
Sekarang malah menjadi serba salah.. sedetik dingin.. sedetik kemudian hangat, ada apa dengan kekasih nya itu?
sulit rasanya untuk menebak hati nya
namun..
Egy tak punya banyak waktu untuk memikirkan nya, terlalu banyak masalah yang menerpa nya, dan dia hanya ingin semua ini selesai..
Telpon dari Vania
"Hallo.. "
"Apa maksud mu dengan semua ini.. kenapa seluruh dana terhenti di tengah pengembangan proyek!! " suara nya begitu lantang maklum saja, yang di hasilkan di tempat itu ada lah merk dagang nya.. jadi dia sangat berambisi sekali
"Kita sudah sepakat untuk mengakhiri semua ini.. jadi sebaik nya mulai sekarang kamu mulai gigih mencari para investor.. tentu saja dengan kemampuan mu!
" ini tidak bisa diputuskan sepihak! "
"Ayah mu telah menyetujuinya! "
"Kapan ayah ku mengatakan padamu.. dia tidak pernah ikut campur dalam hal ini"
"Vania.. dengar kejadian ini membuat ayah mu menemuiku.. dan kami sepakat akan itu, karna aku menyerahkan proyek itu sepenuh nya"
"Kau tidak bisa begitu! "
"seharusnya kau gunakan kemampuan mu untuk melanjutkan proyek itu sendiri.. bukan hanya mendesak ku saja!.. selamat malam"
Egy menutup Telpon nya
setelah mengurus beberapa berkas dia mengadakan rapat dadakan dengan para investor nya.. untuk menunggu dan tidak menghentikan suntikan dana pembangunan proyek, sementara Egy berniat untuk mengurus beberapa kekeliruan itu
Esok pagi Egy memutuskan untuk kembali kerumah nya
Yuna tergesa gesa masuk kedalam mobil
dia menatap Egy, tak banyak kata yang terucap dari mulut Egy
Egy menutup beberapa berkas yang dipelajarinya sembari menunggu Yuna siap didalam mobil
"Kau sudah siap? "
"Ya.. "
"Oke.. "
Mobil melaju seketika
Kenapa dengan Egy, wajah nya begitu datar.. dan hanya nampak sedikit kegelisahan
Yuna merasa sedikit bersalah
semalaman dia berfikir, dia menghitung mundur di waktu dia SMA dulu..
jika usia antara Yuna dan Egy selisih 3 tahun.. berarti Saat itu Egy sedang kuliah.. dan menurut media sosial Egy kuliah di Singapore
dan.. jika di ulas kembali..
Dia belum terjun ke dunia bisnis keluarga nya
dan mungkin saja dia tak tahu dengan kejadian itu...
Yuna menghela nafas, tetap saja.. kedua orang tua nya menjadi korban atas keputusan keluarga Egy
__ADS_1
kenapa situasi nya harus begini...
Egy merapihkan beberapa berkas nya lalu dia keluar dari mobil setibanya dirumah
Dia melihat Yuna yang masih terlelap
"Yuna.. yuna.. bangun"
Yuna tersentak.. "Sudah sampai?? "
"Tolong bawakan teh chamomile ke kamar ku"
Egy beranjak
Yuna yang masih sedikit bingung itu hanya menatap kepergian Egy
Yuna terdiam, dia terduduk di meja makan
Dia termenung
kenapa dengan Egy.. dia bahkan sangat dingin, mungkin melebihi dingin nya Yuna pada Egy
Tanpa disadari Yuna melamun hingga larut, membuat Egy memutuskan untuk menemui Yuna di bawah
Egy terduduk di depan Yuna
"Astaga.. kau mengagetkan ku"
ucap Yuna
"Ada apa? "
"Apa? "
"Aku minta dibuatkan teh"
"Kau tidak tau? "
"Oh.. maaf"
Egy berdiri menghampiri Yuna, dia duduk di samping Yuna
"'Seharusnya aku lebih memperhatikan mu.. maaf, ada banyak yang harus ku perbaiki dengan bisnisku.. ini, menyangkut masa depan perusahaan ku"
Yuna hanya mengangguk pelan
"Maaf, pasti banyak waktu dan fikiran yang terkuras"
Egy membelai rambut Yuna " aku minta kamu bersabar.. aku akan menyelesaikannya, sekarang aku yang akan bertanya padamu"
Egy menghela nafas" Yuna... ada apa dengan mu!?.. Sebentar hangat.. sebentar dingin? "
Yuna tersentak, rupanya Egy merasa demikian..
"Aku akan menjelaskan keadaan ku seusai permasalahan mu selesai. . aku pasti akan membicarakan ini"
"Kenapa harus begitu? "
Yuna memeluk Egy "Aku sendiri tidak tau.. aku hanya ingin kau menyelesaikan nya satu persatu dengan baik"
Egy hanya diam terpaku
"Tidak mau memeluku?" tanya Yuna
__ADS_1
Egy terhenyak dia melingkarkan tangan nya "Tentu saja" ucap nya
"Kau butuh teh chamomile? " Yuna melepaskan pelukan itu
Egy menggeleng
dia menarik tangan Yuna
mereka beranjak ke sofa diruang tengah
Egy mendudukan Yuna di sofa itu
"Kau cukup diam saja" ucap Egy sambil meletakan kepala nya di pangkuan Yuna
"Ini membuat ku tenang, setelah aku tau semua orang sedang berusaha menjatuhkan aku.. tapi, aku tidak akan menyerah.. aku ingin memperbaiki bisnisku dan membahagiakan mu.. " Egy perlahan terlelap di pangkuan Yuna
Kata kata Egy selalu berhasil membuat hati Yuna yakin terhadap perasaan nya
sekejap rasanya Yuna juga ingin pikun seperti nenek
Rasanya tidak ingin terus menerus mengingat hal itu terus menerus
dan rasanya tidak adil jika harus membenci Egy, tapi.. kenapa harus keluarga Egy yang melakukan ini pada kedua orang tua nya
Malam kian larut, Yuna yang tersandar ikut terlelap di sofa..
Udara terasa dingin menerpa tubuh Yuna , dia membuka matanya perlahan
Ada aroma wangi masakan di pagi hari, dia menatap meja makan yang sudah siap dengan sarapan pagi
Terlihat Egy tersenyum sambil menata meja
Yuna terhenyak "Kamu.. "
"Sarapan pagi sudah siap" ucap Egy
Yuna beranjak, namun kaki nya terasa kaku.. mungkin karna Egy tidur dipangkuan Yuna semalaman
"Aduh... "
Egy menatap Yuna dari meja makan
"Kenapa? "
Egy menghampiri nya
"Kakiku.. kenapa terasa kaku?"
Egy menggendong Yuna seketika dan mendudukan nya di meja makan
Yuna yang terkejut hanya bisa tersipu, sikap Egy yang begitu membuat nya tersanjung
"Aku akan kerumah ayah hari ini.. "
"Tapi.. kakiku.. "
"Kau dirumah saja Yuna.. "
"Biasa nya kau minta aku temani.. "
"Hmm... tidak kali ini, ada yang Harus aku kerjakan sendiri.. kau dirumah saja" Egy menuangkan air putih ke gelas Yuna
"Oh.. biar aku saja" cegah Yuna
__ADS_1
"Tak apa apa.. sama saja, ayo sarapan"
... Kalo sudah begini, bagaimana dengan hati Yuna? Egy terlalu baik untuk di acuhkan.. dia benar benar menunggu Yuna dari kecil...