
...***...
"Sedari tadi kita berbicara, tapi tidak melihat kakak ipar. Dimana dia ?." Erina menyela, mengedarkan tatapan nya.
Gary ingin sekali tertawa, dia sangat ingin mencubit pipi menggemaskan dari calon istri nya itu, ternyata dia pandai berakting.
Seketika hembusan angin mendominasi, tidak ada lagi suara bahkan nafas pun seakan terputus. Wajah mereka pucat, Daniel pun terdiam, otak nya kembali diingatkan akan istri nya yang belum juga kembali.
"Di mana dia ?."
"Kakak ipar mu belum pulang, dia masih ada urusan di toko kue nya ! Tadi sebelum kamu tiba dia menghubungi" Tentu saja bohong, Daniel mengatakan kebohongan pada adik nya.
Masalah seperti ini tidak perlu untuk di ketahui oleh nya dan tidak ada guna nya juga.
"Benarkah ?" Timpal Gary. Keadaan semakin tidak karuan.
"Bagaimana bisa ? Toko kue nya akan tutup di jam tujuh malam bahkan itu sudah termasuk lembur,"
"Setahu saya, dia bukan bos jahat yang harus memforsir tenaga pekerja nya" Gary bersikap mengingat, tidak memperlihatkan kemarahan, namun hanya siratan curiga saja yang terlukis.
Bahkan seorang Gary, pria keras kepala, tegas dan tidak sabran bisa sesantai ini. Ingat akan ucapan Yuma, untuk itu mungkin alasan Gary bersikap setenang sekarang.
"Dia sama sekali tidak tahu ?." Batin mereka bergumam, mereka menyelidik berpikir jika Gary memang tidak tahu apa-apa. Apa mungkin Xian tidak mengatakan apapun pada saudara sepupunya ini ?
Mereka terus dengan pikiran mereka saat ini..
"Untuk apa saya berbohong ?." Tajam Daniel.
"Sebenarnya, apa yang hendak anda katakan tuan Gary ?." Perkataan menekan dan tajam, terdengar menggeram. Daniel perlahan mengepalkan jari jemari nya.
Gary berdiri, dia berjalan menilik pada Daniel. Shen pun ikut berdiri, dia bersiap akan perkelahian yang akan terjadi.
Salah satu alis Daniel terangkat, dia tengah menebak apa yang akan Gary katakan.
"Heuh !."
"Katakan, apa yang kau lakukan pada adik saya ?" Tubuh Gary berada di samping Daniel, dengan menghadap ke arah yang berbeda.
Daniel pun membenarkan posisi nya dan akhirnya sekarang mereka saling berhadapan.
"Kau ?." Telunjuk Daniel mengarah dengan tajam pada wajah Gary.
__ADS_1
"Dengar tuan Daniel ! Untuk sesaat kami sangat percaya akan kebahagiaan adik saya dan saya percaya dia akan dilimpahkan rasa cinta dari suami nya,"
"Namun ternyata kepercayaan kami tidak hanya di patahkan, tapi lebih dari itu ! Anda meleburkan akan rasa percaya kami, sampai tidak berbentuk."
Gary yang tenang mulai menggertakan gigi nya.
"Tuan, tenang" Shen sedikit mencondongkan tubuh nya, mencoba menenangkan kakak sepupu dari kakak ipar nya itu.
"Tenang ?," Gary duduk. Erina menatap lekat.
"Erina, bagaimana ?." Seru Gary.
Brughhhh.
Daniel, dia berlutut di depan tubuh adik nya, wajah lesu, mata merah dan apapun yang berada dalam anggota tubuh nya kini tengah tidak baik-baik saja.
Mama Ella menutup mulut nya tidak percaya, papa Chen menghindari tatapan nya.
"Aku bersumpah atas nama langit dan bumi,"
"Aku akan membalaskan dendam atas sakit yang di derita adik ku dan siapapun yang lancang menghalangi jalan ku, maka dia akan tahu akibatnya"
"Itu kalimat yang kakak ucapkan setelah pulang dari menjenguk mu waktu itu, kakak bersumpah !."
"Lalu ?."
Gigi Erina mengerat. Daniel, dia menatap nanar adik nya.
Perlahan dia memegang tangan Erina.
"Lalu apa kak hah ?,"
Daniel masih terdiam, menatap Erina yang menunjukkan tatapan marah nya.
Plakkk...
Tamparan keras mendarat di pipi Daniel, Erina pun mendorong tubuh kakak nya itu sampai membentur meja.
Semua orang terkejut, termasuk Gary. Tidak menyangka dengan apa yang lakukan oleh Erina.
"Erina" Shen memeluk tubuh nya dengan erat, menenangkan nya seperti biasa.
__ADS_1
Mama Ella dan papa Chen hanya biasa diam, mereka diam dan hanya bisa diam. Seperti biasa, seperti tahun-tahun sebelum nya, Erina mereka menjadi seorang wanita yang kejam sampai kakak dan orang tua nya pun akan diam tanpa perlawanan.
"Apa aku menginginkan itu hah ? Bodoh kau Daniel"
"Hahaha sekarang kau malah menyakiti seorang wanita yang sangat baik ?!,"
"Ow apa kau masih ada dendam juga karena di campakkan oleh Xena ? Hahahaha menggelikan kau masih belum berubah"
Gary yang sekarang malah semakin terkejut, ini sama sekali tidak ada dalam pikiran nya, apalagi dugaan nya.
"Katakan!,"
"Katakan sekarang, di mana kakak ipar ku ?."
Nafas Erina naik turun, emosinya mulai menjadi wajah nya memerah sampai urat di kening menonjol. Shen, dia masih belum bisa menenangkan adik nya itu.
"Sayang" Daniel pun menarik adik nya ke dalam pelukan sesaat setelah Gary melepaskan.
Daniel, dia dibuat bungkam. Ingin membela diri namun percuma karena jika semakin keras maka adik nya pun tidak akan berhenti mengamuk.
Masalah nya kini ada jabang bayi di dalam perut adik nya dan dia harus mengalah dan tidak banyak bicara.
"Apa sekarang kau menyesal ? Kau ingin mencari nya ? Tidak Daniel, kau telah kehilangan nya".
Erina, dia melepas pelukan dan menatap nanar kakak tersayang nya itu. "Kak" Air mata pun akhirnya tumpah kembali. Tangan lentik itu menggapai wajah sang kakak.
Suhu tubuh Daniel sedikit aneh dan Erina bisa merasakan itu.
"Kenapa bisa begini ? Kenapa kakak tidak bertanya dulu pada ku, apa kemauan ku dan apa yang terbaik untuk masalah ini. Kakak tidak bertanya pada ku ! Apa sekarang pendapatku tidak penting ?" Suara Erina mulai melembut dia terus membelai pipi sang kakak dengan lembut.
Air mata Daniel tumpah, dia menangis di hadapan Erina dan itu pasti.
"Kakak kehilangan nya, Erina" Prau suara Daniel menyesakkan dada. Mama Ella pun menangis di pelukan sang suami. Shen, dia membalikkan badan nya memijit kening nya sembari menengadah agar air mata nya tidak tumpah.
"Sssstttt, menangis lah" Erina memeluk menenangkan kakak nya.
Itulah keluarga Chen, sikap dan sifat mereka yang asli tidak ada yang tahu. Yang dingin bisa saja lembut dan ramah, yang ramah bisa saja jahil dan menyebalkan dan yang energik bisa saja tegas dan dewasa.
Itulah mereka.
Gary, dia pamit setelah keadaan reda. Dua jam lebih dia menyaksikan drama keluarga itu.
__ADS_1