
Xena duduk berpangku tangan di meja nya, dia sesekali melirik ruangan Daniel karena di sana masih ada Yuma.
"Sial wanita penggoda itu harus segera aku singkirkan." Gumam nya di dalam kekesalan yang sama sekali tidak suka dengan keberadaan Yuma.
Sampai di mana Daniel merangkul sayang pinggang Yuma menuju kantin dan melewati Xena begitu saja, hati wanita mana yang tidak panas kala pria yang sangat dia inginkan merangkul gadis lain dan itu sangat kejam, mereka berjalan melewati serta mengabaikan dirinya.
Di susul oleh Shen yang juga menenteng kotak bekal di tangan nya seraya bersenandung ceria bersama dengan cacing-cacing di perut nya.
"Kau lapar juga ?." Shen begitu sengaja mundur lagi ke belakang dan meledek ekspresi dari Xena.
"Pergi kau." Kejam Xena seraya menodongkan gunting yang ada di atas meja nya.
"Hahaha wangi daging bakar." Dengan cepat, Shen berlalu pergi tanpa lagi menghiraukan Xena.
Menuju kantin kantor masih sangat ramai, ramai mereka yang baru kembali dan baru hendak ke sana. Yuma, dia tidak berani mengedarkan pandang nya karena bagaimana pun pasti saja semua karyawan tahu siapa yang sedang berjalan dengan presdir ini.
Senunduk apapun Yuma dan bersembunyi di belakang Daniel, tetap saja wajah cantik nya akan di kenali oleh staf di sana.
"Kak Yuma." Teriak para staf yang memang mereka sangat mengidolakan Yuma saat itu dan kini masih terlihat setelah dirinya tidak lagi bekerja di sana.
Yuma tersenyum, melengkungkan kedua ujung bibir nya sampai terulas sempurna. "bye bye." Dengan gerakan bibir nya dan juga lambaian tangan nya dia menyapa para staf lalu masuk ke dalam lift.
"Bukankah bisa di kantor Shen kalau mau makan siang ? Di kantin kantor terlalu ramai orang, nanti mereka akan berpikir yang tidak-tidak tentang kita." Keluh Yuma dengan kerucut bibir nya menyertai.
Daniel melirik dan beralih posisi sehingga menghadap pada Yuma. "Lalu ?."
"Lalu ? Astaga Daniel apa kau ini bodoh ?." Cebik Yuma menghentakkan kaki kanan nya di atas lantai lift.
"Mereka pun akan segera tahu jika kau itu istri ku, istri dari presdir mereka. Apa kau malau menjadi istri ku, sayang ?." Danil dengan sengaja memeluk Yuma dari samping.
"Yak lepas." Mata indah Yuma mlotot memperingati agar Daniel segera melepaskan pelukan nya.
"Tidak" Tolak Daniel malah semakin memeluk Yuma.
"Daniel" Mata Yuma kembali memperingati namun Daniel tak mengindahkan peringatan nya sampai di mana lift terbuka tanpa sadar.
Di depan Lift tentu saja ada yang tengah menunggu untuk bergantian masuk.
"Yuma." Suara rendah itu terdengar seakan menelan ludah dan tenggorokan nya sendiri. Suara kaget tercampur heran menyatu jadi satu. Levon, Wufan ada di sana sekarang menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri Yuma yang tengah di peluk oleh Daniel-presdir mereka sendiri.
__ADS_1
"Kak Levon ? Wufan ? Aaaa apa kabar kalian." Yuma tanpa aba ke luar lift sehingga tubuh Daniel sedikit terhempas. "Kalian kemana saja, kenapa tidak lagi mengunjungi ku di toko ?."
"Jangan sekali-sekali menyentuh tangan pria lain selain diri ku. Mengerti Nyonya Chen ?." Daniel menarik baju Yuma dari belakang dan Yuma terseret menjauh dari dua pria teman baik nya itu.
"Kalian datang lah ke rumah, nanti kita makan malam di sana. Ok ! Ajang Laoda dan juga Jingyi." Dengan terpongoh karena seretan Daniel yang tak kunjung melepaskan nya mengharuskan Yuma sedikit berteriak.
"Ada apa dengan nya ?." Ucap Wufan. Levon pun tak bosan nya menatap Daniel dan juga Yuma seakan siapa menghunus merea dengan pedang.
"Ayo" Tarik Wufan agar Levon segera masuk.
...**...
"Mama." Erina menghubungi mama Ella di sela aktifitas nya mengerjakan tugas akhir kuliah.
"Sayang kenapa apa kau baik-baik saja ? Mama akan segera berangkat ke sana, kau tunggu mama ya !." Sahut mama Ella dengan segala kekhawatiran nya terhadap putri sematawayangnya itu.
"Aku baik mah, tidak perlu khawatir seperti itu."
"Putri mama memang hebat !." Puji nya di sela kening yang mengkerut.
"Ma, aku sudah tahu nama dari pria itu. Dia teman dari Liam atasan ku di tempat kerja ! Gary Zhao, dia pengusaha asal China.... "
Jantung Mama Ella berdetak begitu kencang saat nama itu terucap dari bibir Erina. "Ma" Ucap Erina kembali karena tak mendengar suara mama nya dan mengharuskan dia mengecek layar handphone nya, masih tersambung atau sudah terputus.
"Entahlah ! Aku belum ingin fokus ke masalah itu, ma !."
"Jangan memikirkan, itu lebih baik !." Tukas Mama Ella.
"Ma, aku takut." Suara Erina mulai bergetar. "Ma, perasaan ku mulai tidak tenang ! Entah apa yang akan terjadi, aku sangat takut dengan semua praduga dan juga prasangka ku." Erina menyeka air mata nya sesekali ingus nya pun ke luar bersamaan dengan rasa pedih.
"Percayalah, ini akan baik-baik saja selama kau menurut pada mama ! Tenanglah, tenang dan berpikir positif. Ok" Terang nya, mama Ella sangat-sangat memiliki vibes seorang ibu yang benar-benar bijak.
Gary memang harus mempertanggung jawab kan apa yang telah di lakukan, mama Ella dan juga papa Chen tengah merencanakan dengan matang sehingga pada akhir nya Gary mengerti dan memperlakukan sikap nya dengan baik atas apa yang terjadi.
...**...
Malam di kediaman Yuma, ke empat teman nya, teman satu kantor nya dulu yaitu Levon, Wufan, Jingyi dan juga Laoda tengah bertamu ke sana.
Di taman belakang di mana di sana pun berdiri sebuah gazebo yang cukup luas dan juga beberapa kolam kecil melingkar dengan kokoh.
__ADS_1
Makanan dari yang sudah matang dan tengah di masak di kerumuni oleh mereka berlima sesekali terselip canda dan pertengkaran.
Bau panggang daging tercium, beraroma sangat wangi namun asap nya tak sampai ke dalan rumah dan juga halaman yang mengelilingi rumah.
"Percaya atau tidak, tapi dalam waktu dekat ini aku dan pak Daniel akan menikah."
Ukhu..
ukhu..
ukhu..
tidak hanya Jingyi yang terbatuk dan tersedak makanan namun Levon, Wufan juga Laoda pun sama hal nya. Tentu saja mereka kaget bukan main. Berita ini benar-benar membuat mereka sontak melepas nyawa nya saat itu juga.
"A... apa a.. ku sep... pertinya salah dengar ?." Lao Da begitu terbata-bata masih memegang segelas air di udara.
"Kau tidak salah dengar, aku mengatakan yang sebenarnya saat ini." Sambar Yuma meraih gelas yang di pegang Laoda lalu di taruh nya di meja.
"Apa ?." Suara cempreng Jingyi mendebarkan jantung burung hantu yang tengah bertengger di pohon.
"Kenapa kalian kaget ? hahaha biasa saja kali jangan sampai tegang seperti itu." Seru Yuma.
"Sedikit aneh." Ucap Levon, si dingin nya departemen produksi properti itu.
"Dari yang aku tahu selama ini kau bukan gadis yang pandai berekspresi apalagi jatuh cinta dengan mudah ! Masalah dengan mantan kekasih mu juga terjadi beberapa bulan yang lalu dan itupun terhitung jari ! Lalu sekarang ada apa ? Kemana Yuma yang sulit memulai hubungan baru itu, apa sudah sembuh sampai dengan singkat menerima pria yang baru saja kau kenal untuk di nikahi ? Ssshh sepertinya sangat-sangat aneh."
Levon terus berpikir, mengingat yang terjadi pada Yuma dan juga masalah sebelum nya yang juga menimpa gadis itu.
"Ternyata kau begitu pengertian sampai-sampai tahu apa yang ada di hati gadis pemberani ini, hahaha." Tepuk Yuma pada pundak Levon.
"Sebentar-sebentar !," Tahan Jingyi di sela bincang mereka. Dia masih belum paham dengan apa yang akan terjadi.
Mereka pun berbincang dengan Jingyi paling ribut di sana, seperti biasa juga Wufan juga Laoda ikut meramaikan suasana gazebon.
...**...
"Ada apa?." Lamunan Gary terpecah kala suara Xian masuk. Mereka berdua masih gadang untuk rapat besok.
Gary memainkan ballpoint nya sedari tadi, mengusir rasa gugup dan letih nya
__ADS_1
"Tidak !
"