Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 106


__ADS_3

...**...


Suara mobil mengantar kepergian Papa Chen, Mama Ella dan juga Shen. Yuma berdiri di teras rumah masih melambaikan tangan dengan senyum namun air bening dari sudut mata mengalir tak tertahan kan.


Rencana nya hari ini dia akan pergi meninggalkan kenangan pahit tanpa ingin melihat satu persatu wajah yang akan sakit ketika melihat nya pergi.


Yuma bergegas pergi ke kamar nya, tidak sepotong baju pun dia tinggalkan di sana, Yuma merapihkan semua barang nya ke dalam koper dengan begitu sibuk.


Isak tangis dalam hening nya ruangan semakin membuat pikiran nya mengeras dan melembut, denyut jantung nya tidak normal, hati pun ikut sakit.


Yuma merobek secarik kertas di atas meja yang biasa di gunakan untuk tempat membaca nya.


"Huffhhh"


Yuma nampak menetralkan nafas nya dan duduk di atas kursi kayu berwarna moccha.


Pena pun perlahan mulai menggores kertas putih itu.


Daniel, maafkan Aku


Jangan cari aku, aku mohon pada mu !


Aku lelah, tapi aku tidak akan menyerah dengan hidup ku hanya karena tawa langit terngiang di telinga.


Daniel, terimakasih telah bersedia menerima wanita picik ini,


terimakasih telah mencintai wanita seperti diri ku.


Aku sangat beruntung


Aku sangat bahagia bersama dengan mu


Walau sesingkat ini


Aku juga bahagia bisa mengenal keluarga mu,


Aku tidak akan pernah melupakan mereka.


Melihat dirimu yang sekarang membuat ku berfikir beribu-ribu kali lipat jika memanglah benar aku yang tidak pantas bersanding di sisi mu.


Daniel, wanita ini tidak setegar itu


Aku punya hati


Aku juga punya mata.


Bagaimana bisa tidak sakit kala itu ?

__ADS_1


Tapi Daniel aku benar-benar tidak marah, aku hanya kecewa pada mu,


*An**dai kau bicara sebelum janji suci kita terucap*


Aku akan mencoba meluruskan,


Sekarang terlanjur, janji suci itu sudah ternoda dengan dendam dan kebencian mu pada ku.


Sekali lagi,


aku benar-benar tidak marah pada mu,


aku memaafkan mu dengan segala kelapangan hati.


Tapi kecewa ini masih membekas


dan


aku tidak pandai menghilangkan nya.


Setiap kali melihat wajah mu


entahlah !!


ada kebahagiaan namun bersamaan dengan itu ulu hati ini sangat sakit.


Daniel, berjanjilah pada ku kau akan hidup dengan baik


Terimakasih atas hari-hari indah itu, aku akan sangat merindukan nya'


Tangis isak masih terdengar sendu, air mata membasahi sebagian kertas.


"Maafkan aku" Ucap Yuma pelan dengan bibir bergetar.


Pena itu di letakan di atas kertas sebagai penahan agar tidak melayang dan jatuh ke bawah. Yuma pun meletakkan map coklat di atas meja itu berdampingan dengan secarik pesan untuk suami nya.


Koper besar itu dia tarik namun mata sesekali terus mengedar pada setiap sudut kamar yang menurutnya penuh kenangan.


"Awsss" Reflek Yuma menekan perut nya yang tiba-tiba ngilu, namun perlahan menghilang di sela ringisan nya.


"Hiks—hiks, maafkan aku" Tetap saja, rasa salah muncul di benak nya, apakah meninggalkan suami nya adalah jalan yang benar ? Yuma terus menimbang dan sekarang tidak mungkin lagi harus di undur lagi.


Kediaman Chen sepi, ART pun sedang tidak ada di sana begitupun satpam gerbang entah pada kemana namun hal itu tentu menjadi keberuntungan.


Wanita itu melangkah dan dari area pekarangan sudah terlihat mobil yang menunggu, sepertinya itu grab yang dia pesan lewat online.


Bergegas Yuma dengan langkah panjang nya. Supir itu nampak ke luar dan ternyata hendak membantu Yuma memasukkan koper nya ke bagasi mobil.

__ADS_1


Mobil pun melaju, meninggalkan kediaman besar Chen.


...**...


Kring..


kring..


kring.


Telpon rumah berbunyi, Bibi Shu yang baru saja sampai dari pasar pun menerima panggilan itu.


"Dengan kediaman Chen, maaf ada yang bisa di bantu ?." Ucap bibi Shu dengan sopan.


Daniel menyematkan senyum nya mendengar tutur kata bibi Shu nya.


"Bibi ini aku"


"Oh tuan, maaf saya lancang!"


"Tidak bi kenapa harus meminta maaf ?!." Seru Daniel.


Bibi Shu tersenyum kikuk namun juga merasa bersalah.


"Bi, Istri ku ada di rumah, kan ? Saya telpon tidak dia angkat ?!." Tanya Daniel.


Bibi Shu tersentak dengan penuturan tuan muda nya, sejak kapan dia selembut ini saat berbicara ? Bahkan membayangkan pun tidak akan sampai apalagi berharap.


"Nona Yuma sepertinya sedang istirahat, tuan!" Sahut nya. Satpam dengan seragam hitam itu mendekat kala hendak ke dapur namun penasaran dengan mimik wajah dari bibi Shu sehingga memilih mendekat dahulu.


"Baiklah bi, makasih ya! Aku tutup telpon nya"


Bibi Shu pun menatap telpon rumah itu dengan tidak percaya.


"Ada apa ?" Tanya Paman Bai.


"Eh itu tuan muda ! Apa itu kau tahu Bai, dia bilang makasih pada ku ? Sebentar-sebentar, apa aku salah dengar ? Ah tapi tidak, tadi suara nya pun sangat lembut"


Bibi Shu masih tidak percaya, dia meletakan telapak tangan nya di dada masih dengan netra tak percaya.


"Semenjak bersama dengan nona Yuma, sikap tuan Daniel sangat berubah drastis ! Kau merasa tidak ? Aku rasa alasan kuat nya memang karena nona Yuma !" Seru paman Bai. Bibi Shu mengangguk membenarkan juga.


"Oh ya, kau mau apa ke dapur tadi ? Biar sekalian aku buatkan kalau kau mau kopi" Ucap bibi Shu berinisiatif.


"Boleh deh ! Makasih ya" Ucap Paman Bai melenggang pergi dengan kedua tangan di anyam di belakang sambil memikirkan majikan nya itu. Sedangkan bibi Shu melenggang ke dapur namun sepertinya pikiran nya sama, sama-sama memikirkan sikap majikan nya.


Padahal hanya satu hari saja pekerjaan dia tinggalkan tapi berkas yang berada di atas meja begitu menumpuk. Daniel sesekali melirik handphone nya menunggu Yuma mengabari balik namun tak kunjung.

__ADS_1


"Mungkin dia sedang tidur ! Biarkan saja dia istirahat" Gumam Daniel mengetuk layar handphone nya dan kembali fokus ke pekerjaan tanpa kecurigaan apapun.


__ADS_2