
...***...
Kondisi Daniel sampai ke telinga keluarga Yuma. Saat mereka masih menunggu dan beberapa ke luar masuk silih berganti karena batasan dari dokter.
"Gary" Mama Shuwan berjalan cepat, dia memanggil Gary yang tengah mendampingi Erina. Papa Wei mengikuti dari belakang sambil menggendong Wusan di pangkuan nya.
Gary berdiri, Xian pun menghentikan langkah nya dari arah kanan dengan menenteng kantong plastik di tangan nya.
Papa Chen dan juga Shen pun reflek berdiri akan kedatangan orang tua Yuma. Tidak dapat di pungkiri, sekarang mereka merasa bahaya akan segera menerjang, mengingat Yuma tidak berada di rumah dan mereka belum memberitahu Orang Tua Yuma.
"Bibi" Ucap Gary. Erina pun tersenyum menyapa dan di balas dengan senyuman kembali.
"Bagaimana keadaan Daniel ? Dia baik-baik saja bukan ?!,"
"Tadi paman mu memberitahu bibi dan kami memutuskan untuk langsung ke sini ! Sekarang bagaimana keadaan nya ?" Suara dari mama Shuwan terdengar panik dan itu pasti, penuturan khawatir mencerminkan jika dia khawatir.
Gary menatap lurus Xian, pasti dia yang memberi tahu keadaan sekarang. Xian pun menghampiri.
"Wusan, kemari biar kakak yang menggendong mu" Ucap Xian. Papa Wei menoleh ke samping dan dengan mudah memberikan Wusan yang terlihat mengantuk ke pangkuan Xian.
"Dia baik-baik saja, bibi!" Sahut Gary lega, Erina pun mengangguk membenarkan.
"Ahh syukurlah !." Mama Shuwan mengelus dadanya, merasa lega dan senang.
Tidak ada yang bersuara sesaat, mereka malah saling melirik karena kedatangan keluarga Yuma yang tak terduga. Pintu ruang Daniel terbuka dan Mama Ella muncul dari sana.
Awal nya mengabaikan orang-orang di sana namun mata bulat itu seketika tertegun. Kaki Mama Ella tak bergerak seakan lem menempel di telapak kaki.
Perlahan Mama Ella menutup pintu ruangan dan manik mata itu tidak lepas dari keberadaan besan nya sesekali melirik papa Chen dan juga Shen.
"Nyonya wei ?!." Sapa mama Ella, terdengar kaget sehingga dia seakan bertanya apakah benar orang di sekitar nya itu adalah ibu dari Yuma.
"Nyonya Chen bagaimana keadaan menantu saya ? Maaf baru datang, tadi Xian baru memberi tahu kami keadaan Daniel !." Mama Shuwan memeluk mama Ella kilas sampai pemilik tubuh mematung.
Mama Ella ketakutan namun dia bisa mengkontrol nya. "Uh ? Oh tidak apa tidak apa ! Terimakasih sudah menjenguk ke sini ! Saya merasa sangat senang." Ujar mama Ella.
Ketegangan masih menyelimuti, kedua orang tua Yuma pasti bertanya di mana keberadaan putri nya itu. Mereka menduga-duga apakah Nyonya Wei dan suaminya sudah tahu atau belum ? Kalau sudah tahu pastinya mereka tidak akan repot-repot menjenguk Daniel, yang ad mereka pasti akan menuntut.
__ADS_1
"Daniel menantu kami !." Seru mama Shuwan.
"Bukan hanya menantu, tapi dia sudah seperti putra kami. Benar bukan ma ?!." Timpal Papa Wei menimpali dengan senyuman segar di wajah nya.
Mama Ella membalas senyum, dia masih mengikuti alur dari kedua orang tua Yuma. Mereka diam dulu mendengarkan apa yang akan di katakan.
"Saya tidak bisa lama-lama di sini! Boleh masuk melihat dulu kah ?." Sembari melirik Wusan yang tertidur di pangkuan Xian, mama Shuwan izin masuk melihat Daniel.
"Tentu tentu, silahkan masuk" Seru mama Ella.
Mama Shuwan dan Papa Wei pun masuk, keadaan di luar perlahan membias.
"Gar, mereka tidak tahu ?" Bisik Erina.
"Tahu" Sahut nya dengan polos, padahal Erina berbisik tapi Gary menjawab dengan keras.
"Tahu ? Tahu apa ?." Timpal Shen bertanya. Atensi mereka terundang untuk menoleh.
"Tahu jika Yuma meninggalkan rumah" Selok nya menjawab denhan cepat dan pasti namun dalam ekspresi nya sama sekali tidak memperlihatkan keberatan.
"Papa" Tahan Shen membantu papa nya untuk duduk.
"Tapi bagaimana bisa ?." Heran Erina menanggapi sikap keluarga kakak ipar nya yang seakan baik-baik saja.
"Entahlah" Timpal Gary.
Mereka pun harus kembali menahan nafas mereka. Mereka lemas dengan sikap itu, merasa ini salah.
...**...
Di sini sekarang, Yuma tengah sibuk mengurus toko kue baru nya. Pegawai sebelum nya dan juga Liam tengah membantu.
Yuma memijit kening dan kepala nya sesekali saat merenovasi tempat duduk untuk pengunjung. Liam memperhatikan.
"Yuma hei hei duduk dulu, ayo !." Liam memegang kedua pundak Yuma menahan agar dia tidak terjatuh.
"Aku baik-baik saja tidak perlu berlebihan !." Tukas Yuma walau mengikuti ajakan nya untuk duduk. Liam memperhatikan dengan khawatir.
__ADS_1
"Mia tolong ambilkan air cepat" Titah Liam, dia berteriak dan Mia pun meletakan dahulu lap meja nya.
"Ini kak" Mia menyodorkan satu gelas minum pada Liam.
"Minumlah ! Istirahat saja dulu, biar kami yang menyelesaikan nya" Seru Liam.
"Tap.... "
"Tidak ada tapi-tapian ! Kau istirahat saja" Tegur Liam karena Yuma hendak berdiri kembali walau masih terlihat pucat.
Dari kemarin kondisi tubuh nya tidak fit, padahal makan teratur dan kepala pun tidak terlalu memikirkan masalah keluarga nya, tapi kenapa pagi tadi dia mual-mual dan terasa sangat pusing sekali.
Perut nya serasa di tusuk-tusuk jarum.
"Kak" Olivia duduk di depan nya Kaos putih polos dan celana jeans berwarna dark blue mencetak lekukan pinggang sampai kaki nya. Celemek warna coklat pun masih membalut di tubuh nya, rambut pun di ikat rapih.
"Tidak apa, aku hanya kurang istirahat saja." Ucap Yuma mendahului, pasti saja Olivia akan bertanya keadaan nya sekarang.
"Ayo aku antar ke Rumah Sakit ! Kita periksa keadaan mu, lihatlah wajah kakak sangat pucat sekali dan astaga apa ini kenapa suhu tubuh kakak sangat panas ?!."
Olivia berinisiatif menawarkan diri dan dia pun reflek mengecek suhu tubuh Yuma dengan meletakan punggung telapak tangan nya di atas kening Yuma.
"Kak" Olivia berdiri, dia membalikkan badan nya bermaksud menggapai pandangan Liam. " Kak, kak Yuma demam sepertinya ! Badan nya panas" Teriak Olivia.
Yuma meletakan kepala nya di atas meja, menyembunyikan dia antara kedua tangan nya. Liam bergegas mendekat begitupun dengan Mia dan juga Noah langsung bergegas mendekat.
"Yuma kau sakit ?!." Liam menarik kursi lebih dekat pada Yuma. Liam mencoba membangunkan Yuma, dari tangan nya pun suhu panas sudah terasa pada telapak tangan Liam.
"Astaga Yuma ! Ayo ke Rumah Sakit" Liam sigap, dia berdiri dan hendak memapah Yuma
"Tidak Liam, kita pulang saja ! Istirahat sebentar pasti sudah baikan ! Aku mau tidur saja di hotel" Tolak Yuma, dia bersuara dengan lemas dan juga bernada rendah seakan akan tertelan oleh tenggorokan yang dalam.
"Okeu okey ayo kita pulang" Ucap Liam menyetujui begitu saja.
"Kalian selesaikan pekerjaan" Ucap Liam memapah Yuma.
"Baik kak" Sahut mereka beresamaan.
__ADS_1