
...***...
Di dalam kamar, Daniel hanya diam membuat Yuma serba salah karena tidak biasa nya Daniel diam seperti itu.
Yuma terus menepis segala pikiran buruk dan terus melempar senyum seperti biasa. "Tidak bersuara apalagi bicara, apa selelah itu sayang ?." Yuma beringsut berjalan dengan lutut nya di atas kasur, mendekati Daniel yang tengah duduk entah memikirkan apa saat ini.
Daniel melirik dengan sudut mata nya, ekspresi nya sudah tak dapat lagi di gambarkan. Jari jemari nya meremas ujung kasur.
"Kau ini kenapa ? Apa aku ada salah ?,"
"Daniel jangan diamkan aku seperti ini ! Kau membuat ku bingung dengan sikap diam mu ini. Katakan jika aku ada salah."
Yuma menghujani Daniel dengan banyak pertanyaan, tatapan mata nya tidak lagi biasa.
"Kau seperti bukan Daniel yang aku kenal !,"
"Kau ini kenapa, hah ?."
Suara Yuma tidak tinggi dan menyentak, namun sebalik nya, nada suara itu begitu rendah dan berat seperti menggeram kesal.
Sudut bibir nya tersenyum getir dan tatapan mata nya seakan meminta jawaban dari Daniel. Yuma yang telah berad di depan Daniel hendak meraih tangan nya namun Daniel tiba-tiba berdiri dan menepis kasar tangan Yuma.
Brukk...
Yuma terhempas, dia terjatuh dengan suara lumayan keras terdengar. Yuma mencoba menggapai pandangan Daniel dengan menengadahkan dagu nya.
Mata Yuma menajam kala menangkap kemarahan dari ekspresi wajah Daniel. "Kenapa ? Apa salah ku ?." Air mata Yuma menetes, namun tak membuat nya terisak.
"Diam jangan bicara lagi, aku muak mendengar suara mu." Bentak Daniel seraya menunjuk kasar pada wajah Yuma.
"Dengar, kau hanya perlu melakukan tugas mu sebagai istri. Tidak di izinkan untuk melakukan hal lain termasuk bertanya dan berbicara." Tekanan yang di berikan oleh Daniel begitu besar, membuat Yuma kaget bukan main.
Sekujur tubuh nya bergetar hebat akan perlakuan kasar dari Daniel. Perlakuan yang awal nya begitu lembut berubah menjadi sangat kasar.
"Kenapa heum ? Jelaskan pada ku, Daniel !,"
"Katakan apa yang salah ? Kenapa sekarang kau begitu berani membentak ku ?."
Wajar jika Yuma bertanya, dia sangat-sangat merasa aneh dengan perubahan itu. Otak nya pun tak sampai untuk berpikir dan mengingat sesuatu.
Greppp..
Daniel mencengkram kedua pipi Yuma dengan kasar seperti hendak mencekik nya.
"Tidak berhak bertanya apapun ! Kau hanya perlu melakukan tugas mu sebagai sorang istri, salah satu nya memuaskan aku."
__ADS_1
Dengan tidak bermoral nya, mendorong Yuma sehingga terjatuh di atas kasur sesekali tubuh nya memental akibat keras nya dorongan dari Daniel.
"Kau harus merasakan bagaimana rasanya di perlakukan seperti hewan liar. Yuma !"
Daniel terus membenamkan kecupan di setiap inchi kulit Yuma. Tangan nya mengunci pergerakan Yuma yang terus meronta.
"Daniel lepas, jangan seperti ini hikss... hikss!." Yuma terus meraung. Air mata nya berhamburan melewati pipi yang mulai memanas.
Daniel seperti hewan ganas saat ini, gairah nya terlalu tinggi di campur dengan kemarahan yang sangat besar terhadap Yuma dan juga kakak sepupu dari istri nya itu.
"Daniel" Jerit Yuma terus meronta. Kaki jenjang nya terus berusaha untuk menendang perut Daniel, namun tenaga pria itu sangat besar.
Kungkungan Daniel semakin membuat Yuma tak dapat berkutik. Daniel dengan kasar nya terus menerus menjamah tubuh Yuma yang kini tak terbalut sehelai benang pun.
"Daniel heukss... heuks.. aku mohon hentikan." Mata Yuma semakin merah, air mata nya pun mulai panas. Sisa tenaga nya mulai lenyap membuat nya tak dapat meronta lagi.
Daniel mendekatkan wajah nya pada wajah Yuma. Keringat Daniel mulai menetes menandakan dirinya semakin gerah.
Tak ada ampun sekalipun untuk Yuma. Daniel tidak berpikir lagi akibat yang dia lakukan terhadap Yuma.
Yuma memalingkan tatapan nya dan bersamaan dengan itu air mata nya kembali tumpah. Nafas tak normal yang keluar dari hidung juga mulut Daniel sangat terasa panas pada kulitnya saat ini.
Hanya bisa menangis sembari cengkaraman jari jemari tangan nya hampir merobek seprai atas perlakuan Daniel yang begitu kasar.
Yuma tak mengeluarkan suara sedikit pun, dia mengigit bibir nya dan menahan sakit yang luar biasa. Air mata nya terus mengalir tanpa henti berpikir untuk terus berpikir positif terhadap suami nya.
...**...
Daniel terlelap tidur setelah lelah nya menyiksa Yuma dengan tidur tengkurap seperti kebiasaan nya.
Yuma, wanita itu beranjak turun dari kasur dan berjalan menuju kamar mandi.
Percikan air mulai terdengar, semakin lama semakin air itu terdengar bukan percikan lagi namun sudah seperti guyuran hujan.
Yuma, ternyata dia berdiri di bawah shower dengan berlinang air mata. Wajah nya memucat namun mata nya masih merah.
"Hiks... hiks.. hikss apa salah ku sebenarnya ?," Batin nya terus berkecamuk.
"Daniel, kau harus menjelaskan sikap mu ini !." Lanjut nya sembari menahan kedua telapak tangan nya pada lutut sehingga air itu terus berjatuhan membasahi semua nya saat ini.
Yuma masih bisa tenang dengan setiap perubahan sikap Daniel dari kemarin. Lidah Yuma tidak lebih cepat dari otak nya, untuk itu Yuma memilih mengamati dahulu sebelum berargumen.
Dengan langkah pelan, Yuma berjalan menuju koper nya hendak mengambil pakaian ganti. Setelah beberapa menit waktu terpakai, Yuma pun memilih meninggalkan Daniel dengan langkah normal walau kenyataan nya kaki nya lemas dan juga masih merasa perih, namun Yuma mengabaikan nya dan bertingkah seakan dunia nya baik-baik saja.
"Ma" Yuma akhir nya menemukan mama Ella di dapur.
__ADS_1
"Yuma ? Kemarilah, temani mama memasak untuk makan malam." Seru Mama Ella dan Yuma pun tentu menghampiri.
"Daniel mana ?." Tanya Mama Ella mengedarkan tatapan nya karena tak mendapati Daniel di sana.
"Daniel sedang tidur, ma ! Biarkan saja, dia sepertinya sedang malas bekerja."
"Malas kerja ?," Mama Ella tentu saja sudah melirik Yuma dengan tajam namun kedua sudut bibir berseri.
"Masa sih Yum ? Setahu mama Daniel bukan anak pemalas , apalagi tiduran di jam segini." Tatapan Mama Ella mulai nakal, Yuma tersipu malu dengan sindiran mama Ella.
"Jangan menatap ku seperti itu, ma !." Yuma menutupi wajah nya dengan penuh membuat mama Ella tertawa puas.
"Pengantin baru, mama mengerti kok !." Ucap mama Ella kembali.
"Mama" Rengek Yuma mencebik kesal.
"Hahaha iya iya maaf." Ujar Mama Ella masih dengan tawa nya yang candu.
Mereka pun serius berkutat dengan alat dapur sesekali terselip canda di antara mereka.
Mama Ella melirik Yuma berkali-kali, "Jika ada masalah, mama siap menjadi teman bicara."
Mungkin perkataan Mama Ella sangat tiba-tiba membuat Yuma reflek menyahuti dengan nada lugas nya.
"Uuh ?Mana ada seperti itu, ma!" Seru Yuma.
" Ya kali aja kan menantu mama ini ingin curhat ? Hehehe."
"Mama sedang bermaksud menanyakan sikap Daniel pada ku kah sekarang ?." Yuma cepat tanggap.
"Salah satu nya itu." Cengir Mama Ella.
Yuma mengembuskan nafas nya dan mengehentikan sejenak mengiris bawang bombai di tangan nya.
"Kami baik-baik saja, ma! Tidak ada yang berubah, Daniel selalu memperlihatkan cinta nya pada ku melalui bentuk yang lain dan itu salah satu yang membedakan dia dengan pria lain."
Tutur Yuma, Daniel adalah nilai plus dan tak tersentuh.
"Mama lega mendengar nya." Mama Ella bernafas lega. Yuma lagi dan lagi hanya tersenyum seakan senyum itu adalah topeng kuat untuk nya menyembunyikan kegundahan hati nya.
"Oh iya ma, kenapa Erina tidak pulang ? Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan nya."
"Sebentar lagi, dia harus menyelesaikan pendidikan nya dengan matang dan teliti."
" Dia pasti sangat cantik, lebih cantik dari pada dalam potret berbingkai itu."
__ADS_1
"Tentu saja, dia sangat cantik seperti mama ! Ayo ke sini lihatlah mama dengan mata mu."
Mama Ella malah merentangkan tangan nya agar Yuma menilai nya.