
...***...
drrtt..
drttt..
Suara dering telpon kembali terdengar, getaran dalam saku pun terasa menyetrum. Shen merogoh nya dan di layar bening itu tertulis nama Erina dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Papa dan juga Mama Ella.
"Yaakk Shen ! Kau benar-benar menyebalkan !,"
"Shen kau di mana ? Kenapa telpon mu baru tersambung ? Lihatlah Mama dan Papa sangat khawatir!."
Erina berteriak kesal, dia kecak pinggang sambil menatap bergantian Mama dan Papa nya yang baru saja pulang dari kantor dan mendapati berita tidak enak di sana.
"Mana Kak Daniel ? Handphone nya tidak aktif saat aku hubungi!" Lanjut Erina bertanya, seakan tidak mengizinkan Shen untuk berbicara sebelum dirinya selesai. Sesekali Erina pun menggigit kukunya dan juga bibir bawah nya, tidak dapat di pungkiri jika sekarang Erina memang tengah khawatir.
Shen memijit kening nya sesekali dan kecak pinggang menyelaraskan nafas nya yang memburu.
"Tenang, tenang Erina ! Daniel akan baik-baik saja, aku yakin itu !." Tutur Shen dengan nafas tercekat. Erina, dia mendengarkan dan tengah mencerna yang baru saja di katakan oleh Shen.
"A-apa maksud nya ? Apa maksud nya Daniel akan baik-baik saja, Shen ?! Sh-shen ti-d-dak te-terjadi apa-apa, 'bukan ?!." Kata perkata Erina mulai tergagap, Mama Ella dan Papa Chen seketika fokus pada Erina, mereka semakin gelisah.
Shen menarik nafas. "Daniel di UGD" Cakap nya pelan perlahan agar tidak terlalu membuat mereka shock.
"U-GD ? UGD ! Shen apa yang terjadi ?." Kelopak mata Erina membulat penuh, Mama Ella dan Papa Chen sontak berdiri.
Erina mematung, untuk itu papa Chen mengambil alih handphone itu. "Rumah sakit mana ?." Tanya papa Chen.
"Rumah sakit xxx, 'Pa!." Ucap Shen.
Sambungan terputus, mereka bergegas ke rumah sakit. Saat hendak menaiki mobil, Gary datang bersama dengan Xian berniat menemui Erina dan mertuanya karena lusa pernikahan akan di adakan.
Erina mengurungkan untuk masuk dan menghampiri mobil Gary. Gary dan Xian nampak ke luar bersamaan, mereka menatap satu persatu orang-orang rumah itu.
"Erina ada apa ?." Gary bertanya, mendekat pada Erina. Xian tidak, dia masih berdiri dekat pintu mobil.
Erina menatap, menengadah agar menggapai pandangan Gary. Gary bertanya-tanya melalui mata nya. "Erina ada apa katakan pada ku ?!." Seru Gary.
Brugh....
Erina malah memeluk Gary. Siapa yang tidak terkejut saat ini ? Terutama Gary, dia diam sejenak namun perlahan membalas pelukan calon istri nya itu.
__ADS_1
"Kak Daniel masuk UGD, Aku, Mama dan Papa akan ke sana ! Shen tengah menunggu di Rumah Sakit" Ucap Erina tersedu. Gary melepas pelukan, dia memegang kedua pundak Erina.
"Ayo ke sana" Tukas nya sejenak melirik Xian yang mengangguk.
Akhir nya dua mobil itu menuju ke rumah sakit dengan terburu-buru, di perjalanan tidak ada yang membuka suara, mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, kedua mobil itu telah sampai di depan pintu lobi Rumah Sakit.
Mereka masuk, berlarian kecil. Gari sigap memegang tangan Erina mencegah hal buruk pada calon istrinya dan jabang bayi yang ada di perut.
Xian lebih dulu bertanya pada admin di depan dan tidak lama mereka menunjukkan tempat di mana Daniel tengah di tangani.
"Mari ikuti saya" Ucap petugas rumah sakit itu.
Hampir lima menitan mereka menuju ke sana dan akhirnya sosok Shen nampak di depan, dia terlihat tengah mondar-mandir sesekali memijit kening nya dan mengacak rambut nya.
Terlihat juga dokter Arya menghampiri Shen dengan jas dokter kebanggan nya. Arya menenangkan Shen dengan menepuk pelan punggung keponakan nya itu.
.
"Shen" Teriak Erina. Shen tentu menoleh reflek.
"Erina ! Ma , Pa!" Balas Shen berteriak. Shen mengkode agar Erina tidak berlari untuk itu dia yang berlari kecil.
"Shen" Ucap mama Ella, ekspresi wajahnya tidak dapat lagi di gambarkan. Ibu itu benar-benar sangat gelisah terlihat.
"Dokter belum ke luar, aku tidak tahu bagaimana keadaan Daniel sekarang!" Sahut Shen lelah dan menyesal.
"Tenanglah !." Tukas dokter Arya mengusap punggung mama Ella-kakak nya itu.
Sekitar menunggu beberapa menit, dokter pun ke luar. Keluarga Daniel pun ribut bertanya.
"Dok, bagaimana keadaan putra saya ?." Tanya papa Chen.
Dokter Arya, mencegah mereka bertanya satu persatu karena akan membingungkan sang dokter.
"Pasien mengalami keram di perut, serambi jantung berdetak dengan sangat cepat tetapi tidak dapat memompa darah secara efektif ! Efek dari wine yang berlebih menyebabkan pasien tak sadarkan diri dan setelah sadar nanti pasti akan mual-mual, kita usahakan keadaan nya stabil dulu, setelah itu pemeriksaan lanjutan akan kami lakukan"
Ucap Dokter itu dengan penuturan yang menyusun.
"Tidak ada gejala gagal jantung, kan dok ?!" Panik Arya karena dia sangat mengerti tentang medis. Pasang mata dan telinga sigap dan siap mendengar.
__ADS_1
"Kami masih harus melakukan pemeriksaan lanjutan, kita tunggu hasil pemeriksaan pertama,"
"Jika begitu saya permisi" Lanjut Dokter itu kemudian berlalu pergi.
Pintu terbuka, Suster dan staf medis lain nya hendak memindahkan Daniel ke kamar perawatan. Erina dan Mama Ella mendekat, mereka menangis sejadi-jadinya, kenapa harus seperti ini lagi ?.
Erina berdiri kokoh, dia membalikkan badan nya menatap Shen penuh.
"Apa ?." Tanya Shen merasa di tatap tajam. Erina semakin mendekat. Di sebelah kanan, Gary dan Xian memperhatikan.
"Kenapa dia ? Apa yang terjadi sebenarnya ?." Tajam Erina, air mata bergantian, mengalir ke pipi.
"Xena..." Belum juga Shen selesai mengatakan sesuatu, Mama Ella melirik tajam setelah suster kembali mendorong brangkar yang di tempati oleh Daniel. Erina pun ikut menoleh pada mama Ella dan pasti saja penyebab kakak nya seperti ini gara-gara Xena.
Erina tidak tahu jika Xena bekerja di perusahaan keluarga nya. Mama Ella menarik Erina.
"Ma, mama mau kemana ?!" Cegah Shen dengan cepat menghadang, merentangkan kedua tangan nya. Papa Chen pun ikut menahan Mama Ella agar tidak berbuat macam-macam.
"Itu pasti karena dia,"
"Shen, mama sudah katakan kepada mu, pecat dia ! Kenapa kalian tidak mendengar, hah ?! Apa perlu mama datangi dia dan mengusir dia dari kota ini ?,"
"Shen, apa kau lupa bagaimana dia menyakiti kakak mu ? Bukan kah kau juga marah padanya nya sampai kita melabrak dia di apartemennya ?! Shen lalu ada apa sekarang ! Kenapa bisa sampai seperti ini ? Jangan katakan jika Daniel kembali dengan Xena dan jangan bilang Daniel tergoda kembali oleh perempuan ****** itu."
Emosi Mama Ella tak tertahan kah, dia marah, dia berteriak sampai mengabaikan kondisi rumah sakit yang tengah ramai di tambah di sana tempatnya orang-orang yang tengah memeriksa kesehatan dan perawatan.
Gary dan Xian lagi dan lagi hanya mendengarkan, mereka tidak ingin terlibat dengan masalah yang sama sekali tidak mereka tahu dan tidak mereka mengerti.
"Ma, tenang" Papa Chen menenangkan, mengusap punggung kepala Mama Ella dengan lembut dan membawa nya ke pelukan.
Grepphh..
"Apa maksud dari ucapan mama, Shen ?! Bisa kau jelaskan ? Pecat ? Pecat apa maksud nya ? Jangan katakan kalau si Xena itu kerja di perusahaan kita !."
Erina, dia menarik baju Shen bagian atas sehingga kancing kemeja itu hampir copot. Nada suara Erina menajam sampai Shen susah untuk menelan ludah nya sendiri.
Koridor Rumah Sakit UGD itu mencekam kala kebengisan Erina nampak perlahan-lahan. Xian pun sampai melirik Gary ngeri, seakan mengatakan 'Gar, nemu di mana calon istri seperti dia?'.
"Apa yang harus aku jelaskan, Erina ?! Tenanglah, kasihan bayi mu jika kau marah-marah terus" Shen menurunkan nada suara nya, terdengar lembut dan penuh sayang.
Erina pun melepaskan cengkraman nya, nafas pun dia atur dan reflek mengelus perut nya.
__ADS_1
"Kemari lah!." Gary dengan lembut merangkul pinggang Erina. Erina melirik namun mimik wajah nya begitu merengut dan merah padam.