
Zen dan Yongki sampai di restoran yang di janjikan, setelah memarkirkan mobilnya, Zen turun dari mobil dan
berjalan menuju meja yang sudah di reservasi sebelumnya.
“Tuan Alex” sapa Zen saat sampai di meja tempat Alex menunggunya, Zen sengaja sedikit mengulur waktu membiarkan pria tua itu yang datang lebih dulu.
Alex berdiri dan mengulurkan tangannya dengan menyunggingkan senyum “Jadi kamu putranya pak Marlon?” hanya sekedar basa basi karena Alex sudah tahu sebelumnya.
Zen membalas uluran tangan seraya sedikit menundukkan kepalanya, ia meminta maaf karena pernah memukulnya saat menyelamatkan Reina, ia tidak menyangka bahwa hari ini bisa duduk bersama di satu meja.
Zen kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi menatap lurus ke arah Alex yang tak berhenti mengulas senyum di
bibirnya. Entah apa yang ada dipikiran Alex saat ini, orang yang dulu pernah memukulnya kini malah akan menjadi investor perusahaannya.
“Saya juga minta maaf atas kejadian saat itu, sebenarnya saya nggak ada niat untuk menculik Reina” ungkap pria paruh baya itu, Alex berharap Laki-laki yang duduk di hadapannya bisa melupakan kejadian itu. Ia tidak ingin gara-gara masalahnya dulu membuatnya kehilangan kontrak berjumlah milyaran.
“Saya mengerti pak Alex, karena anda juga tidak melukai Reina. Sebaiknya kita lupa kan masalah itu dan mari
kita kembali membicarakan masalah kerja sama kita” tutur Zen yang membuat Alex senang mendengarnya. Seandainya laki-laki di depannya tidak dekat dengan keponakannya, ia ingin memperkenalkan Zen dengan Vira putrinya. Seandainya Vira dan Zen berjodoh bukannya akan lebih baik, menurut Alex sendiri.
Namun ia ingat, saat Reina bertandang ke rumahnya gadis itu di jemput oleh Zen. Saat itu Vira juga tahu jika yang datang menjemput adalah pemilik kefe tempat kerja Reina yang tidak lain adalah Zen sendiri. Terbersit dalam benak Alex untuk menjodohkan Vira dan Zen, bukankah bagus jika putrinya saja yang dekat dengan Zen.
Yongki memberikan dokumen yang di bawanya pada Zen, kemudian laki-laki itu menyerahkan salinan dokumen tersebut pada Alex.
“Silakan pak Alex baca dulu rinciannya” tutur Zen sopan.
Alex membaca dokumen tersebut dengan teliti, namun ia lebih memfokuskan keuntungan yang akan di dapatkannya ketika kontrak kerja sama itu berhasil di tanda tangani.
“Pak Alex saya dengar dari ayah, kalau pak Alex akan menjual sebagian saham Warren Holding, apa itu benar?”
tanya Zen di sela-sela mereka sedang menandatangani dokumen.
“Aah, awalnya memang seperti itu, tapi...”
Alex terdiam tak melanjutkan perkataanya, karena pria tua itu tidak mungkin bisa menjual sebagian saham dari
__ADS_1
perusahaan tanpa tanda tangan Reina.
“Tapi kenapa pak Alex?” tanya Zen yang penasaran dengan perkataan Alex karena pria itu menjedanya.
“Saya belum bisa memastikannya, karena pemegang saham lainnya masih enggan untuk menjual sebagian saham mereka” Alex melanjutkan kembali, entah dapat jawaban dari mana pria tua itu.
“Sayang sekali” sahut Zen yang terlihat kecewa di wajahnya.
“Mas Zen pintar banget aktingnya” batin Yongki, laki-laki itu sampai merinding di buatnya.
“Apa pak Zen sudah punya kekasih?” tanya Alex, ia hanya ingin memastikan hubungannya dengan Reina hanya sekedar atasan dan bawahan atau lebih dari itu.
“Kenapa pak Alex tanya seperti itu?” dengan mengerutkan dahi Zen balik bertanya.
“Ah begini, saya mempunyai putri yang cantik, mungkin pak Zen bisa berkenalan denganya” sahut Alex dengan
terkekeh. Laki-laki itu sepertinya ingin putrinya dekat dengan Zen.
Zen tak menanggapi perkataan Alex, setelah selesai dengan kontrak kerja sama, ia berpamitan pada Alex untuk meninggalkan restoran karena masih punya pekerjaan lain yang harus di selesaikan.
Saat di dalam mobil Zen yang duduk di kursi belakang memandang dokumen kerja samanya dengan perusahaan Warren Holding, senyum seringai terlihat di kedua sudut bibirnya, ia berharap rencananya tidak akan gagal.
“Mas Yongki, kita mampir dulu ke kafe” pinta Zen pada asistennya itu.
“Baik mas”.
Yongki melajukan mobilnya menyusuri jalanan yang padat dengan kendaraan lain di sekitarnya, hanya terdengar suara klakson mobil saling bersautan di luar sana, Yongki melirik Zen yang duduk di kursi belakang, laki-laki itu terlihat tertidur pulas.
Setelah sampai di kafe, Yongki memarkirkan mobilnya dan terlihat Zen masih tertidur, ia berusaha membangunkan Zen, namun laki-laki itu tak bergeming. Akhirnya Yongki masuk lebih dulu ke dalam kafe dan meminta bantuan Reina untuk membangunkan Zen.
Zen yang masih tertidur pulas tidak menyadari di sampingnya ada Reina yang sedari tadi memandanginya seraya
tersenyum, sesekali Reina yang iseng memainkan telinga Zen hingga tangan laki-laki itu bergerak untuk menepis tangan yang memainkan daun telinganya.
Karena Zen masih tidak mau membuka matanya, Reina meniup pelan telinga Zen hingga membuat laki-laki itu
__ADS_1
menggelinjang karena ada sesuatu yang aneh bergejolak dalam tubuhnya. Zen perlahan membuka matanya dengan setengah sadar ia masih merasakan hembusan udara yang meniup di belakang telinganya.
Setelah kesadarannya penuh, Zen menarik tangan Reina hingga membuat tubuh gadis itu terjatuh di pangkuannya.
“Kamu udah ngebangunin macan yang lagi tidur” tutur Zen dengan menyeringai membuat Reina merinding di buatnya dadanya naik turun tidak karuan, sepertinya ia akan di makan habis oleh macan yang terbangun itu.
Zen menundukkan kepalanya dan langsung melahap habis bibir Reina, mereka saling bertukar saliva, namun belum puas Zen bermain dengan bibir kekasihnya, ia di kejutkan dengan suara ketukan dari luar jendela mobilnya.
Zen melepaskan pangutannya dengan wajah kesal ia menurunkan kaca jendela mobil, di lihatnya Sarah berdiri di luar.
“kalian lagi ngapain?” tanya Sarah polos, ia mengangkat sebelah alisnya saat melihat Reina berbaring di atas
pangkuan Zen.
“Rei, bibir kamu kok bengkak” celetuk Sarah yang membuat Zen dan Reina salah tingkah. Gadis itu kemudian
bangun dan duduk di samping Zen.
Reina kemudian turun dari mobil diikuti Zen di belakangnya kemudian mereka berjalan masuk ke dalam kafe. Di
sana Yongki tengah asyik duduk sambil menikmati es kopi yang di pesannya.
“Mas Zen kelihatan beda kalau pakai jas kayak gitu” seloroh Nadia yeng terpesona dengan bosnya yang terlihat
berkharisma.
“Kelihatan tambah ganteng ya Nad” timpal Sarah. Nadia mengangguk menyetujui pendapat Sarah.
"Pacar siapa dulu dong" sahut Reina bangga. Zen melemparkan ciuman jarak jauh pada Reina, membuat orang yang berkumpul di sana hanya geleng-geleg kepala melihat dua sejoli itu
Cukup lama Zen dan Yongki berada di kafe, sampai akhirnya mereka pamit untuk kembali ke kantor. Sebelum pergi
tak lupa Zen mennggalkan jejak kecupan di pipi kekasihnya membuat Sarah dan yang lainnya bersorak menggoda keduanya.
Sampai di kantor, Zen langsung mengamati dokumen kerja sama antar Warren Holding dan Dave Corporation.
__ADS_1
Selamat Alex kamu udah masuk perangkap” gumam Zen.