Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 110


__ADS_3

...**...


Tingnong..


tingnong..


Bel apartemen Yuma berbunyi, baru saja dia hendak memejamkan mata nya sesaat setelah berbincang dengan pegawai toko.


Wanita itu kembali beranjak turun dari ranjang. "Siapa ?." Gumam Yuma, dia merasa tidak ada tamu hari ini, Liam pun tidak mungkin karema dia tadi mendadak ada pekerjaan di luar kota.


"Siap—pa?."


Pintu baru di buka, Yuma bertanya menangkap keberadaan wanita paru baya namun masih cantik berkarisma, kira-kira usia nya masih 40thnan.


"Maaf dengan siapa ?"


Senyum merekah dengan bibi merah mawar melebarkan senyum nya, masih menatap Yuma yang sedari tadi bertanya.


"Perkenalkan saya Ibu dari Liam" Ucap Nyonya Lee.


Ya benar, wanita itu nyonya Lee. Rambut panjang lurus, dandanan fresh dan juga lensa mata berwarna abu muda tertempel di bola mata nya. Benar-benar tidak terlihat seperti ibu-ibu.


"Uuh ?" Sahut Yuma malah kaget dan tidak percaya sampai dia menatap lekat wajah Nyonya Lee.


"Dengan Yuma, adik nya Gary kan ?!." Ucap Nyonya Lee kembali.


"Iya bibi, ayo masuk masuk!."


Yuma mempersilahkan masuk dan memandu Nyonya Lee untuk duduk di ruang dalam.


"Silahkan duduk dulu, saya permisi ke dapur !." Seru Yuma beranjak ke dapur hendak membawa minum untuk Nyonya Lee.


Nyonya Lee sedari tadi tak melepas pandangan nya dari Yuma, senyum di bibir nya bahkan tak larut, terus mengembang begitupun dengan seri di wajah nya, mata pun memperlihatkan jika dia menyukai adik dari Gary itu.


Bahkan ini baru kesan pertama untuk nya, melihat Yuma membuat dirinya tertarik.


"Bibi maaf, aku hanya punya air saja malam ini"


Yuma meletakan segelas air tanpa membawa apa-apa lagi. Dia tidak enak hati.


"Tidak perlu repot, nak! Ini sudah cukup"


"Duduk lah, kasihan bayi mu kalau terlalu banyak bergerak. Kau juga nampak lelah hari ini, sudah sini temani bibi saja!" Tutur Nyonya Lee melembutkan suara nya.


"Bibi tahu ?"


Selidik Yuma, bagaimana bisa si Liam itu. Dia benar-benar memberi tahu ibu nya dan apa benar apa yang dia katakan di rumah sakit tadi ? Aishh menyebalkan. Batin Yuma sepertinya terus menggerutu.

__ADS_1


"Tahu dong, anak nakal itu memberitahu bibi !" Celetuk nya dengan senang seraya meraih tangan Yuma. Yuma menatap tak enak pada tangan yang di pegang dan sesekali melirik wajah Nyonya Lee.


"Di usia kandungan masih muda harus ada yang memperhatikan ! Nah, kan Liam lagi sibuk kerja, jadi bibi yang akan menggantikan anak tengil itu hehehe"


"Boleh kan ?" Pinta nya dengan antusias.


"Uuh ?." Otak Yuma masih belum sampai.


"Gary sudah bibi anggap sebagai putra bibi, itu berarti kamu juga sama ! Kamu adik Gary itu berarti putri bibi juga, jadi jangan sungkan ya. Bibi akan sangat senang jika Yuma meminta bantuan pada bibi"


"Uuh ? Bibi aku jadi tidak enak. Liam terlalu lemes kalau bicara ! Aku tidak tahu apa saja yang dia bicarakan sampai bibi malam-malam rela datang ke sini menemui ku"


"Tidak tidak, dia tidak ada bicara apa-apa ! Bibi inisiatif sendiri datang ke sini" Jawab nyonya Lee cepat.


"Kita hanya berbincang saja sebelum dia berangkat ke luar kota dan bibi juga tahu Gary menikah ! Tch tch anak durhaka dia, mana bisa tidak memberi tahu ibunya kalau dia menikah ? Ssshh yang satu nakal yang satu dingin, astaga Yuma, bibi harus apa pada mereka ?,"


"Tapi sudahlah, yang penting sekarang bibi ada Yuma dan bayi di kandungan"


"Nak, kamu baik-baik di sana, jangan membuat ibu mu kerepotan ya ! Tumbuh jadi anak pintar dan penurut, jangan seperti kedua paman mu ya"


Reflek, Nyonya Lee mengelus perut Yuma dengan lembut dan berbicara layaknya seorang nenek.


Yuma tersenyum, dia terharu akan orang asing yang tiba-tiba muncul dan memberi kasih sayang pada nya, dia tidak merasa ada niatan jahat dari wanita di hadapan nya. Lagi pula dia adalah ibu dari Liam, bahkan Gary pun sudah di anggap sebagai putra nya untuk itu pasti wanita di hadapan nya ini adalah orang baik, hanya saja sedikit cerewet.


...***...


Lima tahun kemudian.


Sosok tegap, tampan dan karismatik itu ke luar dari mobil. Para wartawan sudah menunggu kedatangan presdir Chen Group setelah kabar jika Presdir itu tengah berhubungan dengan artis papan atas sekaligus penyanyi.


"Shen tahan mereka" Ucap Daniel. Shen pun langsung menahan para wartawan di bantu oleh satpam perusahaan.


Banyak sekali pertanyaan yang menurut Daniel tidak bermutu, mereka terus melempar pertanyaan untuk nya.


"Apa anda akan bertanggung jawab atas anak yang di kandung Yuwen ?."


Pertanyaan itu seketika menghentikan langkah Daniel. Semua wartawan langsung terdiam menunggu jawaban dari Daniel yang telah membalikkan badan nya saat ini.


Shen berusaha menggapai Daniel untuk berdiri di samping nya.


"Baik baik, untuk meredakan tenggorokan kalian, kami akan mengadakan konferensi pers ! Pertanyaan akan kami jawab di sana ! Konferensi pers ini bersifat terbuka, siapapun boleh datang"


Shen mendahului jawaban Daniel dengan memberi isyarat agar Daniel masuk ke dalam.


"Kapan tepat nya ?." Pertanyaan kembali.


"Nanti akan di sampaikan"

__ADS_1


Shen dengan cepat masuk, dia tidak ingin meladeni mulut-mulut wartawan yang tak pernah kering itu.


Penjagaan di perketat dan satu persatu wartawan pun pergi, meninggalkan area perusahaan.


Daniel, dia duduk dengan nafas kesal sampai melonggarkan dasi nya.


"Huffhh"


Hembusan nya terdengar berat.


"Shen, kau sudah melakukan tes DNA pada anak itu ? Mereka tidak akan kenyang jika hanya mendengar dari ocehan saja dan juga wanita itu benar-benar licik!"


Sunggingan nyata dari sudut bibir Daniel terbit.


"Besok akan selesai kita tunggu saja kabar dari paman Arya"


"Baik lah ! Jangan sampai bocor, aku ingin wanita ular itu tahu sedang bermain dengan siapa dia saat ini !."


"Tentu"


Shen tak lama, dia pergi keruangan nya sedangkan Daniel tengah menatap bingkai photo yang terisi potret wanita cantik, wanita yang sangat dia cintai hingga saat ini.


Senyuman lebar itu lah yang selalu menguatkan hari demi hari kehidupan nya.


Daniel, dia tidak dapat berpaling pada wanita lain apapun kondisi nya.


"Lihatlah sayang, bahkan aku masih malu saat kau melempar senyum lebar seperti ini pada ku setiap hari ! Tolong jangan marah, aku sama sekali tidak pernah ingin mencari wanita lain. Aku bahagia hanya dengan menatap wajah mu seperti ini"


Daniel terus berucap, dia seperti orang gila yang terus mendamba seorang wanita yang telah pergi jauh. Pergi karena kesalahan nya, namun alam pun masih berpihak , sampai hanya secarik potret saja membuat nya bahagia.


"Kau di mana, Yuma ? Aku merindukan mu" Belai nya pada potret Yuma dengan senyum tulus namun tercampur getir. Daniel pun membenarkan kembali bingkai itu lalu siap sibuk dengan pekerjaan nya.


Di lain tempat, seorang wanita tengah di rias wajah nya dengan pelan sambil menyaksikan berita di tv. Senyumnya manis namun juga tajam.


"Sepertinya sebentar lagi kau akan menjadi menantu dari tuan Chen, Yu-wen ! Awas ah jangan lupa traktiran nya hahaha"


Goda perias itu di sela merias nya. Yuwen tersenyum tengil.


"Tidak semudah itu ! Merebut hati presdir satu ini masih membutuhkan tenaga, rencana licik pun sepertinya masih kebal untuk nya,"


"Senjata salah satu nya harus lebih kentara, !"


"Tch tch tch pria tampan ini harus menjadi milik ku, hanya milik ku !"


Ucap nya begitu licik, Yuwen sangat-sangat terobsesi dengan Daniel sehingga dia bisa menyingkirkan siapapun yang mencoba mendekati pria idaman nya.


"Lihat saja, dia itu pura-pura tidak memperhatikan mu ! Coba saja kau goda terus, pasti dia akan lengket pada mu ! Pria mana yang tidak tahan godaan, eum?"

__ADS_1


Asisten sekaligus perias Yuwen mendukung apapun yang di rencanakan dan diinginkan oleh bos nya sampai dia bisa melakukan lebih dari perintah bos nya yang penting reputasi tidak anjlok.


Pilihan Yuwen mendekati Daniel pun di nilai sudah tepat. Burung elang itu harus di dapatkan sebelum ada yang menangkap nya sebagai mangsa, tapi mereka tidak tahu jika elang yang mereka hendak mangsa sudah memiliki tuan yang menjinakkan nya, hanya saja tak terlihat.


__ADS_2