
Sempat terbersit dahulu itu untuk tidak menunggu, dia menganggap itu semua adalah ocehan anak kecil yang sering bertemu
maka dari itu mungkin dia menemui Rendi dan seiring waktu berlalu, Rendi pun seolah menunjukan kesalahan nya sendiri
dari situlah Yuna merasa sangat Enggan untuk menjalin sesuatu
namun, kali ini dia seolah di ingatkan kembali bahwa itu bukan sebuah ocehan anak kecil namun sebuah janji seorang laki laki yang harus di tepati
Egy terduduk tepat di samping Yuna di bangku taman halaman rumah nya
"Aku ingat..aku selalu menatap bintang di malam hari..."
Yuna menoleh "Semua orang memang suka menatap bintang"
"Tapi aku berharap..di lain tempat kamu sedang menatap nya juga .."
Yuna tertegun " aku hanya berusaha mengingatkan mu tentang Fania"
"Bukan kah kau begitu menyukai ku??" tanya Egy
"Apa??"
"aku hanya bertanya..kenapa wajah mu memerah??"Egy tersenyum
"Apa??" Yuna memeriksa kedua pipinya dengan telapak tangan nya
"Itu..bukan berarti aku mencintai mu..aku hanya mengagummimu..."
"Bagaimana jika aku memutuskan Fania?"
"Kau gila?? "
"amnesia itu hilang ingatan bukan??, lalu apa beda dengan gila??, sama sama hilang ingatan"
"Tetap saja kau gila..."
"tenang saja aku masih punya banyak waktu untuk mu"
Yuna yang tadi nya hendak berlalu tiba tiba terhenti disitu, dia menoleh
Egy tersenyum dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah nya
"Dua bulan...60 hari"dia tersenyum
Yuna menepak kening nya
baru kali ini dia menyesali permohonan nya
"Aku menyesal..."
Egy tersentak " menyesal??"
"Aku menyesal dengan pengajuan kontrak kerja ku" Yuna menatap Egy
Egy menghampiri Yuna
" Baik lah ...aku tidak memaksa , jika kamu memang tak mau bersamaku..tapi, aku tetap akan menyelesaikan pertunangan ku dengan Fania..."
Egy berlalu " Aaah...mungkin memang kita tidak berjodoh ..aku rasa begitu "
Egy sempat melirik pada Yuna dengan senyum usil nya tanpa diketahui Yuna yang tengah termenung
Pagi sangat cerah sekali, ini adalah hari minggu
__ADS_1
Egy bersiap untuk lari pagi, Yuna sibuk menyiapkan sarapan untuk pagi itu
Dia menuangkan segelas susu di meja makan
namun Egy hanya menghampiri dan meminum nya nyaris tanpa sepatah kata apapun, dan Yuna kembali ke meja dapur sama hal nya, dia juga tak bergeming
Egy berlalu pergi
Hal yang sama , juga dilakukan Egy sepulang nya dari olahraga pagi dia menikmati sarapan pagi tanpa sepatah kata pun bahkan wajah nya terlihat datar sekali
Yuna mulai menatap nya,
" Maaf, aku lupa membeli selai kacang nya"ucap Yuna
"Tidak apa apa" jawab Egy singkat tanpa menatap Yuna
Egy meneguk air putih nya " aku sudah selesai"
" Apa??" Yuna mulai merasa aneh
Yuna mengikuti nya "Apa hari ini kau akan keluar rumah??"
"Ya.."
"Kalau begitu..aku akan keluar rumah setelah mu..ada yang mesti aku kerjakan"
"Ok" Egy lenyap di depan pintu kamar nya
Yuna menggaruk kepala nya kebingungan
"Aneh sekali.. apa amnesia nya kembali??"
Gumam nya sambil berlalu
Egy sudah terlihat rapih dia memasuki mobil nya , dia menatap Yuna yang hendak pergi juga
Yuna berjalan keluar gerbang, dia menyadari Egy sudah berada di dalam mobil nya , berharap mendapatkan tumpangan sampai halte depan
Tapi mobil itu baru saja melewati nya ,dan berlalu begitu saja
"Whaaat??!"
Yuna setengah kesal dia tak habis fikir, dia sendiri yang bilang pria macam apa yang membiarkan seorang gadis berjalan sendiri
"Tapi dia baru saja melakukan nya.."
Egy menatap sang ayah, mereka kembali bertemu diruang kerja sang ayah
namun kali ini tanpa sang ibu tiri
"Kenapa kau ingin mengakhiri nya??"
Tanya sang ayah
"Aku tidak pernah mencintai Fania ayah.."
"Tapi, proyek perusahaan atas nama kalian berdua hampir selesai dibangun,...Dan kami sepakat jika kalian yang mengurus nya setelah menikah nanti"
"Entah kenapa aku lebih berminat mengembangkan perusahaan ayah yang aku tangani sejak dulu..bahkan aku hampir memperluas area nya"
"Kau telah mengingat semua nya??, mengapa tak kau kabari ibu mu.."
"Apa itu penting??"
__ADS_1
"Tentu saja itu penting baginya!!" nada sang ayah mulai meninggi
"Aku muak mengingat semua nya..aku harap aku punya kehidupan yang baru.."
"Dia sangat mengkhawatirkan mu...setiap hari dia menelponku hanya untuk membicarakan mu!!!" Sang ayah beranjak dari duduk nya
"Aku akan meenyelesaikan urusan ku dengan Fania ..dan aku akan mencari tau kenapa mobil yang aku kendarai mengalami rem blong!."
"Kau tidak boleh mencurigai ibu mu sendiri!!"
"Dia bukan ibu ku...kalian menyingkirkan ibuku!!"
"Kau tak bisa begitu!"
sang ayah menatap keras pada Egy
Egy berlalu tanpa memperdulikan Ayah nya
Semua nya menjadi kacau, setelah ingatan nya kembali, bersama an dengan pertemuan nya dengan Yuna
teman semasa kecil nya
Egy terduduk di sebuah kursi di cafe , hari mulai beranjak gelap
Fania datang dengan dress putih nya dia nampak anggun
"Ada apa??"Ucap nya dengan wajah sedikit kesal
"Maafkan atas kejadian malam tadi.."
"kau benar benar tidak sehat??..lantas apa sekarang kau sudah baikan??" tanya Fania masih dengan muka dingin
"Aku rasa begitu..aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada mu"
"Apa??"
"aku mengingat semua nya..pertunangan kita hanya sebuah rencana ...itu semua belum terjadi"ulas nya
Fania terperanjat "Apa??"
"Dan aku tidak ingin melanjutkannya"
"Tapi kenapa??"
"Kau tau alasan nya..jadi aku tidak harus menjawab nya.."
Fania menghela nafas berat
"Kau berencana. bertunangan dengan ku demi sebuah proyek perusahaan yang akan di bangun atas nama kita berdua..dan ibu tiri ku menghendaki cabang perusahaan yang aku tangani jatuh ke tangan kedua anaknya..."
Fania terbelalak
"Dan kalian berdua sama sama menghendaki aku mati..karna jika aku tiada , proyek perusahaan atas nama kita akan menjadi milikmu ...dan tentu saja , ke dua saudara tiri ku mendapatkan bagian juga. ."
Egy terdiam
"Ini tidak seperti yang kau ketahui..."
"Ini tidak seperti yang kalian inginkan bukan??"
Fania menggeleng, tiba tiba saja muka nya gelisah
"Aku akan mencari tau dan mempertahankan nya"
__ADS_1