
Awalanya Zen membiarkan ponsel milik kekasihnya terus berdering, namun lama kelamaan, itu malah membuatnya
terganggu, dengan malas akhirnya Zen mengangkat telepon dari Alex.
“Halo” suara Zen dingin.
Alex menjauhkan ponselnya dari telinganya ketika mendengar suara laki-laki dari seberang telepon, ia menatap layar ponselnya untuk memastikan jika dirinya tidak salah menghubungi Reina. Dalam diam pria paruh baya itu berpikir “siapa laki-laki yang bersama keponakannya itu?”
Karena tidak ada suara yang menjawabnya akhirnya Zen mamatikan sambungan teleponnya secara sepihak, ia juga menghapus riwayat panggilan dari ponsel Reina, agar gadis itu tidak tahu jika baru saja Alex menghubungi dirinya.
Kemudian laki-laki itu turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar. Dilihtanya Reina tengah sibuk di dapur
membuat sarapan. Gadis bertubuh ramping itu terlihat seksi saat memakai apron warna pink, membuat kecantikannya bertambah, Zen terus memandangi Reina tanpa berkedip sembari berjalan menghampirinya.
“Mas Zen” Reina tersentak karena tiba-tia Zen melingkarkan tangannya ke perut kekasihnya. Laki-laki itu memeluk tubuh Reina dari belakang, dagunya ia sandarkan ke kepala gadis itu.
“Kamu lagi masak apa?”
“Makanan kesukaan kamu, nasi goreng” jawab Reina, ia lantas meminta Zen untuk melepaskan tangannya yang melingkar di perutnya karena ia tidak bisa bergerak bebas.
Zen tidak mengindahkan permintaan Reina, ia malah membalikkan tubuh kekasihnya menghadap dirinya, kini mereka saling memandang satu sama lain.
“Apa?” Reina mengerutkan kening saat Zen tiba-tiba mengedipkan sebelah matanya.
Zen tersenyum smirik, laki-laki itu kemudian memiringkan kepalanya dan langsung menyambar bibir kekasihnya,
tubuh Reina terdorong oleh tubuh kekar Zen membuat gadis itu mundur perlahan ke belakang hingga bagian pan.tatnya menyender ke meja dapur.
Deru napas Zen mulai memburu, kini bibirnya mulai turun ke bagian leher, laki-laki itu bahkan meninggalkan jejak merah kebiruan di leher jenjang kekasihnya, hingga membuat suara desa.han lolos dari bibir gadis itu. Jiwa kelelakian Zen semakin terpacu saat mendengar desa.han kekasihnya yang membuatnya ingin melakukan lebih dan lebih.
Zen kembali melu.mat bibir Reina sambil tangannya mulai menggerayangi setiap inchi tubuh kekasihnya, satu
tangannya ia masukkan ke sela-sela baju yang di pakai Reina dan menjulurkan tangannya ke bagian belakang melepas pengait yang menopang bagian dada gadis itu.
Reina terhenyak merasakan dadanya menggantung, napasnya mulai naik turun tidak karuan gadis itu menyadari jika setiap sentuhan lembut tangan Zen membuatnya menginginkan lebih. Saat tangan Zen mulai memegang bukit kembar miliknya, Reina mencium bau yang sangat menyengat, hidungnya mengendus-ngendus mencerna bau apa yang sedang ia hirup, seketika gadis itu membuka matanya.
“Bau gosong” teriaknya, asap mulai mengepul dari kompor. Reina spontan mendoromg tubuh Zen, membuat laki-laki itu mendengus kesal karena apa yang di lakukannya pada Reina baru setengah jalan.
__ADS_1
Reina bergegas mematikan kompor lalu mengambil penggorengan yang ada di atasnya, kemudian menaruh penggorengan tersebut di bawah guyuran air di tempat cucian piring.
Reina mengerucutkan bibirnya sambil menoleh ke arah Zen, gadis itu merasa kesal karena nasi goreng yang di
buatnya gosong.
“Ini semua salah mas Zen” dengusnya.
“Kok salah aku” sahut Zen yang tidak terima. “Aku juga kesal gara-gara bau gosong tadi, itunya nggak di lanjutin deh” Zen mengacak rambutnya frustasi.
“Itunya apa?” sambar Reina.
Zen tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang rapih sambil menggaruk tengkuk lehernya walau tidak gatal.
Laki-laki itu perlahan melangkah mendekati Reina yang berdiri di depan tempat cucian piring.
“Maafin aku deh, ini memang salah aku, tapi kamu juga menikmati kan” bisik Zen di telinga Reina membuat gadis itu begidik kegelian.
Wajah Reina bersemu merah, tidak dapat di pungkiri apa yang di katakan Zen memang benar, karena ia juga
menikmati sentuhan demi sentuhan jari jemari tangan Zen yang menggerayangi tubuhnya.
kitchen set bagian atas untuk sarapannya karena nasi goreng yang di buatnya gagal karena gosong.
Hanya beberapa langkah saja Reina sampai di meja makan di susul Zen di belakangnya, kemudian ia membuka
plastik dan mengambil dua lembar roti tawar lalu mengoleskannya dengan selai stroberi. Zen dengan patuh duduk sambil menunggu roti tawar yang sedang Reina oleskan selai untuknya.
“Ini mas” tutur Reina memberikan roti tawar yang ia taruh di atas piring, tidak lupa gadis itu juga membuatkan
secangkir kopi untuk Zen dan menyodorkannya di depan laki-laki itu.
“Rei, aku mau gabung di perusahaan ayah”
Reina yang sedang mengunyah roti langsung berhenti, ia menatap lekat wajah kekasihnya itu “kenapa tiba-tiba mas” tanyanya. Karena setahu Reina, laki-laki yang duduk di hadapannya itu selalu menolak permintaan ayahnya untuk bergabung dengan perusahaan.
“Ayah sudah tidak muda lagi, beliau juga butuh menikmati masa tuanya dengan bahagia tanpa harus berkutat
__ADS_1
dengan banyaknya dokumen. Mungkin ini memang sudah saatnya aku menggantikan ayah menjadi direktur perusahaan”
“Kalau itu memang sudah menjadi keputusan mas Zen, aku akan dukung seratus persen, lalu bagaimana dengan kafe?”
“Aku akan nyerahin kafe ke Daniel, biar dia yang mengurus semuanya”
“Tapi kenapa mendadak banget ya” batin Reina yang masih tidak percaya Zen akhirnya memenuhi permintaan Marlon.
\~\~\~
\~\~\~
Setelah selesai makan, Reina dan Zen langsung pergi ke kafe, kebetulan hari ini Reina tidak ada jadwal kuliah.
Dalam perjalanan menuju kafe mereka lebih banyak diam, entah apa yang sedang mereka pikirkan masing-masing, hanya sesakali Zen melirik ke arah Reina yang pandangannya terus mengarah keluar.
Setelah sampai di kafe, Zen dan Reina berjalan bersama masuk ke dalam, karena kafe juga belum buka, laki-laki
itu meminta karyawannya termasuk Reina berkumpul di ruang kerjanya. Zen lalu meminta karyawannya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
Banyak pertanyaan yang berkecamuk di benak Nadia dan juga Daniel, namun tidak dengan Reina karena ia tahu apa yang akan Zen bicarakan dengan karyawan yang lain.
Zen kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa, tepat di hadapan ketiga karyawannya. Ia menatap satu per satu wajah mereka sambil menyunggimgkan seulas senyum.
“Aku ngumpulin kalian di sini karena ada pengumuman penting yang harus di sampaikan” Zen berhenti sejenak
menjeda perkataanya lalu melanjutkannya kembali.
“Niel mulai hari ini aku serahin tanggung jawab kafe sama kamu”
Daniel tercengang, tidak ada angin tidak ada hujan bosnya malah menunjuk dirinya untuk mengelola kafe,
manager kafe itu terdiam dia seperti sedang mencerna kata-kata yang di lontarkan oleh bosnya itu.
Jangan lupa like dan komennya ya...
selamat membaca
__ADS_1
Terima kasih...