
Pagi hari sehabis membersihkan tubuhnya, Reina pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan dirinya dan juga
atasannya itu. Dari arah kamar Zen keluar dengan pakaian tidurnya dengan rambut yang masih acak-acakan, ia berjalan menuju dapur melewati Reina yang berdiri menatapnya tanpa mengeluarkan suara. Zen menghentikan langkahnya di depan lemari pendingin dan membukanya, ia mengambil satu botol air mineral lalu meminumya sampai habis tak tersisa di dalam botol.
Setelah itu ia kembali lagi berjalan menuju kamarnya, di balik pintu Zen berdiri dengan menyenderkan badannya di sana.
“Arrrgghh sial, gue lupa kalau Reina semalem nginep disini” umpatnya seorang diri.
Reina yang berada di luar menatap pintu kamar Zen sembari menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat kelakuan bosnya. Ia kemudian melanjutkan lagi aktifitasnya menyiapkan sarapan, kali ini ia membuat nasi goreng dengan tambahan telur ceplok.
Zen membuka kenop pintu kamarnya dan berjalan keluar, terlihat ia sudah berganti pakaian dengan rambut yang
sudah tertata rapih. Reina sendiri sedang meletakkan nasi goreng yang baru saja di buatnya di atas meja saat Zen berjalan ke arahnya.
“Mas sarapan dulu”
Zen duduk di meja makan dan menatap nasi goreng yang sudah tersaji di atas meja seraya berkata “keliatannya
enak, udah lama juga aku nggak makan nasi goreng”
“Bukan cuma keliatan enak Mas, tapi emang bener-bener enak, siapa dulu donk yang bikin” Reina menyahuti
perkataan Zen dengan membanggakan dirinya sendiri.
Zen tersenyum tipis, sembari tangannya menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya, Ia menyantap makanan
sampai habis tak tersisa di atas piring.
“Kamu berangkat ke kampusnya bareng aku aja Rei”
“Hari ini aku nggak ada kelas, aku mau langsung ke kafe Mas”
__ADS_1
“Ya dah berarti bareng sama aku, Mas tunggu di bawah ya” Zen keluar dari apartemen, sedangkan Reina membersihkan piring kotor terlebih dahulu, setelah selesai ia langsung menyusul Zen ke parkiran apartemen.
***
Zen sudah berada di dalam mobil ketika Reina berjalan menghampiri mobil bosnya itu lalu masuk ke dalam dan
duduk di kursi depan samping Zen. Kemudian Zen melajukan kendaraannya menyusuri jalanan ibukota yang padat. Selama perjalanan menuju kafe, Reina sibuk memainkan ponselnya hingga saat Zen memanggil namanya pun tak diindahkan oleh gadis cantik itu. Zen tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan.
“Kok berhenti disini Mas?” tanya Reina yang heran.
Zen menoleh ke arah Reina dengan menunjukkan wajah cemberut “semalem belum puas teleponan sama kakak kamu itu, sekarang lanjut lagi, kita kan di mobil berdua tapi kenapa aku merasa kalau lagi sendirian?” Zen mengungkapkan keluhannya pada Reina yang membuat gadis cantik itu membulatkan mulutnya karena bingung.
“Aku nggak lagi chattingan sama Mas David, tapi sama Sarah, lagian emang kenapa kalau aku chattingan sama Mas David? Kok Mas Zen marah”
“Bukannya marah tapi apa ya...” Zen menjeda perkataannya, terlihat ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu
ia melanjutkan kembali “Aah pokoknya aku ngga seneng aja kalau di cuekin”
Saat Reina sampai di kafe ternyata Sarah sudah berada di sana, terlihat ia sedang berbincang dengan Nadia.
“Reina bareng lagi sama Mas Zen” bisik Sarah pada Nadia yang duduk di sampingnya.
“Jangan-jangan mereka udah pacaran” Sarah dan Nadia tertawa kompak ketika melihat Zen dan Reina berjalan
masuk ke dalam.
Reina yang merasa sedang diperhatikan langsung menghampiri dua gadis cantik yang sedang duduk itu.
“Kalian lagi ngomongin gue ya” Reina mendudukkan tubuhnya ikut berbaur dengan Sarah dan Nadia.
“Ayo kerja-kerja malah ngobrol lagi” celetuk Zen sambil berjalan menuju ruang kerjanya.
__ADS_1
“Kamu lagi Sar pagi-pagi udah disini aja” imbuh Zen lagi.
“Mas Zen lagi kenapa sih sensi gitu, lo apain Rei anak orang” celetuk Sarah saat Zen sudah masuk ke dalam ruang kerjanya.
Reina hanya diam tak merespon omongan Sarah, pandangan matanya tertuju pada ruang kerja bosnya, ia sendiri
merasa heran semenjak di mobil tadi Zen memang kelihatan sedang marah.
Zen duduk di kursi kerjanya seraya matanya sibuk menatap layar laptop, terdengar suara ketukan pintu dari
luar, Zen lalu mengalihkan perhatiannya menatap pintu untuk melihat siapa yang akan masuk ke ruang kerjanya.
Pintu terbuka, terlihat Reina mengayunkan kakinya masuk ke dalam, ia membawakan secangkir kopi untuk Zen. Reina berjalan mendekat ke arah meja kerja bosnya itu, lalu ia meletakkan gelas yang di bawanya di atas meja.
“Makasih Rei” ucap Zen tanpa melihat wajah pegawainya itu, matanya tetap fokus menatap layar laptop yang ada
di depannya.
“Iya Mas, kalau gitu saya permisi” Reina membalikkan badan hendak berjalan meninggalkan ruang kerja bosnya itu, namun ia menghentikkan langkahnya ketika Zen memanggil namanya.
Reina kembali membalikkan badannya saat ia sudah sampai di depan pintu “masih ada yang Mas Zen butuhin”
tanya Reina.
Zen hanya menatap wajah Reina tanpa mengeluarkan suara, tatapan tajam dari matanya itu membuat Reina bingung.
“Gue punya salah apa sih sama Mas Zen” gumam Reina dalam hati.
Zen berhenti menatap Reina saat telinganya mendengar suara Sarah yang memanggil nama Reina, kemudian bosnya itu menyuruh Reina keluar.
Selamat membaca 😘
__ADS_1