Cinta Yuma

Cinta Yuma
Eps 49


__ADS_3

"Siapa dia?," Daniel melirik Yuma yang tengah menggenggam telapak tangan yang sedikit bergetar. Memang malas bertanya, tapi Daniel mencoba untuk tetap menjadi sosok pria yang dicintai oleh Yuma.


Yuma menoleh sekilas dengan sunggingan halus dari salah satu bibir nya namun genggaman tangan nya pada tangan lain belum terlepas seperti berusaha menghilangkan rasa marah dan juga gugup nya.


"Teman lama." Ucap Yuma hanya sebatas itu, dia pikir hal itu tidak perlu menjadi pembahasan di antara dirinya dan juga Daniel.


Daniel mengangguk paham namun sorot matanya belum puas dengan jawaban dari Yuma.


"Ayo aku antar kembali ke toko mu."


Yuma pun masuk ke dalam kabin mobil dan segera duduk dan menarik sabuk pengaman nya. "Kau juga harus segera mengerjakan pekerjaan mu sampai selesai !." Ucap Yuma dengan penuh maksud.


"Tentu ! Kau tenang saja." Sahut Daniel sembari menginjak pedal gas dan tentu saja kini mereka meninggalkan restauran menuju toko kue milik Yuma.


Hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk sampai ke toko, Daniel berjalan mengantar Yuma masuk ke dalam ruang kecil nya dan itu merupakan kantor khusus untuk Yuma dan tempat istirahat sekaligus.


"Aku pergi." Pamit Daniel terus menatap mata Yuma yang menyejukkan itu dan Daniel tidak bisa mengabaikan nya ataupun sekedar berbohong, mata Yuma memang terasa nyaman untuk terus di tatap.


Yuma pun yang tengah duduk di atas kursinya masih enggan untuk memalingkan tatapan nya, dia menengadah membalas tatapan Daniel yang semakin membuat jantung nya merasakan debaran kecil.


"Kenapa ?," Ujar Daniel karena senyum Yuma semakin terulas.


"Tidak." Geleng nya. Daniel meraih pipi Yuma dan mengusap dengan ibu jarinya.


"Kemari lah." Daniel menarik tangan Yuma agar dia berdiri. Yuma bingung sampai kedua alis nya menaut keheranan.


"Percayakah jika kau gadis cantik yang pernah aku temui." Bisik nya di sela pelukan nya. Yuma hanya tersenyum, wajah nya tidak merona atau tersipu malu seakan gombalan itu sudah kebal unyuk nya. Bukan nya apa tapi Axel pun pernah mengatakan kalimat yang sama seperti yang dikatakan Daniel sekarang.


"Aku memang cantik ! Jadi sekarang ayo kembali ke kantor mu dan jangan lupa jika malam kau dan keluarga mu akan mengunjungi ku di rumah." Ucap Yuma dengan begitu halus nya.


Daniel menatap Yuma kembali namun kedua tangan nya masih melingkar pada pinggang Yuma.


"Aku pergi." Ucap nya kembali.


"Eum" Angguk Yuma dengan wajah berseri karena Daniel juga belum melepaskan tangan nya dan itu membuat Yuma geli.


"Aku pergi." Ekspresi Daniel mulai jengkel.


"Hahaha iya pergi saja, ayo kenapa masih memeluk ku seperti ini." Yuma memukul dada kekar Daniel di sela tawa nya yang renyah.


Daniel pun menyunggingkan sebelah bibir nya namun dengan wajah berseri. "Aku pergi."


"Hahaha iya sana pergilah."


Kalimat itu terus terucap sampai punggung Daniel tertelan oleh pintu kantor Yuma.


Keadaan Yuma kembali membeku kala suara Axel terus mengiang di gendang telinga nya. "Kenapa tidak mati saja." Umpat nya begitu kesal.


"Hufffhh, tenang Yuma ! Katakan jika kau masih mampu menghadapi semua nya." Yuma menekan dadanya sesekali, menyemangati diri nya sendiri seperti biasa.


"Abaikan" Batin nya kembali berbicara.

__ADS_1


...**...


Singapura, tepatnya di tempat para remaja meluangkan waktu nya setelah lelah bekerja. Di sanalah Erina dan juga Liam memutuskan untuk berbincang kecil.


"Keputusan mu itu terlalu terburu-buru Erina ! Tidak kah kau memikirkan kembali keputusan mu ? Kau karyawan terbaik ku, aku tidak mau kehilangan karyawan ulet seperti mu." Rajuk Liam.


Ya, Erina dan juga Liam memang bukan hanya sebatas atasan dan juga bawahan namun mereka pun juga sudah berteman lumayan lama namun sama sekali tak bisa membuat nya memanggil Liam dengan nama.


"Aku sudah memikirkan nya dengan matang, pak!." Tukas Erina dengan penuh tekad.


"Iya aku tahu Erina ! Tapi bisakah aku minta sekali saja kau pikirkan kembali ? Sekali saja ! Ya, ya." Mohon Liam.


"Ishhh kau ini memang menyebalkan !." Sumpit yang masih terbungkus menjadi senjata untuk memukul kepala Liam.


"Aw apa ? Hahaha kau memukul ku ?." Dengan canda nya, Liam pun membalas dengan jitakan di kepala Erina.


"Liam, sungguh aku tidak bisa !." Suara Erina mulai memberat, pandangan nya semakin meredup namun tetap sadar akan keadaan.


Tawa Liam perlahan terhenti dan memantapkan tatapan nya pada Erina. "Ada apa ? Katakan jika kau memang ada masalah, Erina ! Mungkin aku bisa membantu masalah mu,"


"Aku yakin ini bukan sekedar kesibukan mu di kampus, 'kan ?!."


Ucapan Liam seakan tengah mengintrogasi tersangka saat ini, jantung Erina bergetar, air mata nya mulai mengalir, namun untuk kesekian kali nya, untuk terjaga nya rahasia dan aib, dirinya tetap tegar dan menahan air mata itu untuk tidak ke luar dari matanya.


Untuk waktu yang lama, akhirnya Erina pun memanggil Liam dengan sebutan namanya, namun Liam merasa aneh dengan sebutan itu, ada hal mengganjal kala nama nya di sebut oleh Erina


"Erina?." Lambaian tangan Liam menyadarkan lamunan Erina saat ini.


" Maaf ? Maaf untuk apa?." Liam semakin di buat bingung oleh sikap Erina. Dia tidak mengenali gadis di depan nya saat ini, Erina yang dia kenal hilang entah kemana, dia pun keheranan sendiri.


"Aku tetap dengan keputusan ku ! Tapi kau jangan khawatir, jika ada sesuatu yang ingin kau diskusikan, kau bisa menemui aku atau telpon aku jika kau mau." Ucap Erina.


Suara Liam mendesah sunyi di tengah hangat nya cuaca, dia membenarkan duduk nya agar kembali tegap.


"Baiklah jika keputusan mu sudah bulat, aku bisa apa ?!." Ujar Liam.


"Jangan ketus seperti itu, nanti tampan nya hilang." Canda nya di sela kecanggungan mereka.


"Tidak ada ya, tidak ada yang ketus ! Siapa juga yang ketus ?." Bantah Liam kembali memasukkan makanan ke dalam mulut nya


"Hahaha menyangkal bisa nya." Ledek Erina.


Perbincangan mereka selesai dan Erina menolak untuk di antar pulang, seperti kucing dan juga anjing, Erina dan juga Liam terlibat pertengkaran kecil dengan persoalan yang kecil.


"Oh iya pak...."


"Liam, Erina ! Liam, panggil aku seperti tadi." Potong nya pada perkataan Erina.


"Iya Liam." Geli nya.


"Apa ? Lanjutkan pertanyaan mu."

__ADS_1


Di sela pertengkaran mereka, pasti ada saja hal yang menjadi pembahasan.


"Itu, saat kau menyuruh ku mengantarkan berkas ke kamar hotel 2xxx itu, apa kau tahu siapa dia ?." Tanya Erina dengan hati-hati dan berpura-pura hanya sekedar bertanya saja.


"Oh itu."


Erina mengangguk. "Siapa dia ?." Erina semakin penasaran.


"Dia temanku, Gary Zhao ! Dia sedang ada urusan di sini. Kenapa ?." Seru Liam dengan sedikit rasa penasaran dari sorot mata nya.


"Tidak, hanya bertanya saja."


Liam hanya mengangguk-anggukkan kepala nya.


"Aku duluan ya. Bye !." Erina pun pergi membuka pintu taksi yang berhenti di samping nya.


"Gadis ini memang aneh." Gumam Gary.


...**...


Lain hal nya dengan Gary yang masih berkutat dengan berkas-berkas di atas meja nya. Dia belum juga menemukan kelalaian dari apa yang di permasalahkan oleh Chen Group.


"Gary ini." Xian datang terburu-buru, dia menyerahkan berkas dengan map berwarna kecoklatan. Gary pun mengindahkan kedatangan Xian dan meraih berkas itu.


"Ada yang aneh." Tekan Xian. Gary pun segera memanggil sekretaris nya lewat telpon.


"Panggil kepala Lily ke kantor saya." Ucap Gary dengan tegas nya.


...**...


Sedangkan di perusahaan Chen Group, Daniel terlihat memantau sesuatu pada i-Pad nya dan terganggu akan ketukan pintu dari luar.


"Masuk." Ucap Daniel.


Shen muncul dari balik pintu dengan dokumen yang di minta oleh Daniel. " Ini berkas nya ! Usahakan selesai, "


"Jangan lupa, kita ada kunjungan ke rumah Yuma malam ini."


Shen pun kembali pergi setelah mengingatkan Daniel. "Tch tch sok dingin padaku." Gusar Daniel dengan sikap Shen yang seperti semakin tak tersentuh.


"Xena, buatkan saya kopi." Ucap Daniel menekan tombol di atas telpon meja nya.


"Baik pak." Xena membenarkan baju dan juga riasan nya, dia pun berjalan ke pantry dengan lenggokkan tubuh nya. Tidak ada karyawan yang tidak memperhatikan nya saat ini.


Rok selutut nya terbelah di tengah sehingga terkesan semakin seksi, baju kemeja putih nya yang polos dibiarkan ketat agar buah dadanya terlihat menonjol sempurna.


"Silahkan pak." Xena meletakkan secangkir kopi panas di atas meja Daniel.


Xena berusaha mencari perhatian dari Daniel, namun tak kunjung berhasil.


"Silahkan pergi, saya masih ada urusan." Daniel tanpa menatap Xena, terus saja fokus pada berkas di depan nya.

__ADS_1


"Tch" Kesal, lagi dan lagi Daniel mengabaikan nya.


__ADS_2