella dan papa Chen memperlambat suapan kue itu seraya menunggu Shen menjelaskan apa yang dia katakan tentang keanehan dari Daniel, karena kedua orang tua itu sekalipun tak merasa ada yang aneh terlebih sikap Daniel memang seperti itu, untuk itu sangat susah untuk mencari perbedaan di setiap sikap nya.


" Dia sedikit aneh setelah pulang dari Singapura ! Tapi saat aku menghubungi Erina dia baik-baik saja tidak ada yang aneh, tapi sikap Daniel itu menjadi pertanyaan setelah dia kembali beberapa hari lalu, entah apa yang terjadi !!." Tutur Shen sesekali menghentikan kunyahan nya.


" Mama sih tidak merasa dia berubah, dia dingin seperti biasa nya. Iya kan pa ?!." Ujar mama Ella.


" Eum." Angguk papa Chen.


" Sshh kalian ini !." Seketika Shen menghembuskan nafas nya malas dengan sepasang suami istri di depan nya itu.


" Kenapa ? Bukankah kau juga ya yang menyuruh Daniel pergi ke Singapura ?." Mama Chen mulai aneh.


" Iya ma itu benar, karena saat aku menghubungi Erina tidak biasanya dia sengaja menolak panggilan dari ku ! ." Ketus nya sembari memotong kue itu dengan sendok nya.


" Coba kau tanyakan langsung Shen." Timpal papa Chen.


" ngga mau, apaan ! Nanti yang ada wajah mulus ku ini kena sasaran nya lagi !." Tolak Shen dengan bergidik ngeri.


" Ish ya sudah diam saja, mungkin dia ada masalah lain yang tidak bisa untuk di bicarakan dengan kita ! Biar saja nanti juga sembuh sendiri." Ucap mama Ella dengan senyum mengembang di kedua sudut bibir nya.


...**...


Yuma, dia sibuk membersihkan diri setelah lelah nya bekerja di toko kue. Badan nya sangat lengket untuk itu dia memilih langsung pergi ke kamar nya.


tok..


tok..


tok..


" Yuma makan dulu yuk, mama sudah masak dan papa sudah menunggu di bawah." Suara mama Shuwan pun kembali terdengar seolah menjadi alarm yang terpasang untuk Yuma.


" Iya ma sebentar !." Teriak Yuma buru-buru meraih bando untuk menahan rambut nya agar tak berhamburan begitu saja.


Klek..


" Ayo ma." Yuma menggandeng tangan mama nya dan tentu saja Shuwan bahagia dan tersenyum tulus untuk putri nya yang selama ini dia abaikan itu.


" Kalian ?." Tunjuk Yuma yang sepertinya hidup nya akan asa bayang-bayang dari kedua kakak sepupunya, buktinya untuk malam ini pun mereka ada di meja makan berkumpul dengan ayah dan juga Wusan-adik nya.


" Hai." Gary dan juga Xian malah melambaikan tangan sembari mengguncang nya ke samping berulang.

__ADS_1


Yuma menarik kursi itu dengan sedikit bingung karena keberadaan mereka yang semakin tak masuk akal. " Kalian makan malam di sini lagi ? Tidak di rumah bersama orang tua kalian ? Ini sudah malam yang ke berapa kalian terus makan malam di sini !." Seru Yuma sembari menyendok nasi dan lauk pauk yang ada di atas meja.


Karena bagaimana pun Yuma sebenarnya masih canggung jika mereka berada di dekat nya, bukan hanya pada mereka namun juga pada kedua orang tua nya sendiri.


" Tidak apa kan bi jika aku makan di sini ? Sepertinya putri mu ini sangat terganggu dengan keberadaan ku di sini ?." Tukas Gary. Yuma jadi tak enak dengan prasangka kakak ipar nya itu.


" Iya bi, aku setuju dengan Gary." Timpal Xian. Ekspresi Yuma sudah jelek dengan ucapan kedua kakak sepupunya yang menurut nya sangat berlebihan.


...**...


" Kak Yuma ada yang mencari." Teriak Luna dari luar toko, Anran yang tengah mengelap meja pun sampai terkaget.


" Ada apa Lun ?." Yuma ke luar dengan celemek masih terpasang di tubuh nya.


" Kak itu ada kakak tampan yang mencari mu !." Lanjut Luna begitu antusias, Anran pun mendekat ke jendela saat Yuma menuju pintu ke luar.


Kepala Yuma miring sedikit menebak pria yang tengah berdiri membelakangi nya. " Tuan." Sapa Yuma.


" Yuma." Daniel pun menanggalkan kacamata hitam nya, padahal terik matahari tak terlalu membakar kulit nya. Tentu saja dia Daniel yang sudah datang pagi-pagi sebelum pergi ke kantor nya.


" Daniel ? Kau sedang apa pagi-pagi di sini ?." Selidik Yuma mengedarkan pandangan nya serta senyum aneh mengiringi.


Kelopak mata Yuma membulat penuh dengan sikap Daniel. " Ssh apa yang kau lakukan ?!." Seru Yuma, pukulan kecil mendarat pada lengan Daniel.


" Hahaha itu kenyataan nya ! Tidak boleh ya sudah, lagi pula sekarang aku sudah melihat wajah mu ini." Goda Daniel kembali, dia menepuk berulang pucuk kepala Yuma.


Yuma hanya hanya melirik aneh pada Daniel namun sudut bibir nya tersenyum merona. " Sudah sarapan ?." Kemudian bertanya dan meraih telapak tangan Daniel yang masih tersimpan di atas pucuk kepala nya.


" Belum." Seru nya dengan ekspresi berharap. Seperti bukan Daniel yang di lihat, pria itu mendadak menjadi pria yang lembut jika dihadapkan dengan Yuma. Entah motif dan tujuan apa yang tengah di rencanakan atau entah sikap itu memang tulus untuk Yuma.


" Ayo masuklah dulu, aku akan memasak untuk mu ." Ucap Yuma sembari merangkul lengan Daniel. Senyum Daniel mengembang namun sedetik kemudian tidak lagi yang tersisa hanya tatapan tajam dari Daniel dan itu pun sama sekali tidak Yuma sadari.


Luna dan juga Anran, begitu semangat membereskan semua meja dan kursi di dalam, keberadaan Daniel menambah stamina mereka mendadak meningkat.


" Tampan, ya kan ?!." Bisik Luna pada Anran yang tengah membersihkan kaca di pojokan.


" Ssstt jangan keras-keras, bodoh !." Kain tipis itu hampir saja menampar wajah Luna.


" Tapi dia tampan, aduh mata ku !."


" Ya aku juga tahu tapi jangan gini juga kali, ah!" Walaupun bicara nya terdengar sinis namun dia pun tertawa di buat nya sesekali ekor matanya melirik pada Daniel.

__ADS_1


Yuma pun membawa dua piring berisi roti dan juga buah-buahan, di atas nampan itu pun ada jus yang biasa nya di minum oleh Daniel.


" Kau tidak sarapan ?."


" Aku sudah di rumah tadi ! Kau habiskan dan setelah itu berangkatlah bekerja." Yuma membiarkan Daniel menikmati sarapan nya dan hanya menatap sambil memangku dagu nya.


" Jangan menatap ku seperti itu, nanti kau suka." Daniel tiba-tiba menghentikan suapan nya dan menatap lurus manik mata Yuma.


" Uuh ? Ekhemm ! Siapa yang menatap ? Aku hanya mengawasi saja, siapa tahu kau tidak menghabiskan makan mu ?." Seperti maling yang tertangkap basah, Yuma memalingkan wajah nya seraya menetralkan kegugupan nya.


" Jika kau suka juga tidak apa, aku senang." Goda Daniel kembali.


" Senang ? Oh astaga." Tukas Yuma dengan segala kegugupan dan keanehan akan kedatangan Daniel.


" Sudah selesai kan ? Ayo siap-siap." Yuma pun beranjak berdiri sampai kursi yang dia duduki pun ikut terdorong.


" Kau mengusirku ?." Tukas Daniel seakan enggan untuk berdiri.


" Tidak, siapa yang mengusir mu, tuan Daniel ? Lihatlah ini hampir siang dan kau masih berada di sini ? Apa tidak ada meeting atau pertemuan dengan klien hari ini ? Aku rasa sangat tidak mungkin jika presdir seperti mu ada waktu senggang! " Yuma terus nyerocos tanpa henti, bukan nya apa tapi dia ada rasa tak nyaman jika Daniel terus terus tinggal di toko nya dan mengabaikan pekerjaan nya.


" Cerewet ! Iya ini aku berangkat."


" Apa ? Kau senang aku pergi ?." Sindir Daniel namun dengan mimik wajah nakal nya karena senyum Yuma terlukis begitu lebar.


"Ayo kerja jangan malas-malasan." Yuma mendorong punggung Daniel sekuat tenaga namun dengan tengil nya Daniel menahan dan malah berbalik kembali saat kaki nya sampai di depan pintu toko.


" Nanti sore aku jemput, kita dinner bersama lagi !." Daniel memeluk lembut dengan hembusan nafas tulus tersirat dari saja.


" Daniel." Yuma terlihat malu-malu karena beberapa pengunjung yang sudah menepi di pelataran toko saling menyaksikan.


" Aku pergi." Dengan gerakan mundur, Daniel menebar kembali senyum nya dan Yuma melambai agar Daniel cepat pergi dari hadapan nya.


" Ciee kak Yuma." Goda Luna dan juga Anran yang tiba-tiba muncul dari balik pintu mengagetkan gadis yang masih memperhatikan kokoh nya punggung Daniel.


Yuma nampak merona, namun dia masih bisa mengendalikan emosi nya. " Sudah sudah cepat layani pelanggan, kakak akan ke belakang dulu." Ucap Yuma.


" Siap bos." Seru mereka begitu antusias dan gerakan hormat pun menyertai.


Sedangkan Daniel yang masih belum melajukan mobil nya masih lekat memperhatikan toko Yuma, kepalan tangan pun perlahan menguat dan rahang pun menegas begitu saja.


" Kau harus merasakan apa yang Erina rasakan terlebih kakak sepupu mu itu, Yuma !!." Tegas Daniel masih melirik tajam ke arah toko. Sejenak diam dan selepas meredakan emosi nya, Daniel pun melajukan mobil berlalu pergi dari area toko.

__ADS_1


__ADS_2