
Alarm diponsel Yuna bernyanyi keras sekali
"Astaga..." Yuna terbangun
"Ini masih jam 5 pagi...sialan.." gerutunya kesal dia dibangunkan oleh alarm yang biasa dia gunakan untuk bekerja dirumah Egy
Yuna coba untuk menarik selimutnya lagi,namun mata itu tetap tak bisa terpejam
Akhirnya dia beranjak dan terduduk di meja makan, dia menatap sekitar...
"Aaah...aku merasa sangat bahagia" ucap nya menghibur diri
kalo aku bahagia ,seharusnya aku tak perlu mengingat Egy
Lagi pula dia pasti memilih penginapan yang bagus,jadi untuk apa di khawatirkan
mungkin juga Fania menyusul
..Astagah...,niat tidak memikirkan tapi kenapa selalu kepikiran??
"Fokus Yuna...baiklaah kita sarapan walaupun masih terlalu pagi untuk sarapan"
Yuna membuka bungkusan roti tawar yang dibeli nya kemarin
lalu dia mengoleskan selai....coklat..
Yuna menghela nafas,dia ingat pagi pagi berlarian sangat jauh hanya untuk membeli sebuah selai kacang
"Apa pak Egy selalu berolah raga setiap pagi?"
"Aku tidak ingat pasti, tapi setiap kali aku berlari pagi...itu membuat ku nyaman seolah aku sudah biasa berlari pagi hari..,dan sebaik nya kau juga..berat badan mu tak terkendali..berat sekali!"
"Oh..."Yuna meraba raba badan dan kedua pipinya"...dari mana...kau ,tau..aku berat sekali..??" yuna terbata bata dia setengah malu
"Tentu saja aku tau...sewaktu kau berada diatas ku!!" Egy nampak kesal
"Oh...di..diatas mu...??"Yuna terperanjat,dia tak mengira Egy masih mengingat nya
Egy terhenyak dia berhenti menyeka keringat nya"Itu..mak..maksud ku..saat kita lompat dari benteng itu..."Tepis Egy seketika
Yuna hanya menunduk terdiam
Egy mengamati reaksi asisten nya itu
"Haaaa...kau selalu salah paham..semoga IQ mu..tidak rendah.."
"Apa maksud pak Egy.."
"Berolah raga lah..lemak diperut mu...dan kedua pipimu..."
Yuna kembali memegangi kedua pipinya
Egy mendelik " Pantas saja pasangan mu meninggalkan mu..."
__ADS_1
Egy beranjak pergi
'Tunggu..!!"
Egy berbalik dan menatap Yuna
"Dari mana kau tau...?"
"Dari sahabat mu yang sama sama aneh itu"
ucap Egy datar, dan dia pun berlalu
sementara Yuna hanya termenung
Yuna menghela nafas,dia teringat kembali obrolan nya dengan sang majikan kala itu, kenapa Rara harus bilang tentang Rendy??
Yuna menghabiskan roti nya
"Aku harus hidup sehat!!"
"Semangattt..Yunaaaa!!"
teriak nya menyemangati dirinya sendiri
Egy menyalakan mobilnya,dia berencana untuk mencari rumah supir pribadinya.
Pagi pagi sekali dia sudah berkemas
dia berharap dapat mengajak kembali sang supir untuk bekerja dengan nya
Namun Egy tak patah semangat dia terus semangat mencari
Hingga dia tiba disebuah kota kecil ,dia mencoba menanyakan kembali kepada penduduk setempat
Dan...
Usaha nya tak sia sia
sebuah rumah berwarna putih abu abu..rumah yang sangat mencolok disitu karena ukuran nya agak sedikit besar dan nampak mewah
dia tak mengira,rumah untuk ukuran sang supir pribadi...
"Selamat sore..."
seorang wanita paruh baya muncul dari balik pintu rumah "Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mencari Arga..."
Tiba tiba seseorang terlihat memasuki gerbang rumah itu
wanita itu tertsenyum
"Itu Anak saya..Arga.."
__ADS_1
Egy berbalik,pemuda itu menatap Egy
lalu berlari mendekat dan bahkan memeluk Egy
"Pak Egy..."Ucap nya ,pelukan itu erat sekali dan..pelukan itu pernah Egy rasakan
sekilas bayangan saat dia tertawa dengan seorang pria pun terbersit di ingatan Egy, pria itu lalu memeluk Egy...erat,seperti pelukan ini..
"Arga..."
pria itu menatap Egy "Kau..ingat aku??"
"Arga..disuruh masuk dulu tamu nya"
kata perempuan paruh baya itu
"Dia ibuku.."
Egy menatap wanita itu
"Kau majikan anakku yang kaya itu?,Terimakasih..berkat kamu,kita dapat memperbaiki rumah kita..Kau akan membawa anakku bekerja kembali??"
Egy dan Arga hanya saling menatap mendengar hal itu
"Pak Egy..duduk dulu" pinta nya
mereka duduk dihalaman belakang rumah itu, halaman belakang nya begitu nyaman dan teduh
"Apa kabar mu?" tanya Egy
Arga menghela nafas "Baik..aku dengar Pak Egy Amnesia??"
Egy mengangguk
"Tapi kenapa kau mencari aku..kau ingat aku??"
"Cerita nya begitu rumit..aku pun tidak pernah tau aku punya seorang supir handal..yang sangat dekat sekali dengan ku.."
Arga menatap mantan majikan nya
"Kenapa??"
Arga tersenyum "Kau begitu dingin...apa karna Amnesia ..kau berubah menjadi begini??"
"Awalnya aku ingin pulang dari Rumah sakit..namun entah lah..aku selalu merasa sendiri ditengah keluarga ku.."
Arga menunduk
"Maaf Pak Egy,.."
"Aku sendirian sampai aku pikir..mungkin hanya perawat ku yang bisa ku jadikan teman..karna hanya dia yang menghawatirkan aku..awal nya aku pikir dia begitu karna dia perawat..dan dia dibayar untuk merawat ku..sampai aku berfikir hanya dia yang mau berkata jujur padaku tentang aku..."Egy menghela nafas seolah dia merasakan lelah yang berkepanjangan
Arga tersenyum
__ADS_1
"jika pak Egy bertanya..mungkin aku juga akan berkata jujur padamu..aku memang sudah tak bisa lagi bekerja di rumah Tuan Praditya..tapi,sebagai balas budiku..apa saja,sebisa yang aku bisa aku akan bantu ."
ucapan arga menegaskan bahwa dia memang sudah tidak bisa lagi kembali..mungkin karna satu alasan...