
Yuna mengunci kembali pintu rumah nya dengan membawa beberapa barang kecil dan berkas berkas itu
perasaan nya begitu berkecamuk, penuh dengan luka dan kebencian
dia terduduk di kursi didepan rumah nya
pandangan nya menerawang jauh kelangit senja disore itu
dia pun sampai lupa untuk makan
bahkan sekedar menjawab pesan dari Egy
kepalanya terlalu di buat pusing dengan semua ini
"Aku tak bisa lagi mencintai Egy, walaupun di dalam hatiku sudah mencintainya.. tapi luka lama itu sungguh sulit untuk di lupakan begitu saja.. mereka membuat 3 tahunku ku sangat sepi.. membuat aku seolah hidup dalam kesendirian, seperti orang yang tuli.. tak dapat mendengar tawa di pagi hari.. "
Gumam nya dalam hati
Tak berselang lama Rara muncul dari gerbang rumah Yuna
melihat wajah Yuna yang sendu.. mata nya yang sembab.. Rara langsung terperanjat
"Yuna.. kamu kenapa? "
Yuna hanya menggeleng menahan pedih dihatinya
"Egy menelfon ku.. katanya kamu tidak menjawab pesan nya.. bahkan mengangkat telfonnya.. dia menghawatirkan mu" ucap Rara
Yuna hanya menghela nafas getir, terbersit dihati kecil nya.. apa sebaiknya dia tak perlu mengetahui kenyataan yang sangat pahit ini
karena Egy benar benar menyanyanginya..
seolah dia takut jika Yuna bersedih
" Ada apa Yun? " tanya Rara
Yuna menoleh "Suasana hatiku agak kacau.. "
"Tapi.. setidak nya kau mengabari Egy, kau tau dia hampir membatalkan satu pertemuannya karena belum mendapatkan kabar dari mu.. sebelum akhirnya dia menghubungi aku" ucap Rara
Yuna tertunduk, harus bagaimana menghadapi semua ini.. harus katakan saja kah.. atau menyembunyikan nya.. namun, terlalu pahit rasa nya untuk di sembunyikan
tapi.. terlalu menyakitkan juga jika harus dikatakan..., karena itu akan membuat Yuna membenci Egy
"Aku sudah tau.. yang menyebabkan kedua orang tua ku meninggal.. " ucap Yuna
"Apa?? " Rara menatap Yuna, dirinya begitu terkejut
"Apa.. yang menyebabkan orang tua mu meninggal?? "
"Akupun tau.. pihak yang menyebabkan orang tua ku meninggal.. "
__ADS_1
"Siapa Yuna?? "
Yuna akhirnya hanya menggeleng tak berdaya
haruskah Rara mengetahuinya?, dia mungkin akan segera mengenyahkan Egy dari hidup Yuna
Namun, disisi lain Egy begitu baik pada Yuna.. selama ini , kekosongan itu seolah baru terisi kembali , walaupun oleh orang yang salah
.. oleh Egy Praditya
"Yuna?? " Rara membuyarkan lamunan Yuna
"Aku tak mau membahasnya.. aku rasa aku hanya cukup mengetahuinya "
Rara menghela nafas " Tapi.. kau harus berjanji.. kau akan baik baik saja"
Yuna menatap sahabat nya
"kau akan baik baik saja bersama Egy.. dia akan membahagiakan mu Yuna" ucap Rara
Ucapan itu adalah ucapan untuk menenangkan namun begitu menyakitkan
Sore itu berakhir dengan kenyataan yang menyakitkan, Yuna kembali kerumah itu dengan menaiki taksi online nya, dia menaruh begitu saja barang barang yang dia bawa dari rumah nya
Yuna terduduk di sofa, mata nya menatap ke sekitar "Apa perlu aku tinggal disini.. menikmati segala sesuatu seolah tak pernah terjadi apa apa pada keluarga ku dulu? "
Yuna menghela nafas berat
Langit berubah menjadi gelap, terdengar suara mobil Egy memasuki garasi mewah itu
Yuna menata makanan di meja makan
langkah kaki itu terdengar begitu ringan memasuki rumah
Yuna menatap dari kejauhan, selama ini hidup nya begitu tenang dan bahagia sementara Yuna harus merasakan kesepian oleh tindakan dari pihak nya
Egy tersenyum, dia meletakan tas nya disofa lalu menghampiri Yuna
Egy tersandar di meja makan sambil menatap wajah kekasih nya.. begitu dekat
wajah nya menatap lekat pada Yuna, bahkan tak segan dia membelai pipi Yuna
"Ada sesuatu yang terjadi? "
Tanyanya
Namun Yuna tak bisa menjawab nya
hati nya begitu sakit, lidah nya seolah terkunci dan senyum nya seolah lenyap tertutup duka yang kembali menyeruak
"Ayo kita makan.. " jawab Yuna
__ADS_1
Egy memegang tangan nya "Kau bahkan tidak membalas pesan ku.. kau tidak mengangkat telpon ku... ada apa? "
Yuna terhenti namun masih belum bisa menjawab
sosok Egy terasa seperti malaikat berhati iblis.., Yuna mengingat dengan baik bagaimana dia menangisi kedua jasad orang tua nya.. tanpa tau kemana harus mencari
keadilan.. Egy memeluk Yuna
"Kenapa tidak menjawab?, kenapa diam saja? " bisik nya
"jangan terlalu di fikirkan.. konsentrasi saja dengan pekerjaan yang akan kau kerjakan"
hanya itu yang mampu terucap di bibir Yuna
Egy menatap nya
"Kau baik baik saja? "
Yuna mengangguk pelan, Egy lalu duduk di kursi itu dia mulai menyantap makanan nya
"Kau tau.. aku menyelesaikan beberapa pertemuan dengan klien hari ini"
ulas Egy
Yuna hanya diam saja dia sibuk menuangkan Air minum kedalam gelas Egy
"Dan semuanya berjalan lancar.. mereka tertarik bergabung dengan proyek yang akan ku kelola.. yang sempat tertunda"
"Oya.. kau hebat, sejak kapan kau mulai terjun mengelola bisnis keluarga mu? " tanya Yuna
Egy menghentikan suapan nya, dia nampak berfikir "Mmm... kira kira kurang lebih 5Tahunan yang lalu.. "
Yuna sedikit terperanjat dia menghitung waktu kejadian pahit itu...
Dan berarti, Saat itu Egy sudah ikut mengurusi bisnis keluarganya
"Lalu.. sebelum itu kau kemana? "
"Sejak masa kecilku.. tepat nya sejak ibu ku di usir dari rumah.. aku dipindahkan ke Singapore.. aku sekolah dan besar disana"
Egy nampak berusaha keras untuk mengingat nya, sementara Yuna hanya diam mendengarkannya
"Lalu setelah aku selesai kuliah aku dikirim pulang ke Jakarta.. saat itu aku mulai ikut mengurus perusahaan.. sekitar setahunan kemudian perusahaan ayahku mengalami beberapa krisis.. "
Yuna terperanjat, saat itu lah moment dimana keluarga kecil nya hancur...
"Tapi tidak lama.. terpaksa kami harus menjual beberapa anak cabang perusahaan dan mem PHK beberapa karyawan"
Yuna tertegun sementara Egy bercerita
"Namun itu tak berlangsung lama.. aku dapat menunjukan beberapa kemampuan ku untuk menstabilkan kembali kondisi perusahaan ayahku.. dan sejak saat itu aku mulai berfikir untuk merealisasikan bisnisku juga.. dan sekarang beberapa factory Outlet berhasil aku kelola dengan baik" Ucap Egy jumawa
__ADS_1
Namun Yuna tak bergeming sedikitpun, dia ingat betul sejumlah kecil uang yang dia Terima dari perusahaan itu atas kematian orang tua nya.. dan dia ingat betul bagaimana dia hanya bisa menghemat uang tersebut untuk kelangsungan hidup dia dan sang nenek...