CINTAI AKU SELAMANYA

CINTAI AKU SELAMANYA
BAB 29


__ADS_3

Nadia kembali ke meja bar dengan senyuman yang terukir indah dari bibirnya, Sarah dan Daniel yang memang ada di sana merasa aneh dengan Nadia.


“Kamu kenapa Nad?” tanya Sarah dengan pandangan heran ketika melihat Nadia.


“Sini-sini aku kasih tahu” sahut gadis itu dengan suara pelan.


Nadia lalu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya, mendengar cerita gadis cantik itu, Sarah dan Daniel saling beradu pandang respon mereka malah biasa saja, membuat Nadia bingung.


“Kok kalian biasa saja, kayak nggak kaget gitu” keluhnya dengan kecewa ia berpikir bahwa apa yang ia lihat akan membuat semua orang terkejut, namun ini sebaliknya mereka malah biasa saja.


“Aku sudah tahu kalau mereka punya hubungan spesial, karena waktu di kampus aku lihat Mas Zen nyium Reina di


dalam mobil” tutur Sarah.


“Wah berarti cuma aku doang yang nggak tahu”


“Aku juga baru tahu” timpal Daniel yang memang baru di beri tahu oleh Sarah perihal hubungan Zen dan Reina.


Gadis yang menjadi bahan gosip oleh teman kerjanya itu datang menghampiri mereka, tatapan aneh mengarah lurus ke arah Reina membuat gadis itu menautkan kedua alisnya karena bingung, ia bahkan melihat dirinya dari lemari yang terbuat dari kaca yang ada di kafe, takut ada yang salah dengan apa yang ia kenakan sehingga tiga orang yang ada di hadapannya menatap lurus ke arahnya.


“Jadi aku sekarang harus manggil kamu Mba Reina” seloroh Daniel di sertai tawa dari Sarah dan juga Nadia.


“Apa-apaan sih Mas Daniel” Reina tahu apa maksud dari guyonan managernya itu, bibir lemes Sarah pasti sudah


memberitahu ke semua orang tentang hubungannya dengan Zen. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi jika Sarah adalah orang yang tidak bisa menyembunyikan rahasia. Kadang itu juga yang membuat Reina pusing dibuatnya.

__ADS_1


“Manggil kayak biasanya saja Niel” sergah Zen yang tiba-tiba muncul dari belakang.


Mendengar suara Zen, Reina menoleh ke arah laki-laki yang kini sudah menjadi kekaksihnya, Zen berdiri di samping Reina lalu mengulurkan tangannya memegang pundak kecil gadisnya itu.


“Kita pacaran, apa diantara kalian ada yang tidak setuju?” tanya Zen dengan tatapan tajam menatap ketiga orang yang berdiri dihadapannya.


Sarah dan Nadia menggeleng kompak di ikuti Daniel yang juga menggeleng, mereka ikut bahagia dengan status baru yang di sandang kedua orang yang ada di hadapan mereka. Setelah itu semua orang melanjutkan pekerjaanya masing-masing kecuali sarah, ia adalah pelanggan tetap kafe milik sepupunya itu, walaupun sering kali ia memesan minuman tapi tidak pernah mau membayar. Dari siang sampai malam kafe tidak pernah sepi, pelanggan datang silih berganti membuat kursi yang tertata rapih tidak pernah sepi untuk di duduki oleh pelanggan, dan rata-rata yang sering datang kebanyakan perempuan. Mas Zen dan Mas Daniel menjadi alasan bagi mereka untuk datang ke kafe, ketampanan dua orang itu memang tidak bisa di pungkiri, bagaikan magnet yang menarik siapa saja untuk terus datang ke Coffee Story.


\~\~\~


\~\~\~


“Hari ini kenapa berasa cape banget ya...”ucap Nadia, ia mengusap keringat yang bercucuran di sekitar pelipis matanya dengan tangan ketika kafe akan tutup karena sudah waktunya mereka pulang.


sudah di bungkus plastik besar siap untuk di buang ke tempat sampah yang ada di belakang kafe. Reina berjalan ke belakang dengan membawa sampah setelah membersihkan meja, ia kemudian membuang sampahnya ke wadah besar yang menjadi tempat pembuangan. Setelah membuang sampah, Reina kembali ke dalam dan


menghentikan langkahnya di depan wastafel untuk mencuci tangan.


Ceklek...


Pintu terbuka dari ruang ganti terlihat Nadia keluar dari sana dengan seragam yang sudah di ganti dengan pakaian


biasa bersiap untuk pulang.


“Duluan ya Rei” seru Nadia yang terlihat buru-buru berjalan keluar karena kekasihnya sudah menunggunya di luar.

__ADS_1


Reina merespon dengan anggukkan, matanya menatap Nadia yang berjalan sedikit berlari, Reina mengira bahwa


kekasih temannya yang bernama Rian pasti sudah menunggunya di luar. Setelah mencuci bersih tangannya, Reina berjalan masuk ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya. Ia keluar dari kamar ganti berjalan keluar, tapi saat melewati ruang kerja bosnya langkahnya terhenti dan memandang laki-laki yang masih duduk di ruangan itu.


“Mas Zen belum pulang?” tanya Reina.


“Aku kan nungguin kamu, kita pulang bareng” tutur Zen, ia kemudian beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Reina yang berdiri di ambang pintu.


Zen menggandeng tangan Reina lalu berjalan beriringan menuju parkiran, setelah masuk ke dalam mobil, Zen lalu


melajukan mobilnya melintasi jalanan malam yang cukup lengang.  Ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang bahkan bisa di bilang pelan, sepertinya laki-laki itu sengaja agar tidak cepat sampai ke kontrakan kekasihnya.


“Kamu bener pengen pindah kontrakan?” tanya Zen dengan mata yang tetap fokus menatap jalanan lurus yang ada di hadapannya.


“Jadi kalau aku sudah nemu tempat yang cocok” sahut Reina.


“Gimana kalau kamu pindah ke apartemen aku, masih ada kamar kosong disana” usul Zen yang membuat Reina langsung menoleh menatap kekasihnya itu.


“Tenang saja kamu nggak perlu bayar uang sewa” sambung Zen lagi.


Reina menyipitkan matanya, entah apa yang ada dipikiran gadis itu. Zen pun tertawa melihat ekspresi wajah Reina saat laki-laki tu menyuruhnya untuk tinggal bersama, wajah polos dan lugu itu membuat Reina semakin menggemaskan, pikir Zen yang sedang melirik ke arah gadis yang duduk di sampingnya.


“Apa kata orang nanti, kalau aku seatap dengan bosku sendiri”


Zen tersenyum “nggak usah peduli dengan pendapat orang lian” ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2